Sunday, October 17

Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Dilan 1990 (2018)” Ruang Interaksi Itu Begitu Hangat
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Dilan 1990 (2018)” Ruang Interaksi Itu Begitu Hangat

Dilan sebagai sebuah film adalah keramahan. Di installment 1990-nya ini, kita disuguhi pengisahan yang sederhana, tidak neko-neko, tapi tetap efektif sekaligus hangat berkat chemistry lumer kedua penggawa utama: Iqbaal dan Vanesha sebagai Dilan dan Milea. Film ini diceritakan dari sudut pandang Milea dewasa. Sendiri di kamar apartemennya, dia mulai menuliskan kembali kenangan di masa lalu. Masa ketika dia pertama kali berjumpa degan seorang bocah SMA tengil, pentolan geng sekolah, tapi juga sosok nan puitis bernama Dilan. Agresivitas dan kepercayaan diri seorang Dilan untuk mengejar cinta Milea menjadi pasak utama narasinya. Dengan formula pendekatan yang seolah sudah terukur dengan begitu masak (lengkap dengan manajemen risikonya), interaksi keduanya sepanjang durasi berjalan menyenan...
Review Film | “Les Misérables (2012)” Cahaya Temaram dalam Kegelapan
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Les Misérables (2012)” Cahaya Temaram dalam Kegelapan

Les Miserables berseting pada awal abad 19 di Perancis. Menceritakan kehidupan Jean Valjean (Hugh Jackman), seorang laki-laki yang telah menyelesaikan masa tahanan–perbudakan–dan menjalani masa bebas bersyarat. Kisah dimulai saat Ia diberi surat identitas penanda sebagai orang yang berbahaya, kemudian bertemu dengan pastur yang justru memanusiakannya, dan mulai hidup sebagai orang baik–dan terpandang. Meskipun tokoh utamanya adalah Jean Valjean, film ini tidak hanya berputar pada kehidupannya. Les Miserables juga bercerita tentang orang-orang yang rela melakukan apa pun demi memperjuangkan orang lain. Rantai kebaikan yang perlu pengorbanan ini, digambarkan seperti cahaya dari sebatang lilin dalam ruang gelap. Menyinari dengan sebisanya, tetapi pada akhirnya mati juga. Lalu ketika ...
Review Film Indonesia | “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)” Perjalanan Sekali Tebas
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)” Perjalanan Sekali Tebas

Perempuan, janda, kriminal. Dalam objektifikasi posisi kuasa patriarkal, Marlina secara mudah masuk ke golongan triple minority. Bermula dari kesadaran ini, Mouly Surya tidak mau tunduk semudah itu. Dia menggulingkan berbagai anggapan konvensional dengan hanya bersenjatakan seni "kepepet". Kisah Marlina diperlakukan sebagai rangkaian empat babak. Semuanya dimulai ketika kelompok Markus (tujuh orang) berusaha merampok sisa harta keluarga Marlina setelah suaminya meninggal. “Semua” yang dimaksud termasuk si Marlina. Kondisi sedemikian mengancam membuat Marlina putar otak: bagaimana caranya meloloskan diri. Dia akhirnya berhasil meracun empat di antaranya, memenggal si gembong, dan dua sisanya batal mati karena ditugasi membawa ternak rampasan pergi. Perjalanan belum berakhir, justru baru...
Review Film Indonesia | “Kartini (2017)” Menggambarkan R. A. Kartini dengan Sudut Pandang yang Masuk Akal
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Kartini (2017)” Menggambarkan R. A. Kartini dengan Sudut Pandang yang Masuk Akal

Mungkin penggambaran paling masuk akal tentang kepribadian dan perjuangan R. A. Kartini itu ada di dalam film Kartini yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini dimulai dari Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang dipaksa patuh pada batas antara bangsawan dan rakyat kecil. Aturan yang membuatnya berpisah dan memanggil ibunya dengan sebutan Nyi Ngasirah (Nova Eliza dan Christine Hakim). Kemudian lanjut dipingit untuk menjadi Raden Ayu, sebuah aturan yang mengharuskannya terus menerus berada di dalam rumah. Kurang apalagi? Tekanan batin yang dialami Kartini sudah cukup untuk membuatnya bertindak, kan? Kartini mencari kebebasan dengan membaca buku-buku. Dia lebih memilih membaca buku daripada belajar dandan seperti kakaknya, Soelastri (Adinia Wirasti). Dia pun mengajari Kardinah (Ayus...
Review Film | “Hell or High Water (2016)” Tentang Kesepian
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Hell or High Water (2016)” Tentang Kesepian

Menikmati Hell or High Water secara utuh artinya juga harus paham makna literal judulnya. Idiom ini bisa jadi masih awam di telinga penonton Indonesia, makna denotasinya adalah: tindakan sesulit apa pun akan ditempuh demi mencapai tujuan. Dan itulah nyawa sebenarnya dari film western modern ini. Film ini adalah tentang Tanner Howard dan Toby Howard—kakak seorang mantan napi nan temperamen dan adik yang dihimpit masalah ekonomi—serta Marcus Hamilton—aparat kepolisian di penghujung masa jabatan. Paralel pertama menunjukkan tindakan perampokan di sebuah kantor di sebuah kota yang sebelum-sebelumnya adem ayem. Karena memang background mereka bukanlah komplotan perampok kompeten, tindakan yang dilakukan justru penuh dengan “ketidaksiapan dan ketidakprofesionalan”. Di sinilah talian “si jaha...
Review Film | “Patriots Day (2016)” Memusuhi Kebencian dengan Cinta
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Patriots Day (2016)” Memusuhi Kebencian dengan Cinta

Tahun 2016 menjadi saksi sahnya saya menghormati sosok Mark Wahlberg dan Peter Berg. Ketika film-film based on true story lain masih banyak yang berkutat dengan kisah puluhan hingga ratusan tahun silam, duo ini justru memilih mengangkat fakta yang bersifat kontemporer--belum berselang lama. Pertama lewat Deepwater Horizon dan sekarang dengan Patriots Day. Sebuah pilihan yang tidak mudah, di satu sisi ini memberi poin plus di aspek "kebaruan" dan "kedekatan emosional", di sisi lain film-film model ini harus berhadapan dengan sentimen masyarakatnya yang masih bersinggungan--tanggung jawab moralnya lebih besar. Film ini berkisah tentang situasi sekitar kejadian meledaknya bom di Boston Marathon 2013 silam. Kisah dimulai dengan memperlihatkan beberapa "tokoh" yang akan dijadikan fokus....
Review Film | “A Monster Calls (2016)” Kontemplasi Diri
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “A Monster Calls (2016)” Kontemplasi Diri

A Monster Calls adalah film tentang kontemplasi diri. Film ini menunjukkan bagaimana rapuhnya manusia ketika harus berhadapan dengan diri sendiri. Tentang menyiksanya proses jujur-jujuran pada ketakutan yang selama ini membelenggu sehingga nantinya tidak harus direpotkan oleh tutupan topeng pura-pura lagi. Film ini adalah milik Conor O'Malley. Seorang bocah yang beranjak dewasa yang hidup bersama sang ibu yang sakit-sakitan. Adegan pembukanya bahkan sudah memberikan gambaran jelas pada penonton tentang sisa durasinya, yaitu: visual mimpi buruk yang menghantui Conor. Selain itu, dia pun harus melewati hari-hari sulit ketika berada di sekolah. Hingga suatu waktu, hadir sesosok monster pohon raksasa yang mengubah perspektifnya terhadap kehidupan secara perlahan. Manyaksikan A Monster...
Review Film Indonesia | “Istirahatlah Kata-Kata (2016)” Wiji Thukul yang Manusia Biasa
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film Indonesia | “Istirahatlah Kata-Kata (2016)” Wiji Thukul yang Manusia Biasa

Segarang-garangnya citra seseorang, mereka tetaplah orang, bagian dari entitas manusia. Yang antara takut dan nekat kadang tidak kenal alokasi ruang dan waktu. Yang antara provokatif dan sekadar jujur pada diri sendiri kadang beda efek karena faktor tafsir orang lain beda-beda. Itulah sosok Wiji Thukul yang dibawa oleh karya sinema berjuluk Istirahatlah Kata-Kata garapan Yosep Anggi Noen. Istirahatlah Kata-Kata menyoroti seorang Wiji Thukul yang mesti berpindah-pindah tempat persembunyian sejak tahun 1996. Namanya masuk dalam daftar DPO karena menjadi bagian dari Partai Rakyat Demokratik yang saat itu keberadaannya melanggar Undang-Undang, sekaligus karena puisi-puisinya dianggap bertanggungjawab memprovokasi massa untuk menggulingkan rezim Soeharto, Orde Baru. Wiji yang kemudian memil...
Review Film | “Hidden Figures (2016)” Tidak Ada Mayor Tanpa Minor
#Home, Film, Rating 8.5

Review Film | “Hidden Figures (2016)” Tidak Ada Mayor Tanpa Minor

Seyakin pose tiga perempuan di posternya, Hidden Figures tampil percaya diri dan stabil. Meskipun membawa frasa yang cukup berat: “untold story”, tetapi film ini lewat penanganan Theodore Melfi memilih jalur alternatif dengan mengisahkan perjalanan para tokoh sentralnya di sirkuit ringan. Kita bisa dengan mudah dibuat tersenyum, geram, tertawa, dan beberapa kali terharu-merinding di momen-momen yang memang “perlu” diganjar impresi tersebut. Film ini berlatar tahun 60-an dengan karakter utamanya adalah tiga orang perempuan ras kulit hitam: Katherine, Dorothy, dan Mary. Mereka memiliki kecerdasan saintifik di atas rata-rata. Namun, berada di periode ini, masyarakat kulit hitam masih dimarjinalkan. Ada pengkotak-kotakan fasilitas berdasarkan warna kulit. Tak terkecuali di lembaga keilmuan...