Review Film Indonesia | “Rafathar (2017)” Terserah

Estimasi waktu baca: 3 menit

Film Rafathar tidak peduli penonton. Tidak peduli konvensi logika narasi. Tidak peduli tanggung jawab modal. Bahkan tidak peduli pada Rafathar.

Buah cinta Umbara Brothers bersama PH milik Raffi-Gigi ini berkisah tentang seorang bayi hasil rekayasa yang diselundupkan oleh profesornya sendiri supaya tidak jatuh ke tangan sang “pemesan”. Si profesor menaruh paket bayi yang dibalut dengan selimut berlabel Rafathar itu di depan pintu rumah sepasang suami-istri yang tidak punya anak—si istri merupakan aktris Malaysia yang meniti karier sinetron di Indonesia. Karena pada dasarnya bermental seleb, suami-istri itu pakai bikin acara press conference perihal adopsi Rafathar. Dengan skema waktu yang begitu kilat, narasi mendadak langsung mempertemukan mereka dengan komplotan penjahat yang berusaha menculik Rafathar. Perjalanan tidak berjalan mulus, ternyata Rafathar adalah bayi berkekuatan besi berani.

Di realitas parenting, apakah kamu juga sadar tentang fenomena orang tua yang begitu tergila-gila ingin menunjukkan prestise tapi berkedok anaknya?

Fenomena ini bukanlah hal mutakhir, sudah ada sejak dulu. Namun, memang kondisinya semakin menggila pasca periode “barang tersier” bergeser jadi “barang primer”—seperti sekarang ini. Ambil contoh: orang tua gencar mengikutkan puterinya ke lomba kecantikan a la princess dan bisa sampai marah-marah kalau performanya buruk; atau, sungguh bangga ketika si anak menang lomba mewarnai, padahal jurinya sudah disogok duluan. Apakah kebutuhan anak yang diprioritaskan? Jelas tidak.

Film ini tidak jauh beda. Dari yang saya tangkap selama menyaksikan durasi film bergulir, Rafathar murni merupakan obsesi tak masuk akal dari orang tuanya. Dengan popularitas di genggaman, mereka berusaha pamer “di level baru”: bahwa keluarganya memang tiada banding—lewat keniatan sampai membuatkan bayinya film bioskop.

Naas, pada akhirnya hasillah yang berteriak paling kencang: film ini seumpama buah yang masih pentil dan dipetik paksa—bahkan belum sempat jadi buah mentah maupun buah setengah matang.

Menengok paragraf pertama, ada empat poin besar yang membuat Rafathar tidak terselamatkan.

Pertama, film ini tidak peduli dengan penonton.

Lebih parahnya lagi, seolah penonton tidak lebih dari objek suapan. Materi promosi yang ada memposisikan film ini sebagai film konsumsi semua umur (SU atau G), film keluarga. Padahal, LSF saja melabelinya sebagai 13+. Bercermin via kondisi di lapangan, coba hitung berapa banyak guyonan dan aksi mesum nan seksis yang ditabur? Berapa banyak visual sadistis pun adegan kekerasan yang mondar-mandir? Di luar halusinasi target audiens, kealphaan itu masih dibonusi guyuran bar-bar: penempatan pesan sponsor secara frontal, banyak, dan ukurannya raksasa hingga menusuk tepat di jangkauan pandang mata penonton—ini berkaitan dengan poin berikutnya.

Poin kedua, lupakan logika narasi dan pritilannya, utamakan suara pemberi dana.

Kita umum tahu bahwa penciptaan narasi biasanya dikawal oleh perubahan yang dilalui oleh karakter-karakternya. Konvensi itu tidak berlaku di film Rafathar. Impresi pasca menonton justru menghasilkan spekulasi pra-produksi; jangan-jangan bunyi diskusinya begini: jadi kita punya durasi film sepanjang ini, nih; nah, sekarang lakukan plotting sponsor secara teratur; baru habis itu kita buat narasinya yang bisa menghubungkan mereka.

Bisa bayangkan apa yang terjadi?

Jangan heran kalau di situ kamu muak mendapati ujaran repetitif, adegan sok komikal yang diulur-ulur porsinya, seting yang diada-adakan, celetukan mencoba kritis yang “yaudah”, rangkaian drama teringat masa lalu bersimbah tangisan yang melibatkan aktivitas serta karakter “imajiner” (karena tiba-tiba muncul tanpa ada kejelasan fondasi), dan masih ada begitu banyak kesia-siaan lainnya. Rasanya tidak berlebihan menyebut: placement sponsor menjadi pilar narasi film ini.

