Review Film Indonesia | “Posesif (2017)” Menyitir Lingkaran Setan

Estimasi waktu baca: 3 menit

Domestic abuse bukanlah topik baru di kajian sosial maupun gelanggang sinema global. Meski begitu, penyadaran atas “kesalahan” perlakuan kasar ini sukar dilakukan, utamanya di Indonesia. Entah selama ini masyarakat kita menjadikannya sebagai suatu kenormalan, ataukah memang hal tersebut masih terkungkung di ranah tabu.

Film Posesif menyadarkan kita akan hal ini. Alih-alih membidik generasi tua yang kiranya bakal sia-sia kalau “dikasih tahu”, muda-mudilah yang akhirnya dibidik. Mumpung belum telat, mumpung belum kolot.

Film terbaru arahan Edwin ini berputar di kehidupan dua orang yang saling bermadu kasih: Lala dan Yudhis. Dinamika relasi keduanya layaknya penjajal roller-coaster: dimulai dengan hangat ruam-ruam kuku, lalu mendaki layaknya pompaan hormon pertumbuhan masing-masing, hilang akal seketika ketika sedang di puncak tanda siap meluncur, koyak ketika kereta merosot jatuh sehingga penumpang mesti pasrah pada keamanan wahana. Penekanannya: impresi pertama kita terhadap diri seseorang bisa benar-benar lain ketika akhirnya kita sudah ikut masuk ke dalamnya. Bisa manis, lebih-lebih pahit.

Pertemuan pertama saya dengan karya Edwin tidak baik-baik saja. Kala itu saya masih SMP, dan perkenalan awal dimulai dengan Babi Buta yang Ingin Terbang. Di satu sisi, sajian itu sukses mengajak saya untuk berkenalan dengan yang namanya satire kehidupan. Tentang kontradiksi-kontradiksi dan ketidakadilan lingkungan tempat tinggal. Di lain sisi, batin tidak tenang karena menyaksikan banyaknya kebusukan dunia ketika mental saya belum sekuat sekarang. Dari pengalaman yang kurang nyaman tersebut, malah sebetulnya saya bersyukur karena pada akhirnya jiwa permisif ini sudah dilatih sejak dini.

Ciri khas Edwin itu nyata.

Bahkan ketika dia memutuskan untuk mewujudkan sebuat karya audio-visual bercorak “populer”, saya sudah menduga bahwa hasilnya tidak mungkin biasa saja. Satu pegangan yang harus kita sadari sejak awal adalah tagline-nya: Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya.

Korelasi antara tagline dan “posesif” (baik sebagai judul maupun sebagai istilah bermakna literal) terbaca dengan jelas. Dalam perkembangannya, Edwin menahkodai naskah garapan Gina S Noer ini dengan begitu tenang (meski secara substansi saya tidak begitu terkejut sebab kuartal kedua 2017 saya sudah lebih dulu nonton serial Big Little Lies).

Kita disadarkan bahwa posesif tidak hanya berkiblat pada relasi romansa. Berbagai keseharian yang mengharuskan kita berhubungan dengan orang lain bisa mengandung indikasi ini. Secara gamblang, film ini menunjukkan bahwa selain posesif di ranah privat hubungan Lala-Yudhis, kita dilarang abai bahwa sikap itu pun ikut muncul di relasi keluarga Lala (dengan ayahnya), keluarga Yudhis (dengan ibunya), bahkan dengan para sahabat Lala.

Lala sebagai seorang atlet diving di sini selalu dihantui oleh bayang-bayang ibunya (yang juga seorang atlet) dan obsesi besar ayahnya. Tidak berbeda jauh dengan Yudhis yang semacam hidup di dalam kandang kecil, kandang yang setiap saat diawasi oleh tatapan nyalang ibunya. Dari situlah, kemudian tersemai benih-benih “balas dendam” secara tidak langsung. Baik melalui pengkhianatan demi memperoleh kebabasan pilihan hidup sebagai young-adult, maupun meniru kelakuan bejat orang terdekat dan melampiaskannya ke orang lain—sadar maupun tidak sadar.

Lingkaran setan seperti di atas tidak pernah berakhir baik-baik saja. Namun, namanya juga manusia, pembelajaran paling berharga dari sifat denial adalah ketika akhirnya mereka paham sendiri bahwa dirinya salah. Dan titik balik ini sama-sama berhasil ditunjukkan oleh para karakter inti di film Posesif secara tuntas. Bisa jadi inilah kali pertama filmografi Edwin “baik hati” dalam memberikan “jawaban” rigid kepada penonton.

Putri Marino sukses membuat saya kagum dengan penampilannya. Tentu alasan utamanya karena dia berhasil menduplikasi aktivitas seorang atlet diving secara meyakinkan. Cabang olahraga yang cukup ekstrim. Interaksi Putri dan Yayu Unru begitu subtil sebagai gambaran sosok anak-ayah.

Selanjutnya, terus terang Adipati Dolken-lah yang di sini sukses mencuri perhatian. Bidikan kamera yang intim merekam perubahan ekspresi wajah serta gesturnya menjadi saksi bisu bahwa dia adalah aktor muda yang “mengerikan”. Transisi kepribadian Yudhis bisa dikatakan acting in a whole new level di sinema Indonesia. Jangan lupakan sosok Cut Mini yang kali ini memperoleh peran nan menantang di posisi ibu Yudhis.

Posesif adalah tentang ungkapan “begitu dekat tetapi begitu jauh”.

Konsekuen pula dengan adegan pembuka dan penutupnya: Lala yang sedang lari-lari di pagi buta. Sebuah pernyataan yang seolah berteriak bahwa: kita selalu bergerak maju dalam rutinitas, tetapi bukan berarti kita yang dulu dan kita yang sekarang adalah orang yang sama. Layaknya kamera yang selalu menyorot “benda bergerak” sebagai transisi antarsekuens (komidi putar, kipas angin, kendaraan), layaknya timbul tenggelamnya lantunan lagu yang terpadu dengan sempurna, layaknya lampu neon bertuliskan “forever” yang menyala di awal dan padam di akhir; siklus pembelajaran kehidupan itu terus berputar.

Atas usaha film ini menyitir “posesif” sebagai kata yang tidak keren, apresiasi tak ada habisnya untuk semua yang terlibat di dalam produksinya.

 

Film Posesif memperoleh 8.8 dari 10 bintang.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 41 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required