Apa yang Sebenarnya Terjadi di Oscars 2017? Penjelasan Lengkap Insiden Salah Pemenang Best Picture Academy Awards

Estimasi waktu baca: 10 menit

Merilis tulisan berisi penjelasan panjang lebar tentang apa yang sebenarnya terjadi atas suatu kejadian “luar biasa” harus di saat yang tepat.

Boleh saja media-media daring maupun para netizen berlomba-lomba untuk update berkaitan dengan insiden Best Picture Oscars 2017 yang bikin gempar kemarin, tapi apakah ada yang bisa menjamin informasi yang diterima tidak sepotong-sepotong?

Gambaran mudahnya begini: akan ada “konsumen informasi” yang cuma mengikuti arus kabar ini dari pukul 12:10 WIB hingga beberapa menit berikutnya (di mana arus informasinya sangat deras tapi akurasinya sangat dipertanyakan karena masih tercampur emosi yang berujung pada bermunculannya teori-teori konspirasi); ada juga yang mengikuti dari pukul 14:00 WIB setelah ada beberapa klarifikasi; atau ada yang baru mengikuti setelah pukul 17:00 WIB ketika “pencerahan” tentang apa yang terjadi sudah cukup terang.

Pola konsumsi informasi tersekat waktu semacam itu berpotensi menimbulkan pemahaman yang sepotong-sepotong, tidak utuh. Diperparah pula, tidak banyak media yang mau membuat satu laporan kronologis dan lebih memilih untuk mengunggah kabar baru tiap ada informasi tambahan.

Sejak insiden terjadi, saya menahan diri untuk tidak terpancing ikut cepat-cepat mengunggah pembahasan tentang kejadian ini. Apalagi di timeline media sosial, saya lihat sendiri banyak orang masih mencampuradukkan urusan fakta dan emosional (kebingungan maupun rasa tidak terima karena La La Land batal menang). Sampai tadi malam, saya kira sudah ada beberapa media yang mencoba melakukan coverage (seperti The Guardian), tapi saya memutuskan untuk tidak membacanya dulu supaya tulisan ini benar-benar terbebas dari pengaruh publikasi lain.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dan apakah ada pihak yang benar-benar bisa disalahkan di sini? Coba kita dedah satu-satu.

Kronologi ini bermula ketika hajatan malam puncak Academy Awards alias Oscars 2017 sudah nyaris sampai di penghujung. Tinggal satu kategori yang belum diumumkan: Best Picture. Mari pahami dulu, Best Picture pada hakikatnya adalah untuk para produser. Layaknya kategori-kategori spesifik lainnya: Best Actor untuk aktor, Achievement in Cinematography untuk sinematografer, dan sebagainya. Namun, pada praktiknya di tahun-tahun yang telah berjalan, seolah penghargaan ini kemudian menjadi penghargaan kolektif. Penghargaan utama yang dirayakan oleh semua: baik kru, cast, hingga para penonton di seluruh dunia.

Di awal, pengumuman kategori terakhir ini nampak lancar tanpa kendala. Pasca slide sembilan nomine ditampilkan, Faye Dunaway dan Warren Beatty sebagai presenter bersiap membuka amplop merah. Mulailah kebingungan itu nampak: setelah membuka amplop, keduanya menunjukkan gestur kebingungan yang cukup kentara sehingga mereka pun cukup lama mengucapkan nama pemenang (nampak seperti saling ping-pong). Meski diselimuti keragu-raguan, mereka nekat berucap: La La Land.

Penonton di studio bersorak, bertepuk tangan dan memberi standing ovation, para penonton dan media di seluruh dunia baik yang menonton lewat tayangan siar maupun lewat timeline ikut bersuka-ria. Twitter resmi The Academy langsung di-update, narator di Dolby Theater langsung berkumandang. Produser, sutradara, segenap kru dan cast La La Land langsung naik ke atas panggung. Satu per satu orang “vital”-nya mengejawantahkan pidato kemenangan.

