#SpectacularTen 10 Film Terbaik 2016 (Bagian 2)

Estimasi waktu baca: 4 menit

Kita sudah sampai di penghujung tahun.

Sedikit mengulang dari artikel bagian satu, seperti tradisi sebelumnya, daftar penerima label terbaik sudah dibuat, rentang periodenya antara 30 Desember 2015 hingga 30 Desember 2016.

Bagi kamu yang belum membaca urutan 10-6 (plus bonus shortlist 23-11), silakan klik gambar di bawah ini.

ngep movie ngepop.com

Mari kita lanjutkan, berikut tersapa bekerjasama dengan ngepop sajikan daftar film terbaik #SpectacularTen 2016 urutan 5 sampai jawara!

05 movie ngepopcom

05. Hacksaw Ridge (baca review)

Ini adalah film perang realistis terbaik, paling tidak semenjak warisan tak terbantahkan dari Saving Private Ryan.

Hacksaw Ridge mengembalikan kepercayaan publik bahwa Mel Gibson adalah pencerita yang mumpuni.

Dia sudah cukup lama dianggap “tertidur” dan semacam terjerembab di limbo. Melalui film ini, Gibson sukses menyodorkan medan peperangan secara realistis. Dia nampak tidak ingin muluk-muluk dalam memberi bungkus. Jelas ini adalah film Amerika, jelas pula bahwa Amerika-lah yang akan berada di posisi superior, tetapi Hicksaw Ridge tidak mutlak egois–sebab bukan ego kebrutalan yang menjadi fokusnya.

Gibson mampu meramu porsi yang meskipun tidak adil kalau dibilang setara (antara Amerika dan Jepang yang diposisikan sebagai musuhnya), tetapi masih gentle dalam memberikan kredit kepada pihak-pihak seberang pada tragedi Okinawa Mei 1945.

Sari patinya, ini bukan lagi masalah pihak A menang perang melawan pihak B, tetapi tentang kecakapan menjelaskan bahwa di atas semuanya, kemanusiaan adalah segalanya. 9.5/10

04

04. La La Land (baca review)

Damien Chazelle lewat Whiplash telah mematok standar film tentang industri hiburan (musik) teramat tinggi. Lewat La La Land, dia berhasil membuktikan bahwa standar itu bisa dijaga dengan teramat baik.

Menonton La La Land itu semacam terbangun di sebuah balon mimpi yang hanya ada hal indah-indah di situ. Los Angeles milik Mia dan Sebastian menjadi teramat memikat, menunjukkan bahwa bertebaran banyak harapan di berbagai sudutnya.

Film ini memberikan energi luar biasa bagi para penontonnya. Damien Chazelle mengendorse mimpi dan harapan habis-habisan. Mengejar angan adalah perjalanan paling ajaib yang hanya dimiliki oleh manusia. 9.5/10

03

03. X-Men Apocalypse (baca review)

Saya sungguh tidak menyangka bahwa jajaran film superhero bisa sebegini masifnya merangsek di daftar terbaik 2016. Apalagi untuk X-Men: Apocalypse, ekspektasi yang saya pasang tidak terlalu tinggi, mengingat Days of Future Past sangatlah well-made–terbesit, “Masa, sih, X-Men bisa lebih gila lagi?”.

Faktanya, saya juga masih konsekuen dengan judul di review BvS–tidak akan mempedulikan tabulasi kritikus–, cukup tahu bahwa impresi awal di laman para kritikus mayoritas tampil mendiskreditkan, namun saya menolak mengikuti konstruksi yang coba mereka bangun. Maka, ketika menonton X-Men: Apocalypse pun saya duduk dengan tanpa tekanan sama sekali. Hasilnya? Gila!

X-Men: Apocalypse bukanlah film sederhana. Meskipun ketika membicarakan tentang film superhero, masih banyak yang menganggapnya sebagai sajian hore-hore saja–tidak bisa sepenuhnya disalahkan.

Film ini tampil berani, sensitif, nostalgia, dan dewasa. Gagasan yang diangkat tidak terbatas pada segelintir mutan, namun juga modifikasi mitologi, kepercayaan serta ketuhanan, filsafat dunia, relasi, dan tentu saja politik.

Penonton berkali-kali diajak untuk menggugat hal apa pun yang sudah mapan selama hidup ini. Melihat dengan sudut pandang “bagaimana kalau” secara meyakinkan. Akibatnya, ketika menyaksikan X-Men: Apocalypse penonton serasa dipingpong, berdiri di dua kaki, tidak bisa memilih mana yang lebih benar dan mana yang lebih salah. 10/10

02 movie ngepopcom

02. Moonlight (baca review)

Ingat Boyhood yang fenomenal itu? Moonlight memiliki akar yang sama: pencarian identitas semampunya.

Moonlight adalah film yang sangat jujur, seolah kita sedang menyaksikan orang terdekat kita (misalnya adik) sedang mempelajari berbagai hal untuk mencapai level penerimaan masyarakat. Lebih heartbreaking lagi ketika kita tahu bahwa dia turut memanggul kebingungan karena ternyata ada beberapa hal yang dipersulit di lingkungan tumbuhnya: seksualitas salah satunya.

Berlatar Miami dan berasal dari ras kulit hitam, perjalanan Chiron sukses menohok tentang diskriminasi terhadap minoritas. Ini adalah pelajaran hidup yang tidak hanya penting diasup oleh minoritas yang kemungkinan memiliki kondisi bertingkat presisi tinggi, namun juga untuk golongan yang secara sosial disebut/menyebut diri sebagai mayoritas. Keduanya bertanggung jawab penuh untuk tetap menjadi manusia, yang memperlakukan setiap orang dengan tangan terbuka.

Kurang baik apa Moonlight: ini adalah film yang sangat puitis sekaligus mempesona secara persona tampilannya. Ditambah transisi masa yang sangat lancar dan lebur dalam perjalanan menemukan diri sendiri, lengkap sudah. 10/10

01 movie ngepopcom

01. Manchester by the Sea (baca review)

Merinding mengekor pergerakan emosi dan mimik muka Casey Affleck di Manchester by the Sea. Tanpa perlu meledak-ledak, Casey mampu menyublimkan emosi hingga bisa dengan mudah berada di genggaman penonton.

Film ini berani mengeksploitasi masa lalu dan sekarang secara bergantian namun tidak terasa melelahkan. Memperlihatkan motivasi antar karakter dalam keluarga secara heartwarming dan heartbreaking sekali suap.

Machester by the Sea sangat jarang menggunakan angle close-up, dan ini bukan tanpa sebab. Melalui alur penceritaannya, kita sadar bahwa aspek teknikal ini memegang peran penting dalam hal menunjukkan realitas sang karakter pada perspektif dunia—tidak hanya memperlihatkan posisi kuasa terhadap audiens.

Kalau dipermisalkan, film ini bukanlah sebuah rollercoaster ekstrim. Namun, perjalanan yang kita ikuti sepanjang durasi bakal sangat efektif menyadarkan kita bahwa hidup itu ya tentang menikmati segala naik-turunnya. Posisi yang seringkali sengaja kita lupakan dan memilih hanya menyalahkan salah satunya saja.

Kudos Kenneth Lonergan atas karyanya yang charming. 10/10

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 282 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required