Dengan modal yang pasti sangat besar, nyatanya tidak sebanding dengan produk yang disajikan, ini adalah poin ketiga.

Di luar sana (konteksnya adalah industri perfilman nasional), masih berceceran sangat banyak filmmaker potensial yang bahkan modal berkarya pun kering. Sedangkan di sini hadir ironi di mana ada entitas “ber-hak khusus” sebab popularitasnya gigantis sehingga mampu mengantongi modal lebih dari cukup, tetapi seolah tidak peduli dengan tanggung jawab atasnya. Film Rafathar gagal mencapai urgensi, tidak bisa memenuhi standar isi, bahkan kalau ditujukan sebagai murni hiburan pun paket lengkapnya tampak dieksekusi setengah hati. Muspro.

Pada akhirnya, di poin keempat, saya sampai berani bilang bahwa Rafathar pun pasti kelak bakal malu kalau menengok film ini.

Ini bukan film tentang dia.

Dia hanya diposisikan sebagai objek eksploitasi hasil khayalan orang tua dan tim produksinya tanpa diberikan “selimut naskah” yang layak. Saya sampai kesulitan untuk mencari istilah yang tepat guna menggambarkan paruh terakhir durasinya (plus konklusinya yang sekenanya). Kata absurd atau cringey maupun facepalm bahkan belum mampu mencapai level representatif.

Rafathar memperoleh 0 dari 5 bintang.

Film Rafathar (2017) telah ditonton pada 10 Agustus 2017, review resmi ditulis pada 11 Agustus 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 8,068 times, 33 visits today)

Artikel lainnya

Comments

  • a thought by anonymous

    lu kalo dikasih kado sama ortu bakalan seneng&bangga ga? atau lu gapernah dikasih kado kali ya sama ortu. gue yakin gedenya nanti rafathar bangga dan gaakan malu. elu aja kali yg bakalan malu kelak kalo waktu kecil ortu lu bikin film pemerannya lu, wahai aef anas sang pengkritik film terhandal se-indonesia.

    Reply

    • a thought by aef anas

      Hi, kok anonim sih? Emailnya bukan email valid juga, kalau mau saya kontak kan jadi nggak bisa. Tapi saya menghargai preferensi pribadimu kalau misal dirimu memang suka dengan filmnya. Kalau dikado dengan sesuatu yang justru bikin saya jadi objek dan tidak dimanusiakan sih mending saya tolak, dong. Btw, semoga dirimu komentar ini dalam kondisi sudah nonton filmnya, ya. Have a nice day.

      Reply

  • a thought by Januar Ramadhan

    Jujur saya sebenarnya skeptis dengan penilaian anda, tetapi setelah saya nonton filmnya, saya harus mengakui tidak bisa nonton sampai habis. Saya harus keluar dari bioskop karena nggak tahan ngeliat Rafathar, saya punya waktu yang hisa dihabiskan dengan melakukan hal yang lebih penting.

    Jadi saya ganti nonton film Anabelle tengah-tengah, wahahaha.

    Salam Sukses Selalu!

    Reply

    • a thought by aef anas

      Halo mas Januar, fungsi review memang seharusnya gitu (tidak harus 100% sepakat, lebih bagus lagi kalau kemudian membuktikan sendiri dengan menontonnya). Tapi kayaknya kalau sampai keluar di tengah², itu sudah menggambarkan penilaian mas, hehehe. Saya harus nonton sampai habis soalnya biar penilaian dan penulisan review-nya tidak tanggung (siapa tahu paruh kedua bisa lebih baik, tapi ternyata enggak). Keputusan tepat ganti Anabelle.

      Sukses selalu juga buat mas!

      Reply

  • a thought by Muhammad Rifqi

    Hai, mas Aef Anas.
    Mau tanya apakah ada sedikit unsur subjektif dalam review ini? (Ini pure pertanyaan ya mas hehe)
    Saya bertanya spt ini karena saya sendiri subjektif menilai film ini, dan ya, saya sangat setuju denga review mas aef. Lol.
    Jujur saya menonton film ini hanya karena ingin melihat apakah film ini bagus atau tidak, apakah film ini bisa memenuhi ekspektasi masyarakat atau tidak. Tapi ternyata tidak.

    Reply

    • a thought by aef anas

      Halo mas Rifqi, setiap review film pasti ada campuran subjektivitas–itu yang akhirnya membuat si penulis bisa menarik kesimpulan suka filmnya atau tidak. Tapi dalam struktur penulisan review pun harus pakai kerangka objektif, tidak asal (ada alasan/argumen yang nantinya komplementer dengan sisi subjektifnya).

      Saya pun sama dengan mas, menonton film ini dengan membawa prasangka baik (karena buatan Umbara yang biasanya masih cukup lumayan menghibur). Tapi ternyata secara keseluruhan “harapan” itu gagal film ini penuhi. Salam kenal, mas, terima kasih sudah berkomentar.

      Reply

  • a thought by Rae

    Makasih reviewnya. Sangat sangaaat bermanfaat untuk orang2 yang ga mau rugi nonton film kayak saya. Hahaha
    Penyakit bawaan sih kalo tiap mau nonton pasti mesti aja liatin dulu review orang2. Awalnya mau ajak ponakan weekend ini buat nonton. Tapi ughh… No thanks deh kayaknya. Ponakan aku umurnya 6 dan 4 taun. Sepertinya bukan film yang tepat untuk mereka. Hahahaha

    Reply

    • a thought by aef anas

      Saya senang kalau review-nya bisa bermanfaat. Padahal kemarin saya kira betuknya bakalan jadi family movie, ternyata enggak. Jokes dan aksinya tidak cocok buat anak².

      Reply

  • a thought by Strz

    Komodifikasi bro namanya itu wkwk. Emang mudah ditebak kok, wong bapak ibunya aja kerja di pesb*kers yang gk jelas. Alhasil pasti filmnya jg gadanta wkwk. Dari dulu emang nih keluarga jual nama “artis” kok, kayak mie, roti, dll. Bodohnya orang Indonesia aja yang mudah terbujuk dengan embel embel artis

    Reply

  • a thought by Desriana

    Thanks reviewnya. Tadinya saya tertarik nonton karena katanya ini film Indo dgn teknologi CGI yang bagus. Tapi sebelum saya baca review dari mas, saya baca review dari orang lain di fb (lupa namanya) yang penyampaiannya agak emosi (terutama soal sponsor dan eksploitasi anak juga cerita yang kurang bagus) hehehe baca review dari mas dengan pemaparan yang lebih rapi dan tenang bikin saya bener2 batal nonton.

    Reply

    • a thought by aef anas

      Halo mbak Desriana, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Uangnya bisa disimpan dulu buat nonton film lain, hehehe…

      Reply

  • a thought by Yoyo

    Kasian sama tu bocah gtau apa2 suru main film 🙁

    Reply

  • a thought by Satria Nugraha

    Setuju dengan poin mas yg mengatakan eksploitasi anak. Keluarga artis ini emang punya kecenderungan untuk eksis, spesifiknya pamer harta. Orang bapaknya aja hobi banget pamer mobil mewah. Kayaknya mending nonton film monyet dripada film ini

    Reply

  • a thought by Johny

    Sungguh Saya Luar biasa kecewa dengan film Rafathar… Film ini katanya diperuntukan untuk film keluarga terutamanya bagi anak2, tetapi terdapat lelucon dewasa yang ngga pantas dipertontokan. Selain itu film adalah film yang berkiblat kepada film Home Alone & Babys Day Out tetapi cerita dari film ini sangat membosankan dan seakan-akan yang tidak masuk akal. Sungguh saya baru kali ini nonton film di bioskop yang rasanya ingin cepet selesai.

    Reply

  • a thought by Muhamad ridwan

    Saya penggemar film holywood dan indo.. Kalo nonton film indo biasanya pilih2x.. Nah karena directornya anggy umbara dll.. Maka akhirnya saya nonton.. Cgi.y katanya sih keren.. Cuman agak kecewa aj sih.. Gak sesuai ekspetasi..

    Reply

  • a thought by Sweetie Cutiepie

    Dari awal si RA mau bikinin film anaknya, gue udah duga nih orang aji mumpung ama popularitas keluarganya. Dan daya tarik si RA sekarang udah pindah ke anak and bini nya. Makanya si anak yang jadi “jualan” utamanya. Coba dia bikin film untuk dia sendiri. Otomatis ogah dah liat acting nya yang pas pasan itu dan segala tingkah alaynya.
    Pertimbangan begini yang bikin gue males nontonnya. Buang2 duit aja. Kalo toh dikasih tiket gratis, gue ogah. Kasian liat anak kecil dieksploitasi dengan kedok “kenangan dan kado masa depan buat anak” seperti itu. Mau buat kenangan ke anak ya kurangin tuh acara di tipi, banyakin quality time ama anak.
    Sesumbar gunain CGI canggih lah. Genre yang baru di Indonesia lah. Gue liat trailer nya malah ngakak aja hahahaha. Kelewat pede nih si bapaknya.

