Sunday, October 17

Rating 10

Catatan Film | “Black Panther (2018)”, Selebrasi Kultural, dan Realitas Alternatif yang Menggetarkan
#Home, Film, Rating 10

Catatan Film | “Black Panther (2018)”, Selebrasi Kultural, dan Realitas Alternatif yang Menggetarkan

Meski glamor, Black Panther sebagai film tetaplah sebuah presentasi yang rendah hati. Ada dua alasan mengapa review kali ini tidak berwujud reguler, melainkan catatan (seperti format yang biasa saya gunakan ketika mengulas serial). Sebab pertama, jelas karena Black Panther berhasil menjadi sebuah film yang bagus, baik secara kemasan maupun substansi. Urgensi kedua karena saya tergelitik dengan sekian selentingan yang sempat terlihat di media sosial (terutama twitter) beberapa waktu lalu berkait Black Panther, bahkan ketika filmnya saja belum dirilis. Dengan parafrase, kurang lebih konten yang oknum netizen sampaikan berbunyi begini, "Orang-orang kulit hitam begitu mengelu-elukan film Black Panther sebagai black empowerment, tapi sadarkah mereka bahwa para eksekutif di studionya adalah ...
Review Film | “Dunkirk (2017)” Kemenangan yang Sesungguhnya
#Home, Film, Rating 10

Review Film | “Dunkirk (2017)” Kemenangan yang Sesungguhnya

Nolan lewat Dunkirk-nya berhasil menghadiahi sinema dan dunia dengan film perang yang pendekatannya belum pernah kita saksikan selama ini. Sebuah film yang pekat dengan suspense nonstop tanpa perlu berpenampilan barbar. Terdapat tiga keping kisah beda sudut pandang yang diperkenalkan di awal durasi. Satu kisah ditunggangi para prajurit yang terjebak di Dunkirk dan mencoba pulang ke rumah (Inggris) dengan Tommy (Fionn Whitehead) sebagai karakter pembawa tongkat estafet koherensi. Satu kisah lagi menjadi milik para pilot Supermarine Spitfire, pesawat tempur kebanggaan Inggris yang bertugas melumpuhkan pesawat tempur musuh sekaligus menghalau gangguan terhadap kapal-kapal yang mengangkut para prajurit pulang ke rumah (Inggris). Satu kisah berikutnya menjadi milik Mr Dawson, Peter, dan George...
Review Film | “Manchester by the Sea (2016)” Tidak Butuh Pura-Pura
#Home, Film, Rating 10

Review Film | “Manchester by the Sea (2016)” Tidak Butuh Pura-Pura

Manchester by the Sea adalah film paling raw (mentah)--di makna positif--rilisan 2016, bahkan tetap relevan dalam repositori karya sinema sekian tahun terakhir. Bermain dengan elemen “kehilangan”, film ini menampilkan karakter-karakternya yang sangat nyata, lengkap dengan problema yang sangat jauh dari kesan pura-pura. Perjalanan hidup kali ini mengikuti keluarga Chandler dan orang-orang terdekatnya. Sosok sentralnya adalah Lee Chandler, seorang tukang bersih-bersih gedung yang tiba-tiba mendapat panggilan seluler yang memberi tahu bahwa saudaranya, Joe Chandler, meninggal. Joe sebelumnya sudah didiagnosis penyakit parah yang berhubungan dengan kondisi jantung, bahkan sudah diprediksi umurnya tidak akan lama lagi. Dalam wasiatnya, Joe sertamerta menunjuk Lee sebagai wali anaknya, Patri...
Review Film | “Moonlight (2016)” Menerima dan Memahami
#Home, Film, Rating 10

