Review Film | “Along with the Gods: The Two Worlds (2017)” Reinkarnasi Kontemporer

Estimasi waktu baca: 3 menit

Menyoal perjalanan terjal di rangkaian pengadilan akhirat menyongsong reinkarnasi, Along with the Gods: The Two Worlds menjalani rutenya dengan penuh perjuangan pula. Sekali waktu berhasil dengan teramat baik, di lain bagian harus menenggak pil kebingungan.

Film ini berkisah tentang Ja Hong yang seketika meninggal (terjatuh) sewaktu bertugas menyelamatkan seorang anak yang terjebak di kebakaran gedung bertingkat. Sebagai seorang petugas pemadam kebakaran yang penuh dedikasi dan tanpa pamrih, dia lalu dijemput dengan suka ria oleh dua pengawal akhirat. Penyebabnya tidak lain karena dia dianggap oleh para pengawal tersebut sebagai arwah seorang suri tauladan. Jenis arwah limited edition yang memperoleh golden ticket sehingga proses reinkarnasinya lebih cepat terjadi. Dari sinilah, pengadilan amal tujuh rangkap selama 49 hari ke depan dimulai.

Secara premis, Along with the Gods yang direncanakan sebagai pembuka dwilogi film, tampil sangat menarik.

Kisah inisiatif Ho-min Ju (komik) dan diadaptasi (juga disutradarai) oleh Yong-hwa Kim ini berani menyitir salah satu fondasi utama dari agama Buddha terkait kehidupan pasca kematian. Kehidupan yang tidak hanya berhenti di satu siklus saja, melainkan terus berputar dan mengalami daur ulang.

Pada kelanjutannya, film ini menggambarkan dengan begitu gamblang tentang relasi tindakan-hukuman yang mesti dijalani oleh para manusia. Lebih jauh lagi, melalui olahan kontemporer, narasinya mengajak kita untuk sedikit nakal dengan melihat perspektif bahwa setelah mati pun manusia tetap memiliki hak-hak sebagai makhluk berakal yang melekat. Bahwa ketika di pengadilan langit pun kondisinya tidak jauh beda dengan pengadilan dunia. Pengadilan yang ada konsep terdakwa-hakim-jaksa-pembela. Gelitik gagasan ini menciptakan atmosfer nan humoris tapi juga introspektif semenjak lensa kamera dibuka hingga hadirnya credit title di akhir.

Namun, membawa konsep yang sebetulnya sangat ambisius semacam ini–meng-cover tujuh proses pengadilan akhirat–tentu saja bukanlah pekerjaan mudah.

Kesan kelimpungan itu pun tidak luput dari pandangan mata. Meskipun memiliki premis serta sekuens dua pengadilan di awal (lengkap dengan teaser tentang hukuman yang begitu mengerikan) yang sangat baik, nyatanya film ini kewalahan ketika mulai dibenturkan dengan konflik keluarga (yang masih hidup) dan kontinuitas perjalanan ke sisa pengadilan (transisi ke tiap pengadilan yang tampak terpotong-potong).

Narasi Along with the Gods cukup dibuat pontang-panting ketika percabangan subplot arwah pendendam (yang masih dari satu famili) mulai diperlebar kansnya. Bukan saja terasa dipaksakan, film ini gagal membangun bagian tersebut sebagai sebuah rangkaian penuturan yang utuh. Ketika intensi awalnya memang berkonsep “puzzle”, sebenarnya itu tidak masalah; hanya saja, di produk akhir, justru presentasinya menjadi begitu acak dan terkesan: ini harus disusun bagaimana, ya?

Dampaknya, nestapa yang semestinya begitu kuat dimiliki oleh arwah pendendam cuma berakhir sebagai tempelan prostesis yang kurang melekat.

Apalagi ditambah oleh usaha film ini yang berusaha menjadikan sosok si Ibu sebagai tearjerker nyaris di penghujung (yang tidak terlalu berhasil menarik simpati saya karena terlalu dipaksakan). Di kondisi yang seperti ini, pikiran saya jelas langsung terlempar ke durasi awal; berandai-andai seumpama pola itu sajalah yang digunakan sampai akhir. Dengan begitu, film ini jadi punya cukup ruang untuk melakukan eksplorasi terhadap para karakter di persidangan (apalagi mereka mayoritas diberi kado persona berkesan komikal).

Dan lagi, model pemaparan “amal” berkonsep kilasan karma (seperti di awal) sebenarnya lebih berhasil mencabik emosi saya sebagai penonton. Tidak perlu diberikan penjabaran panjang lebar, cukup ditembak di titik-titik rapuh manusia ketika berhadapan dengan tuntutan empati (seperti gambaran waktu Ja Hong dibuat gamang karena himpitan ekonomi).

Atas dosa penuturannya, untung saja film ini paham tentang potensi terbesarnya: aspek tenis.

Optimalisasi atas sajian visualnya layak diberikan kredit khusus karena sukses menampakkan keindahan dan kengerian dalam satu tatakan. Lebih beruntung lagi, sebab saya kebetulan berkesempatan menyaksikannya di format 4Dx; dan bisa saya konfirmasi, teknologi dari Korea ini dioptimalkan secara tepat guna. Setidaknya dibandingkan dengan dua film terakhir yang saya tonton di format ini (Doctor Strange dan Suicide Squad), efek yang disematkan di sini tampil lebih niat.

Pada akhirnya, ketika The Two Worlds dimaksudkan sebagai sebuah film pembuka, ini adalah tontonan yang tidak terlalu mengecewakan.

Paling tidak, belajar dari film pertamanya, seharusnya sekuelnya kelak sadar bahwa aspek narasinyalah yang perlu memperoleh perhatian lebih. Rasanya sayang kalau gagasan semenarik ini mesti diredam oleh obsesi kreatornya untuk menampilkan banyak hal tanpa tahu bagaimana caranya bersikap selektif.

Along with the Gods: The Two Worlds memperoleh 7 dari 10 bintang.

Film Along with the Gods: The Two Worlds (2017) telah ditonton pada 14 Januari 2017, review resmi ditulis pada 16 Januari 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 384 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required