Namun, di tengah-tengah pidato, produser Oscars ikut masuk ke kerumunan La La Land sambil membawa amplop merah yang lain. Setelah cukup “awkward” di background, salah satu produser La La Land, Jordan Horowitz, menyergah maju dan secara tegas mengucapkan di depan mic bahwa kemenangan mereka adalah kesalahan, Moonlight-lah pemenang sebenarnya, ini bukan gimmick–sambil menunjukkan kertas yang bertuliskan Moonlight dan nama-nama produsernya.

Semua orang kaget. Semua.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Semula, saya ikut kaget dan bingung. Bahkan sempat terpikir apakah pemenang Best Picture tahun ini tie? Sebab, dengan situasi seperti ini, saya benar-benar tidak masalah kalau pemenangnya tie. Toh, sebelumnya juga pernah ada pemenang tie–terakhir untuk Skyfall dan Zero Dark Thirty kategori Sound Editing Oscars 2013. Ternyata tidak.

Horowitz pun dengan heroik nan lapang dada berucap bahwa meskipun dia akan senang kalau La La Land menang, dia lebih bangga kalau piala Oscars digenggam oleh pemenang sebenarnya, Moonlight. Ini bukan cuma simpati seorang pemenang yang ingin merangkul saingan kontestan tersengitnya–seperti Adele yang “membagi” kemenangannya dengan Beyonce di Grammy 2017 lalu. La La Land sadar dan mengakui kalau kemenangannya keliru.

Setelah itu Moonlight (Barry Jenkins, dkk) naik ke panggung dengan tidak percaya, memberikan pidato mendadak, dan Oscars 2017 ditutup dengan banyak tanda tanya yang belum terjawab.

Dunia internet pun mendadak ramai, teori konspirasi bertebaran, meme merangsek sana-sini, sayangnya keramaian itu muncul karena faktor emosional sesaat (karena mungkin tidak terima jagoannya, La La Land, batal menang) dan karena mayoritas tidak paham dengan mekanisme Oscars.

Teori yang sempat muncul #1: Scripted?

Saya sempat melihat cuitan ini muncul di timeline saya. Menyebut bahwa insiden tersebut sudah direncanakan. Secara tegas, sejak awal saya menjawab: belum tentu. Kenapa belum tentu? Ada dua faktor.

Pertama: Nama pemenang Oscars–sampai akhirnya nanti dibacakan oleh presenter–HANYA diketahui oleh dua orang. Dua orang itu adalah perwakilan resmi dari akuntan yang ditunjuk oleh The Academy, tahun ini masih memakai PwC. Saking rahasianya perhitungan tabulasi dan hasilnya ini–dan termasuk dalam kode etik akuntan–bahkan produser Oscars maupun penggedhe-penggedhe-nya pun tidak ada yang tahu/boleh tahu siapa yang bakal menang, siapa yang berada di posisi runner-up, dan sebagainya.

Dengan kondisi “buta” ini, menyusun skenario mustahil dilakukan.

Kedua: Host tahun ini adalah Jimmy Kimmel. Dia adalah komedian. Kalau mau berpikiran jahat, kita bisa berasumsi: meskipun Jimmy tidak tahu siapa yang menang, mungkin saja dia sudah berpesan pada kedua presenter supaya siapa pun nama yang tertulis, bilang saja yang menang La La Land. Skenario ini nampak mungkin terjadi, apalagi kalau dia mau “menyindir” insiden Steve Harvey di Miss Universe silam, pun guna menciptakan gong seru-seruannya. Namun, asumsi ini pun tidak terbukti. Clear: this is not a part of the jokes!

Dengan dua kemungkinan di atas yang bisa dengan mudah dibantah, kini arahnya cuma satu: terjadi kesalahan prosedur.

Teori yang sempat muncul #2: Leonardo DiCaprio?

