Review Film Indonesia | “Dear Nathan (2017)” Chemistry yang Hidup

Siapa bilang sinema Indonesia pemainnya itu-itu saja?

Di film-film tipe khusus (biopik, franchise besar, dan sekelasnya) memang nama-nama yang muncul cuma serasa bongkar pasang. Namun, kalau mau lebih bijak, coba tengok film-film coming of age yang diproduksi. Di sinilah ceruk regenerasi tumbuh dan berkembang; dan agaknya di genre inilah penemuan talenta baru berbakat berada di jalur yang benar. Dear Nathan semakin meneguhkan hal itu.

Pembukanya memperlihatkan Salma yang telat masuk sekolah–dan pagarnya telah dikunci–karena dia berjiwa mulia dengan menolong seorang bapak yang tuna netra menyeberang jalan terlebih dahulu. Dia telat tidak sendirian, tiba-tiba muncul Nathan, cowok SMA yang hobi ngajak ribut dan berkelahi. Waktu itu, ternyata pelipis Nathan terluka. Salma refleks memberi penanganan awal dan menutup lukanya dengan plester luka bermotif. Sebagai balas budi, Nathan menunjukkan “cara alternatif” masuk ke dalam sekolah. Perjalanan tarik ulur perasaan mereka berdua bermula dari sini.

Tahun lalu, kepercayaan saya pada film coming of age produksi dalam negeri dikembalikan dengan sangat manis oleh Ada Cinta di SMA–saya pun sampai membuat tulisan terpisah yang menjelaskan kenapa ACdS adalah AAdC buat generasi sekarang. Di review ACdS, saya telah memaparkan betapa tricky-nya pembuatan film semacam ini. Ketika pembuat film jenis ini paham dengan apa yang ingin disampaikan tanpa perlu terlalu eksploitatif di aspek drama–sebab seringkali malah terkesan dibuat-buat–dan mengerti bahwa kepolosan penuturan adalah sahabat sejatinya, sebuah film coming of age bisa langsung memperoleh golden ticket garansi keberhasilan secara kualitas.

Saya tidak mau mengulang terlalu banyak sesuatu yang sudah pernah dituliskan sebelumnya; tapi intinya ketika ditarik ke sini, Dear Nathan sukses menjadi film bagus.

Di review ini saya juga tidak akan membandingkan film dengan novelnya–karena memang belum baca. Sehingga apa yang tertulis adalah dari sudut pandang seseorang yang menyesap kisahnya untuk pertama kali di layar lebar.

Dear Nathan sangat terbantu oleh Jefri Nichol si Nathan dan Amanda Rawles si Salma.

Chemistry keduanya adalah wujud interaksi yang lucu sekaligus menarik untuk disimak. Berbagai basa-basi serta celetukan kontras yang ada bahkan bisa membuat penonton ikut senyum-senyum sendiri. Sama halnya dengan Ada Cinta di SMA, Dear Nathan pun memiliki sangat banyak momen “masa bodo, yang penting keluarin sekenanya dulu”.

Di level “menghidupkan adegan”, Nathan adalah mesin pacu utama yang sangat bisa diandalkan.

Tiap kehadirannya selalu berada di persimpangan: antara percaya diri dan kepedean, batasnya tipis. Atas dasar mulusnya interaksi janggal inilah paragraf pertama hadir. Nichol dan Rawles adalah bibit regenerasi yang menjanjikan ke depannya.

Dan karena ini adalah film tentang Nathan, maka sudah semestinya saya mengapresiasi “terwujudnya” sosok ini di realitas film dengan lebih layak.

Nathan hadir dan diperkenalkan sebagai sosok yang problematis.

Kita banyak melihat adegan laga (perkelahian) yang intens–kudos Nichol–bahkan lebih intens dan riil dibandingkan film aksi kebanyakan yang diproduksi oleh sineas Indonesia. Oh satu lagi, Nathan berhasil mencontohkan bagaimana cara misuh (mengumpat) secara proper serta paham situasi-kondisi pemakaiannya–mengingat masih banyak film Indonesia yang menampilkan adegan misuh sekenanya dan berujung pada kesan dibuat-buat, contoh terbaru di film Moamar Emka’s Jakarta Undercover.

Untuk sisa durasi, film ini jeli mengupas sumber masalah pribadi Nathan satu demi satu secara benar.

