Friday, February 23

Catatan Sinopsis “The Teachers’ Lounge” (2023) Dilema Guru Idealis

“The Teachers’ Lounge” (judul aslinya “Das Lehrerzimmer”) adalah sebuah film drama Jerman yang disutradarai oleh İlker Çatak dan rilis pada tahun 2023. Film ini menceritakan tentang seorang guru muda, diperankan oleh Leonie Benesch, yang berusaha menghentikan serangkaian pencurian di sekolahnya. Namun, temuan tak terduga tentang identitas pelaku sebenarnya dan investigasi yang dilakukan oleh sekolah di bawah prinsip “kebijakan nol toleransi” segera memicu fitnah, perselisihan, dan eksklusi. Film ini premier pada pertengahan Februari 2023 di Berlinale ke-73 dan mendapatkan respon positif dari kritikus film. Pada tahun yang sama, film ini meraih lima penghargaan di Deutscher Filmpreis, termasuk penghargaan untuk Film Terbaik, Sutradara, Skenario, Editing, dan Aktris Utama, serta terpilih sebagai perwakilan Jerman untuk Oscars tahun 2024. ngepop sinopsis 2023 the teachers lounge

Sinopsis “The Teachers’ Lounge”

Carla Nowak adalah seorang guru muda yang baru beberapa bulan mengajar matematika dan olahraga di kelas tujuh sebuah sekolah menengah. Idealismenya yang tinggi membuat dia cukup dikenal di antara para guru lainnya. Tapi, suasana hatinya dan suasana sekolah sedang tidak baik-baik saja karena adanya serangkaian pencurian yang belum terungkap. Pada suatu hari, Carla melihat beberapa muridnya dicurigai.  Dalam sebuah insiden yang tidak mengenakkan, beberapa murid laki-laki dipermalukan di depan kelas saat rekan guru Carla menggeledah dompet mereka. Karena membawa jumlah uang yang cukup besar, Ali, seorang siswa keturunan Turki, harus berhadapan dengan Direktur Sekolah yang tegas, Dr. Bettina Böhm, sesuai dengan kebijakan nol toleransi yang diberlakukan di sekolah. Namun, kecurigaan itu tidak terbukti. Carla yang tidak tega melihat ketidakadilan ini, berusaha mencari tahu sendiri dengan bantuan kamera laptopnya. Dalam rekaman yang dia peroleh, dia melihat sekretaris sekolah, Friederike Kuhn, yang biasanya tidak mencurigakan, tampak sebagai pelaku. Kemeja bermotif yang dikenakan Kuhn terlihat jelas dalam video. Namun, temuan ini membuat Carla berada dalam dilema moral yang mendalam; Kuhn adalah ibu dari Oskar, murid paling cerdas di kelas matematikanya. Meski Kuhn bersikeras membantah, dia tetap diistirahatkan sementara dari pekerjaannya untuk penyelidikan lebih lanjut. Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat bagi Carla. Di satu sisi dia harus mempertahankan idealismenya, di sisi lain dia harus menghadapi kenyataan pahit sistem pendidikan yang ada serta konsekuensi dari tindakannya. Dalam sebuah rapat orang tua yang terasa seperti interogasi bagi dia, Carla sampai mengalami tekanan mental. Dia menjadi semakin terisolasi dari rekan guru, murid, dan orang tua mereka. Sementara itu, dia juga merasa bertanggung jawab atas tekanan psikologis yang dialami Oskar, yang kini dijauhi teman-temannya karena dianggap anak dari “ibu maling.” Oskar tetap membela ibunya dan menuduh Carla sebagai pembohong. Konflik ini mencapai puncaknya saat Oskar, dalam upaya balas dendam, mencuri laptop Carla dan merusaknya. Ketegangan semakin meningkat ketika Oskar mempublikasikan cerita dari perspektif ibunya di koran sekolah. Publikasi ini memicu perdebatan sengit tentang kebenaran dan keadilan di sekolah tersebut. Tidak lama kemudian, sebuah wawancara dengan Carla yang dipelintir konteksnya menambah panas situasi. Sebagai respons, kepala sekolah memutuskan untuk melarang penjualan koran sekolah dan menskors Oskar. Tetap dengan sikap keras kepala, Oskar datang ke sekolah keesokan harinya, membawa Rubik yang pernah diberikan Carla kepadanya. Upaya Carla untuk menyelesaikan masalah ini secara damai tidak membuahkan hasil; Oskar yang terluka dan frustrasi, hatinya tidak dapat ditembus, bahkan ketika ibunya mencoba menghubungi. Akhirnya, dalam sebuah pemandangan yang memilukan, Oskar dibawa pergi oleh polisi sambil masih duduk di kursinya.

Catatan “The Teachers’ Lounge”

“The Teachers’ Lounge” merupakan film keempat İlker Çatak sebagai sutradara. İlker Çatak dan Johannes Duncker menulis skenario ini bersama, yang terinspirasi dari pengalaman mereka bersekolah. Çatak, yang sempat bersekolah di Turki, pernah mengalami kasus serupa yang digambarkan dalam film. Pengalaman ini bersama dengan cerita tentang pencurian di ruang guru tempat adik Duncker mengajar mengilhami mereka untuk membuat film ini. Mereka juga melakukan wawancara dengan banyak profesional di bidang pendidikan untuk mendapatkan insights lebih dalam. Dalam prosesnya, Çatak menyadari perubahan signifikan dalam komunikasi di era digital yang mendorong dia untuk menggali lebih dalam tentang dinamika sekolah modern. Meskipun saat riset mereka mengetahui praktik pencarian barang siswa seperti yang diceritakan dalam film sudah tidak umum lagi, Çatak dan Duncker tetap memasukkannya dalam skenario dengan alasan “jika memang tidak ada yang disembunyikan, tidak perlu takut.” Proses penulisan naskah berlangsung di sebuah rumah di tengah hutan yang disewa oleh produser film mereka, Ingo Fliess, di mana mereka menghabiskan waktu seminggu untuk membahas premis film. Çatak memandang sekolah sebagai mikrokosmos masyarakat, dan selain fokus pada pencarian kebenaran, film ini juga mengeksplorasi tema seperti berita palsu, cancel culture, dan histeria masyarakat akan “kambing hitam”. Film ini syuting di dua bangunan bersejarah di Hamburg, yaitu Albert-Schweitzer-Gymnasium dan bekas lokasi Fachhochschule für Architektur und Bauingenieurwesen di Hebebrandstraße. Desain dan arsitektur unik dari lokasi ini, seperti tangga bertumpuk dan koridor kaca panjang, memberikan nuansa yang mendukung atmosfer film. “Das Lehrerzimmer” bukan sekadar film tentang pencurian di sekolah, tapi juga kritik sosial terhadap dinamika kekuasaan, komunikasi, dan integritas dalam sistem pendidikan modern.

Discover more from Ngepop.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading