Wednesday, February 21

Catatan Sinopsis “The Zone of Interest” (2023) Menggali Kedalaman Moral

“The Zone of Interest,” film terbaru dari sutradara Jonathan Glazer yang rilis di tahun 2023, mengajak penonton melangkah ke teritori moral yang kerap dihindari banyak karya di topik serupa.

Diadaptasi dari novel berapi-api Martin Amis dengan judul yang sama, film ini memilih sudut pandang yang unik dalam menggambarkan kekejaman Holocaust.

Alih-alih menampilkan penderitaan secara eksplisit, film ini menggali kehidupan sehari-hari Rudolf Höss, komandan Auschwitz, dan istrinya Hedwig, yang menciptakan kesan normalitas menyeramkan di samping kebrutalan yang mereka fasilitasi.

Sinopsis “The Zone of Interest” (2023)

“The Zone of Interest” membawa kita ke kehidupan Rudolf Höss, komandan Auschwitz, dan istrinya Hedwig, yang hidup dalam fasad keluarga yang nyaman dan teratur di samping salah satu kamp kematian paling terkenal dalam sejarah.

Kita melihat Höss sebagai seorang ayah dan suami yang penuh kasih, namun tanpa ampun dalam perannya sebagai eksekutor massal.

Sementara itu, Hedwig masih terlibat dalam rutinitas domestik dan pergaulan sosial–dengan sengaja atau tidak–tidak menyadari kekejaman yang terjadi hanya beberapa langkah dari rumah mereka.

Film ini memperlihatkan bagaimana mereka berdua, melalui sikap denial dan justifikasi, secara bertahap menjadi desensitisasi terhadap horor yang mereka fasilitasi.

Ketegangan dalam film ini meningkat seiring dengan keterlibatan Höss dalam perencanaan dan eksekusi Holocaust, menunjukkan transformasi yang mengerikan dari seorang pria biasa ke monster yang rasional.

Di sisi lain, Hedwig bergulat dengan isolasi dan kehampaan moral, sementara tetangga dan teman-temannya mempertahankan sikap tidak peduli atau ketidaktahuan.

Kehidupan pribadi mereka menjadi semakin absurd dalam kontras dengan kekejaman yang mereka saksikan dan fasilitasi, menggambarkan betapa mudahnya kejahatan menjadi bagian dari “normalitas”.

Film ini berakhir dengan keheningan yang mematikan, meninggalkan penonton dengan pemandangan yang suram dan renungan atas ongkos penindasan, mempertanyakan sejauh mana masyarakat dapat mengabaikan atau menjadi complicit dalam kejahatan.

“The Zone of Interest” tidak hanya sebuah kisah tentang teror masa lalu, tetapi juga peringatan tentang potensi kelam yang tersembunyi dalam setiap individu dan struktur sosial.

ngepop sinopsis 2023 the zone of interest

Catatan “The Zone of Interest” (2023)

Dengan mengesampingkan gambaran grafis penderitaan, film ini menampilkan kehidupan sehari-hari yang tampak biasa dengan latar belakang kekejaman luar biasa.

Höss, diperankan oleh Christian Friedel, dan Hedwig, yang diperankan oleh Sandra Hüller, menunjukkan bagaimana kejahatan dan kehidupan sehari-hari dapat berjalan beriringan.

Film ini menonjol karena ambiguitasnya yang mengganggu.

Glazer tidak memberikan jawaban mudah atau menunjuk siapa yang harus disalahkan. Kita menyaksikan desensitisasi bertahap Höss dan Hedwig, yang terbuai oleh kekuasaan dan kemewahan.

Setiap adegan domestik yang digambarkan dengan detail menjadi ironis, mencerminkan kebiadaban yang berlangsung di sebelah rumah mereka.

“The Zone of Interest” menggali sifat licik dari kejahatan.

Ketidakhadiran kekejaman yang nyata memaksa penonton menjadi complicit dalam kejahatan moral. Kita menjadi pengamat, menyelami jurang ketakacuhan moral bersama karakter-karakternya.

Film ini menantang penonton untuk merefleksikan diri sendiri; apakah kita, seperti Hedwig, memilih untuk buta terhadap kekejaman untuk menjaga kenyamanan kita? Atau seperti Höss, yang terperangkap dalam daya buai kontrol dan kekuasaan?

Secara visual, film ini adalah karya simbolis yang mencolok.

Penggunaan suara dan keheningan yang cermat meningkatkan atmosfer menegangkan film. Kicauan burung dan percakapan sehari-hari dipotong dengan tangis kereta jarak jauh, mengingatkan pada kekejaman yang tidak terlihat.

Kamera yang tertuju pada taman bunga yang tersusun rapi kontras dengan asap yang mengepul dari krematorium, menegaskan kesenjangan moral yang mendalam.

“The Zone of Interest” menutup kisahnya dengan ambigu, tanpa katarsis atau penebusan yang mudah.

Pengambilan gambar terakhir menjadi pengingat yang menghantui akan ketidakberdosaan yang dirampas dan normalitas yang hancur.

Ini bukan film yang ringan; ini adalah perjalanan moral yang kompleks yang menuntut introspeksi dan refleksi diri yang tidak nyaman.

Namun, ini adalah film yang penting, mendorong kita untuk menghadapi sudut gelap sifat manusia dan berurusan dengan kebenaran yang tidak nyaman–bahwa kejahatan bisa muncul dalam setting yang paling biasa dan tampak normal sekali pun.

Discover more from Ngepop.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading