Review Film Indonesia | “Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)” Perjalanan Sekali Tebas

Estimasi waktu baca: 3 menit

Perempuan, janda, kriminal.

Dalam objektifikasi posisi kuasa patriarkal, Marlina secara mudah masuk ke golongan triple minority. Bermula dari kesadaran ini, Mouly Surya tidak mau tunduk semudah itu. Dia menggulingkan berbagai anggapan konvensional dengan hanya bersenjatakan seni “kepepet”.

Kisah Marlina diperlakukan sebagai rangkaian empat babak. Semuanya dimulai ketika kelompok Markus (tujuh orang) berusaha merampok sisa harta keluarga Marlina setelah suaminya meninggal. “Semua” yang dimaksud termasuk si Marlina. Kondisi sedemikian mengancam membuat Marlina putar otak: bagaimana caranya meloloskan diri. Dia akhirnya berhasil meracun empat di antaranya, memenggal si gembong, dan dua sisanya batal mati karena ditugasi membawa ternak rampasan pergi. Perjalanan belum berakhir, justru baru mulai: keesokan harinya Marlina menenteng kepala Markus untuk dilaporkan ke kantor polisi.

Menonton film arahan Mouly Surya artinya mesti paham bahwa eksplosif bukanlah yang dicari. Sekalipun genre yang diangkat adalah western a la Indonesia.

Dia lebih berminat untuk mengeksplorasi kedalaman karakternya lewat jalur subtil. Tidak ada paksaan yang tampak yang disodorkan kepada penonton; tahu-tahu di akhir kita sudah rela manggut-manggut memaklumi tindakannya. Tidak berbeda jauh dengan Marlina.

Empat babak cobaan yang mesti dilalui oleh Marlina secara beruntun: Perampokan (The Robbery), Perjalanan (The Journey), Pengakuan (The Confession), dan Kelahiran (The Birth).

Pemenggalan kisah dari Marlina ini cukup menarik. Dia berbeda dengan perlakuan Quentin Tarantino pada film-filmnya yang juga berbabak. Tarantino begitu jelas memberikan judul tiap bab-nya; artinya apa yang disebut, itulah kondisi riil yang bakal diperoleh. Di Marlina, selalu tergambar kejanggalan yang membuat judul tiap bab-nya terasa belum lunas, selalu nyaris.

Ambil penjabaran begini: di bagian Perampokan, tidak ada konfrontasi yang dilakukan layaknya bayangan kita kalau kejadian ini terjadi di kondisi umum. Kedua belah pihak hanya memperlihatkan gestur mendominasi-terepresi tanpa ada kontak fisik. Apa kabar marwah “perampokan” kalau begini?

Begitu pula di Perjalanan. Meski secara kemasan bagian ini paling mendekati arti harfiahnya, tetapi naskah Marlina membiaskan fokusnya ke hal lain. Di sinilah kita justru dipertemukan dengan warga lokal dengan berbagai masalahnya. Mulai dari seorang perempuan yang hamil sepuluh bulan dan dituduh sungsang oleh suaminya, dua anggota komplotan yang mencari kepala si Markus, hingga sebuah keluarga yang membawa kuda demi memenuhi prasyarat pelamaran.

Protes kultural berdialog polos dari naskah garapan Mouly Surya (beserta Garin Nugroho dan Rama Adi) lebih kental mendominasi; menolak status quo dan memberi cambukan semangat tak terbantahkan atas nama women empowerment.

Alih-alih memperoleh kelegaan, Pengakuan justru membuat Marlina semakin dihimpit keraguan. Dia jadi tidak yakin dengan tujuan dari perjalanan yang dilakukannya. Kontras dengan penggambarannya di awal sebagai seorang perempuan yang blak-blakan minim ketakutan.

Ketika harus bertatapan langsung dengan sistem legal, dia menemui tembok penghalang kesia-siaan. Penderitaan yang dia alami tidak akan memperoleh keadilan yang diharapkan. Sejujur apa pun dia menumpahkan detail ke aparat, permasalahannya lebih pelik dari hitam di atas putih.

Di sini Marlina sadar bahwa posisi perempuan di sistem yang ada saat ini begitu tidak menguntungkan, sia-sia.

Dalam posisi Marlina yang sedang limbung, saya justru disentak ketika dia memperoleh penghiburan yang dramatis. Dia dipertemukan dengan kenyamanan dan rasa memiliki yang sudah lama absen dari kehidupannya (Topan). Mandi di bilik kali setelah melalui perjalanan fisik dan batin yang koyak serasa meluruhkan bebannya, barang sebentar.

Puncak kelegaan itu hadir di Kelahiran, ketika akhirnya seorang perempuan bisa teguh menguatkan perempuan lain dalam bilik keterbatasan. Entah kekejaman apa yang masih mendiskriminasi mereka di luar sana, tetapi ketika mereka ada satu sama lain tanpa pamrih, itu adalah capaian terbesar. Intimasi tatapan-ekspresi Marsha Timothy dan performa epik Dea Panendra adalah nyawa dari film ini.

Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak adalah usaha jenius Mouly Surya dan kru.

Menyampaikan sebuah gagasan besar tentang perempuan kepada audiens umum merupakan tantangan tersendiri. Paham akan kondisinya, film ini mencoba mengacak konvensi: menampilkan garapan yang selama ini lekat dengan kesan “laki” (male gaze, tipe western) tetapi narasinya ditunggangi oleh para alpha-female. Presentasi itu menjadi lebih memikat karena konsistensinya dalam memakai frame statis cantik dari permulaan sampai pamungkas (meski durasinya pendek, mata saya sempat kelelahan). Dipadu oleh musik etnik dan sesekali dihantui nyanyian lokal, Marlina efektif mengajak penonton untuk merasakan perjalanan, bekapan ketakutan, bahkan kehilangan dalam satu tebasan pedang.

 

Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak memperoleh 8.5 dari 10 bintang.

 

Film Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) telah ditonton pada 7 November 2017, review resmi ditulis pada 8 November 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 301 times, 21 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required