    Btw, di sini porsi dedek Rafathar banyak nongol apa banyakan porsi bapake yang nongol?

    Reply

    • a thought by aef anas

      Porsi nongol terbanyak dipegang sama Raffi dan Babe Cabita.

      Reply

  • a thought by Dewi

    Sabar ya mbak, ada yang kebakaran jenggot. Mungkin teamnya atau fans buta. Nggak suka RA, niru marketing kardashian expose privasi. Herannya yg kayak gini d idolakan. Kasian dg anaknya d ekploitasi habis2an, karena itu tdk bakalan gw tonton filmnya. Kalau laku pasti bakalan langsung d bikinkan oleh bapak maruknya tuh film

    Reply

  • a thought by Hans

    Setuju bro sama review lu, buat film keluarga ini terlalu banyak guyonan mesum yang sakit banget bro…

    Jokesnya kebanyakan garing, yang ketawa kebanyakan ibu ibu…anak anak malahan melongo doang.

    Yang terakhir CGInya itu sih bro…sakit memang, sampe keliatan green screennya gt wkwkwk 70% cgi all the way…

    Btw gua juga movie reviewer bro walaupun belom lama amat. Kapan kapan mampir channel youtube gua ya: hanstaufilm

    Kita juga ada forum anak anak yang suka review film juga nih, keren nih kalo lo minat gabung hehe…email gua aja

    Sukses terus bro

    Reply

    • a thought by aef anas

      Salam kenal mas Hans. Siap! Nanti saya cek channel-nya.

      Reply

  • a thought by TOTO

    saat saya menulis koment ini, saya baru aja duduk di depan komputer saya setelah sekitar 1 jam lalu keluar dari bioskop untuk nonton film Rafathar. Saya nonton berdua dengan istri dengan penonton di dalam bioskop hanya 4 orang termasuk saya dan istri. Tadinya sih mau nonton Anabelle, tapi apa daya istri saya udah “nge-Per” duluan saat mau beli tiket papasan sama orang yang baru keluar teathre sambil bilang “jangan nonton Anabelle,deh. Daripada kagak bisa tidur sebulan. Serem”. Alhasil, jaddilah kita beli tiket Rafathar.

    Sebenarnya, ada beberapa poin mengapa saya tertarik nonton film ini :
    1. apakah ekspektasi saya terhadap pengaplikasian Motion Capture terjawab dengan baik?Apakah CGI-nya jauh lebih halus dan CGI-awi dari film-film sebelumnya?
    2. Apakah film ini menjadi film yang lebih baik dari film-film Anggy sebelumnya?

    Well, secara umum saya untuk kesekian kalinya menyesal nonton film buah tangan dari Umbara Brothers. Satu 1,5 Jam saya sia-sia karena seolah-olah dipaksa untuk mencerna mangga belum mateng yang kalo dicocol gulapun masih terasa asem. Dulu saya pernah nonton film “Garuda Superhero” yang sangat buruk dengan CGInya, di film Rafathar, ternyata 11-12 dengan film yang saya sebutkan tadi. Ketika saya nonton Comic 8 Hingga CAssino Kings Part1 dan 2, saya merasa banyak CGI yang dipaksakan dan dipasang tidak pada tempatnya. Parahnya lagi, CGInya terkesan apa adanya. Kalo boleh saya analogikan, pengaplikasian CGInya seperti makan pecel ayam dari dalam cangkir kopi. Betul-betul tidak pada tempat yang sesuai. Saya pernah melihat video klip Indah Dewi Pertiwi yang berjudul “Hipnotis” (yang kartanya video klip dengan biaya 9.9 Milyard) yang dibuat oleh Anggy Umbara dan hasilnya begitu bagus CGInya, meskipun mainstream alias tidak ada konsep CGI yang baru. Nah, ketika nonton Comic 8 dan seterusnya, saya masih tidak percaya Anggi dan team menempatkan CGI yang menurut saya ala kadarnya dan terkesan (untuk yang ngerti) Video Copilot banget. Di film Rafathar saya lumayan Amazed dengan pengaplikasian Motion Capture, yang ternyata lagi-lagi hasilnya membuat saya nyletuk “oh, gini aja nih?”. Saya masih ingat betul, begitu banyak green screen yang compositingnya tidak rapih dan grepesan, set extension yang maksa banget, Robot-robotan yang tidak ada “Depth” sama sekali. Saya ingat bagaimana teman saya latihan membuat object 3D, dan gak jauh beda dengan robot-robotan juga karakter Robot Rafathar. Entah apa yang membuat mereka melepas film ini untuk naik ke Bioskop dengan kualitas CGI yang apa adanya. Padahal, dalam promosi ini adalah hal besar yang mereka jual.