Saking derasnya teori konspirasi yang mucul di media sosial, sampai-sampai banyak yang mencoba menghubung-hubungkan dengan momen sebelumnya. Tak lain adalah kemenangan Emma Stone (La La Land) sebagai aktris terbaik. Presenter di kategori ini adalah pemenang Best Actor tahun sebelumnya, Leonardo DiCaprio. Netizen melihat bahwa ketika Emma mengucapkan pidato kemenangannya, Leo-lah yang membawa amplop Emma. Karena itulah, foto Leo membawa amplop Emma langsung tersebar luas dan banyak netizen yang menyalahkan Leo atas insiden yang terjadi—disebut-sebut bahwa setelah itu Leo menaruh amplop Emma sehingga malah diambil oleh presenter selanjutnya.

Ada apa dengan amplop Emma? Jadi, setelah La La Land sadar bahwa kemenangannya adalah kesalahan, Warren sebagai salah satu presenter langsung maju lagi dan memberikan klarifikasi di depan mic. Dia menyebut bahwa ketika bersama Faye membuka amplop, mereka bingung karena yang tertulis di situ adalah Emma Stone. Sayangnya mereka tidak melakukan interupsi “salah amplop” dan tetap menyebut La La Land yang juga tertulis di kertasnya–kebetulan La La Land juga banyak diprediksi bakal membawa pulang kategori Best Picture. Ucapan bahwa La La Land sebagai pemenang tentu tidak menimbulkan pertanyaan, wajar. Naas, pemenang sebenarnya bukan La La Land.

Nah, kembali lagi ke Leo, dia dituduh bertanggung jawab atas insiden itu. Saya katakan teori konspirasi ini: salah besar.

Faktanya

Fakta pertama, dan yang paling jelas adalah: La La Land tidak pernah menjadi pemenang sebenarnya di Best Picture Oscars 2017.

Fakta ini mematahkan banyak ujaran “tidak terima” yang dilontarkan oleh netizen. Mereka menyebut bahwa La La Land semestinya yang jadi pemenang, bukan Moonlight. Padahal, Jordan Horowitz, produser La La Land, sudah jelas-jelas menunjukkan kertas yang bertuliskan Moonlight sebagai pemenang Best Picture.

Fakta kedua: MEMANG terdapat DUA cetakan amplop untuk masing-masing kategori. Artinya ada dua set amplop di setiap malam puncak Academy Awards. Dua set itu dibawa oleh dua akuntan PwC. Masing-masing akuntan membawa satu set di dalam tas yang terkunci. Dua akuntan ini ketika di malam penghargaan: satu berada di kanan panggung, satu berada di kiri panggung. Mereka LANGSUNG yang memberikan amplop kepada presenter secara bergantian, tanpa perantara. Kenapa begitu? Biar kalau terjadi apa-apa di salah satu pihak, masih ada backup-nya. Apakah saya asal ngomong untuk bagian ini? Tidak, data ini saya peroleh langsung dari artikel rilisan The Academy tentang kisah para akuntan pilihan tersebut.

Fakta ketiga: Emma Stone sudah membantah isu yang menyebut bahwa amplopnya kembali ke atas panggung. Dalam konferensi pers pasca acara, dia meyakinkan kembali bahwa setelah kemenangannya, amplopnya selalu dia genggam. Tidak ke mana-mana.

Dari ketiga fakta tersebut, kita bisa menarik kesimpulan prematur: kesalahan prosedur terjadi ketika akuntan PwC salah memberikan amplop kepada presenter terakhir.

Dugaan saya (berdasarkan fakta), amplop Best Actress diberikan oleh akuntan A, sedangkan amplop Best Picture diberikan oleh akuntan B. Masalah terjadi ketika Best Actress sudah selesai dianugerahkan, akuntan B lupa menyingkirkan amplop cadangan Best Actress-nya. Naas, dia terlanjur memberikan amplop yang berada di tumpukan paling atas (yang ternyata adalah amplop Best Actress) kepada presenter Best Picture.

Kerancuan ini bisa kita lihat bersama di tweet yang dicuitkan oleh sutradara Moonlight, Barry Jenkins. Di situ nampak jelas bahwa amplopnya bertuliskan Best Actress, sedangkan kertas di bawahnya bertuliskan Best Picture.

