Review Film Indonesia | “My Generation (2017)” Pendar Retro-Neon

Estimasi waktu baca: 4 menit

Kekhawatiran. Pengakuan. Kebebasan.

Hal paling menantang di dunia: berusaha kontinu menangkap era ketika kita sudah bukan lagi pemain utamanya. Siapa pun terdampak oleh hal tersebut asalkan memenuhi syarat utama: beda generasi. Perbedaan itu pula yang membuat banyak orang lupa konteks ketika seenaknya mengomentari kebiasaan anak muda yang berbeda dengan eranya. My Generation garapan Upi membaca celah itu di konteks kekinian secara presisi.

Rentang waktu yang diambil oleh My Generation adalah ketika libur sekolah. Empat siswa sekolah yang kebetulan se-genk: Zeke, Konji, Suki, Orly; dihukum batal liburan karena membuat video online yang kontennya mengkritisi sekolah dan keluarga mereka. Merasa keadaan tidak adil, mereka menjalani sisa liburan dengan caranya sendiri. Namanya juga liburan, bersenang-senang adalah mata pelajaran utama. Hingga di satu titik, semesta seolah kompak menyerang keempatnya, serasa melesak menyentuh nadir.

My Generation lumayan berbeda dibanding film-film coming of age garapan sineas Indonesia sejauh ini.

Namun, di pustaka motion pictures global, film ini bukanlah satu-satunya yang pernah membidik momen serupa. Benak saya langsung terlempar, spontan merasa ada kesamaan spirit dengan filmografi Richard Linklater. My Generation lebih dekat ke Dazed and Confused (1993) dibanding Everybody Wants Some!! (2016); meski begitu, presentasi utuhnya lebih mirip hibrid keduanya. Ketiga judul tersebut sama-sama memfokuskan diri pada masa liburan yang terbatas dan dinamika yang dialami di perjalanannya.

Lewat narasinya, Upi berkali-kali mencoba menyentil paradoks relasi anak-teman-keluarga.

Mereka punya ego untuk menonjolkan afirmasi versi masing-masing. Ujaran paling umum kita dengar tentu saja yang berbunyi, “Zaman papa dulu…” (dan sejenisnya). Ucapan tersebut sering keluar dari mulut siapa pun tanpa disadari, refleks. Ucapan yang ketika keluar sebetulnya sudah tidak relevan di kondisi yang dikomparasikan. Apakah itu salah? Tidak selalu. Hanya saja kita pun perlu ingat bahwa resistensinya bisa jadi justru lebih kuat.

Pelanggaran demi pelanggaran atas tuntutan ekspektasi orang-orang terdekat dalam kehidupan tokoh-tokoh utamanya menjadi bahan bakar utama dua per tiga awal durasi film. Di sini, My Generation mencapai bagian paling primanya.

Pengarahan dedikatif seorang Upi sangat terasa mencengkeram. Dibuktikan dengan output chemistry-keseruan berdosis tinggi yang berhasil ditampilkan oleh Arya Vasco (Konji), Bryan Langelo (Zeke), Alexandra Kosasie (Orly), Lutesha (Suki); sebagai catatan, keempatnya adalah aktor baru.

Keputusan terbaik lain yang diambil oleh film ini adalah pemakaian tone retro-neon.

Sebuah jawaban sublim yang kalau kamu sadar, ini bisa dimaknai sebagai simbol elaborasi substantif dari dua era: generasi dulu (retro) dan generasi sekarang (neon). Dua-duanya sama-sama bermakna artifisial. Dan lagi, kombinasi antara teknik pengambilan gambar janggal (yang sering mikro zoom-in) dengan penyisipan berbagai lagu yang lebur berhasil tampil asyik. Menyaksikan kombinasi yang serasi semacam itu bagi saya pribadi sudah memenuhi syarat top five guilty pleasure of this year (di dalamnya termasuk serial Riverdale dan film Dear Nathan).

My Generation menawarkan banjir detail kekinian yang di satu bagian menjadikannya kaya, tetapi di beberapa bagian malah jadi bumerang.

Kita dipertemukan dengan penokohan karakter yang beragam, mulai dari yang permisif, moralis, douchebag, hingga trend boomer. Bahkan kita juga dihibur dengan penyematan fenomena kontemporer, misalnya: flat-earth, mainan hashtag, hingga proyek penghilangan keperawanan (bisa jadi cukup mengagetkan bagi sebagian orang, tapi hal ini memang benar-benar ada). Saya lebih banyak tertawa lepas menonton My Generation dibandingkan Thor: Ragnarok.

Sayangnya, ada beberapa sandungan yang begitu kentara, antara lain: penyebutan para tokoh utama sebagai generasi milenial (Generasi Y), yang di sini justru akan lebih valid melabeli mereka sebagai Generasi Z (penjelasan tentang pembagian generasi ini memang beragam, tetapi patokan saya adalah definisi yang dipakai oleh MTV, mengingat MTV merupakan korporat yang memang berkecimpung di bidang ini; Generasi Z adalah mereka yang lahir setelah tahun 2000); lalu tentang naskahnya yang beberapa kali terdengar menggurui, meski saya paham sekaligus memaafkan, bahwa “kesengajaan” ini dimodelkan seperti esai kontemporer yang belakangan marak; berikutnya terkait bridging menuju penutup (sepertiga terakhir durasi) yang lumayan gelagapan-hilang arah, penyebab utamanya karena film ini melebarkan skopnya terlalu besar dengan memberikan jatah eksplorasi emosional yang sama banyak bagi tiap-tiap karakternya.

Poin terakhir tersebut membuat masa liburan mereka tampak menemui terlalu banyak kebetulan dan konklusi. Andai saja film ini berani lebih permisif hingga akhir, dan memberikan porsi terbesarnya kepada Suki, tentu tonjokan yang diberikan bisa lebih kuat (tentang isu depresi). Karena dengan cakupan waktu libur yang terbatas, saya masih beranggapan bahwa: tidak apa-apa kalau kita tidak memperoleh semua jawaban yang kita harapkan di satu waktu, sebab itu merupakan bagian dari perjalanan pendewasaan yang penuh ketidakpastian dan kekhawatiran.

Layaknya playground (taman bermain) yang di situ banyak wahana permainan yang bisa dicoba asal berani tanggung risiko, begitulah My Generation buah hati Upi.

Sering kita dibuat mabuk kepayang oleh sensasi ketagihan mencoba semua jenis permainan, berlama-lama, saling bersuara lantang kegirangan. Namun juga, sesekali terkena insiden, entah terjatuh dari ayunan, pusing digoyang roda putar, bahkan tersungkur dari seluncuran; itu wajar, itu pembelajaran. Seawas apa pun orang tua mencoba turut campur mengawasi, toh yang bermain bukan lagi jatah mereka; sensasi itu hidup karena anak-anaknya bisa mengalami sendiri kado kebebasan ruang dan waktu. It was a fun ride!

My Generation memperoleh 8 dari 10 bintang.

Film My Generation (2017) telah ditonton pada 9 November 2017, review resmi ditulis pada 9 dan 10 November 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 442 times, 3 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required