Review Film Indonesia | “Partikelir (2018)” Mohon Bersabar

Estimasi waktu baca: 2 menit

Partikelir bercerita tentang sepasang sahabat, Adri (Pandji Pragiwaksono) dan Jaka (Deva Mahendra), yang pernah berpisah dan kembali bersama untuk memecahkan kasus. Bersama Tiara (klien, diperankan Aurelie Moeremans) dan Geri (penggemar Adri yang datang entah dari mana, diperankan Ardit Erwandha), mereka melakukan apa pun untuk menyelesaikan kasus yang lebih besar dari dugaan mereka.

Film ini merupakan debut Pandji Pragiwaksono sebagai sutradara. Ia juga mengerjakan naskah dan berperan sebagai tokoh utama.

Sayangnya totalitas ini kurang sebanding dengan hasil akhir Partikelir yang serba nanggung.

Sebagai sebuah film komedi aksi, film ini nanggung dari sisi mana pun. Lelucon muncul tanpa benar-benar menyatu dengan jalan cerita. Seakan punya bentuk berbeda dan memisahkan diri dengan jalan cerita. Kalau muncul pun hanya mampu membuat senyum simpul, belum sampai ngakak. Saya cukup menyesal dengan penilaian saya sendiri. Film ini benar-benar bertabur cameo, hlo. Sayangnya kalau beberapa scene komedinya dihilangkan, Partikelir masih baik-baik saja.

Minus pada poin komedi juga ditambah dengan aksi yang dieksekusi dengan ngasal. Gerak aksi lebih banyak bertumpu pada “if it looks stupid but works, it isn’t stupid”.

Lucu sih melihat aksi yang sok sokan hebat di awal film–jadi memang sejak awal ada gambaran bahwa Partikelir adalah film komedi aksi. Namun, sayangnya lelucon dalam bentuk yang sama ditampilkan terus menerus sepanjang film. Tidak salah jika saat menonton tiba-tiba muncul pertanyaan, “Aksi seriusnya mana nih?”

Kalau sudah sampai pada fase itu, bersabarlah. Aksi yang serius itu sungguhan ada kok.

Kesabaran pasti berbuah manis. Tolong tekankan petuah itu saat menonton Partikelir. Harus. Buat saya sendiri, baru pertama kali ini saya mencoba mati-matian untuk tetap duduk meskipun ingin keluar dan meninggalkan studio.

Untunglah kesabaran ini berbuah manis. Saya tidak ketinggalan akhir film Partikelir yang cukup istimewa. Cara menyetir plot sehingga bisa memiliki akhir film yang benar-benar tuntas tersebut, patut diapresiasi.

Hal yang patut diapresiasi lain adalah soundtrack film dari Maliq & D’Essentials berjudul Friends. Film ini menyelamatkan Partikelir dari catatan merah yang bertumpuk banyak. Plus keberadaan Lala Karmela yang memerankan istri Jaka dengan baik. Dua elemen ini seakan-akan memohon supaya penonton—saya—tidak pergi sebelum film tuntas.

Rating: 5/10

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 44 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required