Sebagai tambahan penjelasan, di sini saya tegaskan bahwa PwC tidak melakukan kesalahan pengisian amplop. Kalau kita lihat lagi secara seksama ketika terjadi insiden di atas panggung, ada dua amplop merah di situ. Satu Best Actress yang di dalamnya berisi nama Emma Stone untuk film La La Land. Satu lagi adalah amplop Best Picture berisi Moonlight yang dibawa langsung oleh produser Oscars yang langsung naik ke atas panggung. Karena situasi yang kurang kondusif, Barry akhirnya malah menerima amplop yang Best Actress dan isi yang Best Picture. Paragraf ini kembali memperjelas fakta bahwa memang terjadi kesalahan pemberian amplop kepada presenter.

Dan pada Senin sore, pihak akuntan PwC pun mengakui kesalahan yang mereka lakukan. Dan mereka sedang melakukan investigasi lanjutan kenapa bisa terjadi salah pemberian amplop.

Siapa yang dirugikan?

Saya sempat dibuat kesal oleh tindakan asal tuduh tanpa dasar (cuma berbekal asumsi dan balutan emosi) yang dilontarkan oleh para netizen di dunia maya. Banyak ujaran sok tahu yang keluar tanpa mereka tahu sebenarnya bagaimana, sih, mekanisme malam puncak Oscars. Banyak yang tidak tahu tentang mekanisme dua set amplop, tidak tahu mekanisme “pemindah tanganan” amplop, dan sebagainya. Saya harap, tulisan ini bisa memberikan penjelasan yang lengkap dan komprehensif.

Dari banyaknya ujaran yang menyebut bahwa ada banyak pihak yang dirugikan karena insiden ini, saya pun berpikir lagi, apa iya mereka dirugikan?

Buat La La Land. Saya kira industri Hollywood sudah sangat dewasa. Mereka melihat awards adalah bonus rekognisi. Mereka juga sudah berjuang keras lewat kampanye-kampanyenya. Dan ketika ada yang lebih berhak menang, mereka tidak malu mengakuinya. Toh, dalam insiden ini pun yang mengakui adanya kesalahan adalah produsernya langsung, Jordan Horowitz. Mungkin istilah yang tepat bukan dipermalukan, sebab mereka jelas kaget (sama seperti audiens di sana dan juga kita sebagai penonton) tapi mereka mampu mengakui adanya kesalahan itu secara elegan. La La Land justru sangat hebat dengan attitude-nya ini (kata attitude bahkan sudah saya sebut duluan sejak di pembuka review La La Land silam, dan ternyata terbukti bahwa film ini beserta para penggawanya memang punya nilai tersebut). Bahkan penonton di Dolby Theater tidak ada yang menyoraki hal ini (malah kembali standing ovation, meski lupa tidak diiringi musik dan narasi, mungkin karena tidak siap dengan situasi yang di luar kendali). Alih-alih bikin malu, insiden ini malah menunjukkan salah satu tindakan paling berani yang pernah ada dalam sejarah Oscars dan Hollywood, heroik, besar hati.

Toh, di after party pun kru serta cast La La Land dan Moonlight sangat hangat interaksinya. Bahkan saling puji.

Buat Moonlight, insiden ini tentu tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya bakalan terjadi. Dengan situasi yang tidak kondusif, cara mereka meng-handle situasi termasuk wajar. Dan apakah Moonlight dirugikan? Saya kira tidak. Ini adalah ajang penghargaan dunia seni, apa pun bisa terjadi. Oh, satu lagi: apakah memang Moonlight layak menang? Saya katakan: ya.

