Review Film Indonesia | “Dilan 1990 (2018)” Ruang Interaksi Itu Begitu Hangat

Estimasi waktu baca: 4 menit

Dilan sebagai sebuah film adalah keramahan.

Di installment 1990-nya ini, kita disuguhi pengisahan yang sederhana, tidak neko-neko, tapi tetap efektif sekaligus hangat berkat chemistry lumer kedua penggawa utama: Iqbaal dan Vanesha sebagai Dilan dan Milea.

Film ini diceritakan dari sudut pandang Milea dewasa. Sendiri di kamar apartemennya, dia mulai menuliskan kembali kenangan di masa lalu. Masa ketika dia pertama kali berjumpa degan seorang bocah SMA tengil, pentolan geng sekolah, tapi juga sosok nan puitis bernama Dilan. Agresivitas dan kepercayaan diri seorang Dilan untuk mengejar cinta Milea menjadi pasak utama narasinya. Dengan formula pendekatan yang seolah sudah terukur dengan begitu masak (lengkap dengan manajemen risikonya), interaksi keduanya sepanjang durasi berjalan menyenangkan.

Lupakan tentang dikotomi kubu pembaca novelnya dan yang tidak familiar dengan sumber aslinya. Film ini adalah sebuah perwujudan adaptasi yang berhasil menggapai status universal. Artinya, dugaan di awal bahwa Dilan 1990 bakal mengalienasi sebagian penonton tidak terbukti benar.

Duet Pidi Baiq (yang juga sebagai penulis asli bukunya) dan Fajar Bustomi di posisi sutradara berhasil menciptakan karya sinema yang begitu sederhana.
Saking sederhananya, naskah film ini tidak mau repot-repot melebarkan narasinya terlalu jauh ke subteks karakter-karakter pendukung.

Keputusan yang sangat bijak, sebab meskipun di sini pemeran pendukungnya tergolong cukup banyak, tapi porsi kehadiran mereka berada di level pas. Tidak dominan, sehingga tidak sampai menciptakan subteks utuh–yang potensial mengacaukan teks utamanya. Dengan kata lain, cara Dilan 1990 menata porsi karakternya adalah dengan menggunakan formula inner-circle Milea (bergantung pada intensitas interaksi keseharian): pasangan, teman, orang tua, adik (atau famili lain), baru sosok lain (guru, misalnya). Ketika hal ini juga kalian sadari, agaknya kia bisa sepakat bahwa ini adalah tindakan yang brilian.

Pendekatan kesederhanaan penceritaan semacam ini langsung mengingatkan saya pada The Spectacular Now (2013).
Kedua film tersebut sama-sama menjadikan pembangunan relasi kedua karakter intinya sebagai pusat rotasi semesta.

Memang masing-masing protagonis punya atribut fundamental (Dilan yang panglima geng, misalnya), tetapi itu bukanlah urgensi utamanya. Di sini, tindakan pelabelan karakter yang tidak eksklusif di satu kriteria membuat personalitas sosok terkait menjadi sangat lentur (tidak tampil maksa, tidak terkesan tiba-tiba ada) ketika di perjalanannya dia ditempeli label tambahan (Dilan yang kemudian diketahui sebagai sosok yang puitis, terliterasi, dan sayang keluarga). Dinamika penyingkapan identitas “baru” semacam ini malah menambah keasyikan perjalanan kita sebagai penonton (sama seperti yang dirasakan/dialami langsung oleh Milea).

Dalam catatan saya, secara substansial Dilan 1990 tidak memiliki sandungan berarti.

Bahkan sekalipun sosok Dilan digambarkan sebagai seorang remaja yang sering berucap dalam bahasa formal. Keputusan pemakaian dialog yang lekat dengan kesan tekstual ini sebenarnya bisa menjadi blunder kalau penanganannya tidak tepat. Beruntunglah, Dilan di sini menggunakan percakapan model itu secara konsisten.