    Yang ke-dua, lagi-lagi saya tidak percaya film ini menjual cerita dengan twist yang sangat mudah ditebak. Meskipun Anggy berperan sebagai Produser dan Bounty sebagai Sutradara, saya pikir Anggi bisa menjadi supervisi yang baik untuk film ini. Selama film, saya udah gak sabar untuk hengkang dari kursi bioskop tapi saya tahan hanya untuk mengetahui siapa tau di akhir film ada sesuatu yang membuat saya terkejut. ternyata benar, saya sangat-sangat terkejut dengan alur film dan dramaturgi yang rata.

    Semoga, kedepan Umbara Brothers dapat membuat film yang jauh lebih baik dan tidak melulu terjebak dengan jualan CGI. Toh, pada akhirnya kita harus mengakui bahwa tekhnologi kita sudah sangaaaat jauh tertinggal. Saya setuju bahwa CGI kita harus berkembang, tapi dengan ketertinggalan kita, alangkah bijaknya bila kita bisa mengeksekusi dengan penempatan yang baik.

    Reply

    • a thought by aef anas

      Terima kasih banyak mas Toto sudah berbagi komentar panjang dan memberikan insight yang sengaja tidak saya singgung di review ini (CGI). Saya sepakat bahwa dengan “kebohongan yang ada di mana-mana” film ini tidak layak dilepas di bioskop.

      Reply

  • a thought by Yuki

    Aku sih ga smpt nntn film nya, soalnya di daerahku ga ada bioskop. Tp pas liat review” tu film, jd mikir lg mau nntn jg.

    Reply

  • a thought by mumu

    gue setuju sama Reviewnya nih.. memang film sampah nih. sama hollywood kyk bumi dan langit.

    Reply

  • a thought by Flop

    Ga masalah kalau CGI jelek, asal ceritanya bagus. Sayangnya di film ini dua-duanya jelek.

    Reply

  • a thought by Raden Bagus Aria Wiralodra

    Film sampah

    Reply

  • a thought by Abdul Wahid Mubarrak

    Mohon dimaklumi saja,,,yg bs menilai suatu karya cm sebagian org tertentu yg Cerdas dan bernalar luas. Dan yg lain mungkin cm org2 bodoh yg mencari2 alasan tuk mengagungkan apa yg dikultus atau difavoritkan… End then gw blm nonton tp coba “Buka mata dan Pikiran Anda”.Dr trailer sj kalo lu cermat pst bs nebak btp gk guna dan eneg bin sampahnya **** trsbut…

    Reply

  • a thought by Mr. H

    Setelah menonton, (dibayarin tentunya) yg ada di kepala gue: “i really want my time back.”

    Reply

  • a thought by Ziva A.

    I wish I read this review before I watch Rafathar, untunglah pintu bioskop selalu terbuka untuk orang2 yang mau keluar sebelum film nya habis, dengan kekecewaan tentunya, dan kalo ada sequelnya lagi, hahaha, seriously, spend your time to do anything else, just don’t watch this film.

    Reply

  • a thought by Fio

    Thanks reviewnya. Awalnya sempet penasaran; gimana sih film pertamanya Rafathar. Tapi, narsisme ortunya yg tinggi (baik di program tv / produk yg dibuat mereka) memadamkan rasa ingim tahu saya. Hahaha.
    Sukses terus mas. Reviewnya gurih.

    Reply

  • a thought by Agnes Rizka Widyana

    Makasih reviewnya.
    Btw, aku sendiri belum nonton filmnya. Sejak dengar si RA mau bikin film buat anaknya, aku udah ilfeel duluan.
    Begitu baca reviewmu, pengen bilang, “tuh kan…”

    Reply

    • a thought by aef anas

      Halo Agnez! Wah dirimu nyasar juga di sini, hehehe… Iya e film ini murni buang-buang duit.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required