Benar yang saya maksud adalah film ini meletakkan timeline Nathan di lajur utama dan memberikan ruang penjelasan tentang kehidupan pribadi karakter lain (terutama Salma) secukupnya. Kita diajak benar-benar masuk ke bagian paling rapuh dari seorang Nathan. Dia yang dikata orang lain sebagai biang onar, tapi itu semua sebetulnya adalah akumulasi kekecewaannya. Dan pengembangan kisahnya untunglah tidak sok ngide melebar terlalu jauh ke kehidupan karakter pendukung lain. Kehadiran sosok seperti nenek Nathan, sahabat Salma, bahkan Salma sendiri bisa dikatakan lebih sebagai bridging supaya kita bisa bergesekan dengan berbagai fragmen masa lalu Nathan (bapaknya yang keras, saudara kembarnya yang malang, ibunya yang depresi, mantannya yang menthel) secara wajar–meski tetap ada yang terasa terlalu instan.

Keputusan ini adalah pilihan bijak demi menghindari plot terlalu paralel yang justru bisa bikin keteteran.
Namun, bukan berarti Dear Nathan bisa benar-benar keluar dari jebakan penuh muslihat ini. Perlu diketahui bahwa film ini memasukkan terlalu banyak karakter minor dan elemen teknis pendukung.

Di bagian tertentu, ada beberapa pemeran pendukung yang kemudian nyatanya jadi membutuhkan penjelasan tentang motif kehadiran mereka secara lebih jelas–porsi mereka belum sampai di titik tuntas. Semisal mantan pacarnya Nathan yang sering main ke rumah serta dua teman dekat Salma. Dan omong-omong, saya sebenarnya sangat berharap untuk melihat eksplorasi sisi “geek”-nya Salma lebih lanjut, sebab sejauh pengalaman, saya masih jarang menemukan cewek yang ngerti spesifikasi teknologi dan semacamnya seperti ini. Apalagi di bagian ini posisi Salma lebih paham dibanding si cowok (ketua Osis), menarik.

Di teknis, kita bisa dengan mudah mendapati perbedaan kualitas gambar yang ditampilkan, terutama di adegan minim cahaya. Dan lagi, pemasukan banyak soundtrack ke sepanjang durasi justru terkesan menggaggu, padahal scoring saja rasanya sudah akomodatif. Pun coba amati gap timeline yang cukup ganjil di momen-momen krusial, misalnya sewaktu (spoiler) pemakaman ibu Nathan serta kelahiran adik baru Nathan dari ibu tirinya (/spoiler).

Dear Nathan adalah tentang memahami terma maaf dan frasa terima kasih.

Setiap gesture yang ditampilkan oleh inner circle tokoh utama selalu merupakan manifestasi tarik-ulur dari dua hal tersebut. Meski skenarionya tidak begitu mulus karena masih ada cukup banyak dialog model teks tulis bukan lisan–termasuk puisi di akhir yang tidak cukup signifikan dalam mengawal penutup. Namun, karena pada dasarnya logika struktur pengisahannya sudah bagus, hasil presentasi film arahan Indra Gunawan ini akhirnya pun tetap bagus.

Di penghujung, menonton Dear Nathan artinya kita semacam menjadi saksi usaha seseorang untuk menerima diri sendiri dan orang lain dengan rela. Fakta di mana film ini meraih ikatan emosi tertinggi justru ketika membiarkan adegannya tersaji sepolos mungkin–dengan long pause, hening, mengutarakan isi hati secara perlahan, tidak tergesa-gesa, minim tumpukan musik di editing–membuktikan bahwa Dear Nathan memang piawai dalam mengeksplorasi aspek kedalaman batin tanpa perlu neko-neko.

Dear Nathan memperoleh 8 dari 10 bintang.

Film Dear Nathan (2017) telah ditonton pada 27 Maret 2017, review resmi ditulis di hari yang sama.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 4,446 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Review Film Indonesia | “Dilan 1990 (2018)” Ruang Interaksi Itu Begitu Hangat • Ngepop | your ultimate lunacy

    […] pembanding yang imbang. Malahan, kalau mau tetap dikomparasikan, film ini lebih mirip dengan Dear Nathan. Lebih jauh, saya pun percaya diri menyebut bahwa dari sisi naskah, Dilan 1990 masih lebih matang […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required