Di sini, pujian tentu saja mesti dialamatkan kepada Iqbaal Ramadhan yang tidak cuma berhasil menghidupkan karakter Dilan lewat mimik muka dan gestur tubuh, tapi juga secara impresif sanggup memainkan artikulasi ucapannya (yang tepat sasaran). Penampilan prima yang sama yang juga ia tunjukkan kala membintangi Ada Cinta di SMA silam. Begitu pula dengan Vanesha Prescilla sebagai Milea yang tampak tidak kesulitan dalam memunculkan persona gadis polos yang gampang salah tingkah. Ketika duo itu disatukan dalam satu ruang interaksi, terjadilah combo–yang seringnya bikin penonton ikut-ikutan salah tingkah.

Hanya saja, sebagai sebuah presentasi yang utuh, film ini memang tidak terlalu mulus dalam menyembunyikan kekurangan teknikalnya.

Secara teknis, ada inkonsistensi pengambilan gambar dan penyuntingannya. Saya tidak tahu apakah adegan antara ibunya Dilan dan Milea di dalam mobil sengaja diperlakukan demikian (menggunakan green screen) demi mewujudkan kesan film 90-an, ataukah ini memang keterbatasan produksi. Rasanya agak janggal ketika shots berantem saja bisa dibuat dengan begitu yakin (lengkap dengan akrobat angle kameranya), tetapi adegan di dalam mobil yang cuma menunjukkan interaksi dua orang malah harus diwujudkan lewat manipulasi gambar (padahal bonding-nya di sini cukup menarik).

Aspek teknis lain, saya sungguh mengapresiasi kerja tim production design-nya.

Cara film ini untuk sebisa mungkin memperhatikan detail (jalanan Bandung yang lengang, gedung TVRI dengan logo lama, materai terbitan era itu, dan sebagainya) layak dipuji. Memang tidak bisa sepenuhnya sesuai dengan penggambaran era itu, tapi paling tidak sudah tampak itikad baik buat mengusahakannya.

Menjadi film coming-of-age rilisan 2018, tentu bukan kuasa Dilan 1990 untuk bisa terbebas dari belenggu pembandingan dengan film sejenis rilisan tahun-tahun sebelumnya.

Posesif misalnya. Namun, di sini, dengan mengambil skop waktu rilis yang dipersempit (beberapa tahun belakangan), saya tegas mengatakan bahwa Dilan 1990 dan Posesif berjalan di jalur yang berbeda. Implikasinya, pembandingan keduanya tidak menjadi pembanding yang imbang. Malahan, kalau mau tetap dikomparasikan, film ini lebih mirip dengan Dear Nathan. Lebih jauh, saya pun percaya diri menyebut bahwa dari sisi naskah, Dilan 1990 masih lebih matang dari Dear Nathan (yang sama-sama film adaptasi novel; meski Dear Nathan memang unggul di bagian subteks, tetapi bagian subteks ini kembali lagi ke penjelasan saya sebelumnya).

Dilan 1990 adalah salah satu contoh yang baik di mana kita bisa dengan mudah memaafkan kekurangan teknis produksi dan urgensi narasi ketika penyampaian substansinya bisa tampil handal.

Sebagai sebuah pembuka, keputusan film ini untuk menjadi minim konflik sebetulnya malah menjadi investasi terbaiknya. Dengan langkah ini, maka build-up ke depannya tidak akan terlalu kewalahan, sebab kedekatan dengan para karakternya sudah berjalan lumayan subtil, pun eskalasi konfliknya belum terlalu hiper. Dalam artian, ketika di teknis gambar kita mengenal istilah color grading, Dilan 1990 menunjukkan kepada kita bahwa hal itu juga bisa diadopsi ke ranah karakter. Terjadi penyesuaian atmosfer film di sini sehingga seolah-olah sosok Dilan-Milea memang diciptakan untuk diperankan khusus oleh Iqbaal-Vanesha.

 

Dilan 1990 memperoleh 8.5 dari 10 bintang.

 

Film Dilan 1990 (2018) telah ditonton pada 26 Januari 2018, review resmi ditulis pada 27 Januari 2018.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 501 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Catatan Film | “Black Panther (2018)”, Selebrasi Kultural, dan Realitas Alternatif yang Menggetarkan • Ngepop | your ultimate lunacy

    […] menolak, dengan menurunkan suara) ketika Milea mengajaknya jalan demi menggagalkan rencana tawuran di film Dilan 1990 […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required