Dalam sejarah Oscars, dan formula yang saya pegang, film bisa menang Best Picture minimal harus menang Naskah Terbaik/Sutradara Terbaik atau keduanya (formula tidak tertulis). Moonlight menang Naskah Adaptasi Terbaik (La La Land menang Sutradara Terbaik, Manchester by the Sea menang Naskah Asli Terbaik). Kemenangan di kategori awal ini semacam golden ticket, tinggal dikukuhkan siapa yang lebih layak. Dan ternyata Moonlight-lah yang dipilih oleh Preferential Vote pasca kampanye sekian pekan. Meski banyak penonton awam yang kaget, tapi secara pakem, kemenangan Moonlight ini sudah terlihat, wajar, dan memenuhi syarat.

Bagi Jimmy Kimmel, kesalahan di akhir ini jelas juga di luar rencana terliarnya sekali pun. Apakah dia dirugikan? Saya kira juga tidak. Dia bisa menjadi host Oscars 2017 dengan sangat baik, bahkan saya menyebut bahwa Oscars 2017 adalah salah satu yang terbaik, fluid. Dia bisa mengendalikan situasi sekacau apa pun tetap dengan cara khasnya sehingga tidak jadi terlalu janggal. Kemampuannya menjaga atmosfer penyelenggaraan menempatkan posisinya in a whole new level.

Namun, bisa jadi yang kemudian cukup punya pekerjaan rumah adalah PwC, The Academy, serta Faye dan Warren. Sebagai presenter, Warren dan Faye sebenarnya tidak ada hutang apa pun, justru mereka jadi punya pengalaman buat ke depannya. Bahwa kalau semisal memang ada yang janggal, interupsi di tengah jalan (misal: “Loh, salah amplop, nih'” dan semacamnya) tidak apa-apa. Adele pun di Grammy 2017 melakukan tindakan serupa (pasca insiden “suara mengganggu” di tahun sebelumnya) supaya performanya bisa maksimal. Citra mereka akan tetap baik di mata orang-orang (industri maupun awam), apalagi klarifikasi yang dilakukan oleh Warren sangat jelas dan bisa dimaklumi.

Sedangkan untuk The Academy dan PwC, semoga investigasi lanjutannya bisa memperoleh rekomendasi yang bisa meningkatkan kontrol prosedur di masa mendatang. Mungkin bisa melakukan protokol pengecekan berulang sebelum presenter naik ke panggung–dengan kontrol penyerahan amplop tetap di tangan akuntan. Apalagi dengan jalannya Oscars yang lebih dari empat jam, atmosfer tekanan “beban berat” serta rasa kecapekan itu pasti nyata adanya.

Tambahan lagi, saya tidak sepakat ketika insiden ini disamakan dengan insiden Steve Harvey. Meskipun Jimmy Kimmel pun sempat berseloroh membawa-bawa nama Steve. Kasus Oscars berbeda (beranjak dari alur yang sudah saya dedahkan di atas), mekanismenya lebih ketat daripada Miss Universe. Sehingga pembandingnya sungguh tidak sepadan.

Saya juga tidak sepakat dengan sebutan insiden “salah ucap”, sebab Warren dan Faye TIDAK melakukan salah ucap dari pembacaan mereka. Di kartu memang tertulis La La Land (yang di atasnya ada nama Emma Stone). Bukan “salah ucap” tapi cukup “terjadi kesalahan”–seperti yang diujarkan oleh Jordan Horowitz.

Terlepas dari insiden yang bakal terus diingat ini, keseluruhan perhelatan puncak Oscars 2017 sangatlah menyenangkan. Saya puas dan tidak sabar untuk menantikan penyelenggaraan selanjutnya!

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 539 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Footlight Movement

    Saya juga kemaren nonton Live,udah kegirangan lihat La La Land Menang,eh eh ternyata ada kesalahan dan Jordan bilang “Moonlight,you guys wins Best Picture this is not a Joke” saya kebingungan “apa-apaan?”.tapi Moonlight luar biasa,Film Indie bisa memenangkan Best Pictures.

    Reply

    • a thought by aef anas

      Oscars tahun ini sangat menarik karena bisa dibilang film-film indie sangat banyak yang berhasil merangsek masuk. Apalagi substansi film-filmnya juga beragam.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required