Review Film | “Moonlight (2016)” Menerima dan Memahami

Ingat Boyhood yang fenomenal itu? Moonlight memiliki akar yang sama: pencarian identitas semampunya. Film ini berkisah tentang fase kehidupan seorang anak keturunan ras Afrika-Amerika di sebuah permukiman kulit hitam di Miami, Amerika Serikat. Kehidupannya ternyata terlalu banyak dikado oleh semesta. Dia hidup bersama sang ibu yang seorang pecandu narkoba akut; mesti terbiasa dengan bully; menemukan "rumah kedua"; berdamai dengan preferensi seksual; hingga menyesap sari pati kehidupan secukupnya. Moonlight adalah film yang sangat jujur. Seolah kita sedang menyaksikan orang terdekat kita (misalnya, adik) yang sedang mempelajari berbagai hal untuk mencapai level penerimaan masyarakat. Sama halnya dengan ucapan di review film Boyhood (2014), ini adalah genre film di mana saya memohon d...
Review Film | “X-Men: Apocalypse (2016)” Menjegal Peradaban
#Home, Film, Rating 10

Review Film | “X-Men: Apocalypse (2016)” Menjegal Peradaban

X-Men: Apocalypse adalah wujud penghormatan. Dalam jajaran franchise X-Men, ini adalah episode terbaiknya. Termatangnya. Teradilnya. Terkerennya. Film ini berkisah tentang era 80-an di realitas para mutan dunia, terutama di lingkaran X-Men pasca kejadian Days of Future Past. Mystique dielu-elukan sebagai pahlawan, Magneto dicap sebagai penjahat kelas kakap, Xavier nyaman di lingkungan akademi mutannya. Tetapi, di X-Men semua hal selalu punya lebih dari satu kenyataan. Sayangnya, para karakter yang ada di dalamnya mayoritas hanya melihat dari satu sudut praduga. Semua kondisi tersebut menjadi di luar kendali ketika En Sabah Nur muncul sebagai prolog sekaligus benang merah konflik utama, kebangkitan kembali si Apocalypse yang mencekamkan seantero bumi--dibantu Four Horsemen-nya. Saya sun...
Review Film | “Spotlight (2015)” Ketika Media Bongkar Pemufakatan Jahat
#Home, Film, Rating 10

Review Film | “Spotlight (2015)” Ketika Media Bongkar Pemufakatan Jahat

Dengan bentuk kejahatan yang sama namun konteks yang berbeda—kasus paedofil dan kekerasan seksual—Spotlight sungguh relevan untuk menampar Indonesia. Ini adalah film yang penting, sangat penting. Ketika masih banyak permasalahan krusial—tidak hanya kekerasan seksual--yang menyangkut keselamatan dan keamanan masyarakat justru ditutup-tutupi. Usaha “pemufakatan jahat” itu pada banyak hal justru berimbas pada semakin mengerikannya masa depan sekian banyak generasi dunia. Ancamannya lebih serius: traumatis. Latar Spotlight adalah 2001. Editor Marty Baron dari The Boston Globe memberikan tugas kepada tim jurnalis investigasi yang bernama Spotlight untuk melakukan investigasi terhadap John Geoghan. Geoghan yang seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-la...
Review Film | “Mad Max: Fury Road (2015)” Harapan adalah Kesalahan
#Home, Film, Rating 10

Review Film | “Mad Max: Fury Road (2015)” Harapan adalah Kesalahan

Harapan adalah sebuah kesalahan. Ya, menjadi kesalahan sebab apabila di kemudian hari kita tidak bisa memperbaikinya, hanya akan membuat gila. Mad Max: Fury Road adalah pemenang yang bahkan muncul terlalu cepat. Warner Bros memilih tengah tahun sebagai waktu yang dikira tepat untuk merilisnya. Dan keputusan itu justru merupakan nilai plus tersendiri, yang menjadikan para penikmat film pun lebih cepat dalam menghilangkan rasa dahaga. Premisnya sederhana: post-apocalypse, pemberontakan, pencarian harapan baru atas kerusakan, perebutan kekuasaan. Akan tetapi, kesederhanaan itu telah berhasil dibungkus dengan elegan sejak sequence awal. Fury Road memang gersang di mana-mana. Namun secara kuantitas dan kualitas film ini memiliki terlalu banyak oasis. Yang karena saking banyaknya, penont...