Tuesday, July 23

Review Film | “Promising Young Woman” (2020) Trauma yang Menguatkan

Promising Young Woman” datang sebagai salah satu film yang paling banyak dibicarakan pada tahun 2020. Sebagai debut penyutradaraan dari penulis sekaligus sutradara Emerald Fennell (yang di tahun ini siap menghentak lagi dengan karya barunya Saltburn (2023)), film ini memberikan pesan yang tajam dan berani tentang kultur pemerkosaan (rape culture), balas dendam, dan trauma.

Diceritakan melalui mata Cassie Thomas (yang diperankan dengan sangat memukau oleh Carey Mulligan), kita melihat seorang wanita muda yang dulu memiliki masa depan cerah di dunia medis. Namun, sebuah tragedi yang menimpa sahabatnya mengubah segalanya, menjadikan Cassie seorang yang penuh dengan rasa dendam.

Fennell dengan cerdas membongkar stereotip wanita sebagai korban lemah dengan menampilkan Cassie sebagai predator, mengintai di bar-bar setiap malam dan memancing pria yang berusaha memanfaatkannya. Namun, apa yang tampak seperti skema balas dendam sederhana ternyata menjadi jauh lebih kompleks seiring berjalannya cerita.

Salah satu kekuatan dari “Promising Young Woman” adalah cara Fennell memutarbalikkan ekspektasi penonton.

Di era #MeToo, di mana kisah-kisah pelecehan seksual banyak terungkap dan diangkat dalam berita, film ini datang sebagai sebuah komentar sosial yang memprovokasi. Film ini menggali ke dalam kedalaman gelap dari rape culture dan mempertanyakan tanggung jawab kolektif kita dalam membiarkannya terjadi.

Karakter Cassie sendiri menjadi wujud dari kemarahan dan keputusasaan banyak wanita yang merasa dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.

review promising young woman 2020

Meskipun film ini berada dalam genre dark comedy dan thriller, emosi yang diperlihatkan sangat nyata dan mendalam. Ini bukan hanya tentang Cassie, tetapi tentang setiap wanita yang pernah merasa tidak didengar dan tidak dipercaya terkait pengalaman kelam mereka.

Estetika film ini pun sengaja dibuat bertolak belakang dengan tema yang gelap. Dengan pilihan warna neon-pastel dan soundtrack pop yang ceria, Fennell menggambarkan dunia Cassie yang tampak manis di luar tetapi penuh dengan duri di dalam.

Sebagai film yang menggabungkan berbagai genre, “Promising Young Woman” juga berfungsi sebagai kritik terhadap bagaimana media menggambarkan wanita dan trauma.

Dalam banyak film lain, wanita yang mengalami trauma seringkali digambarkan sebagai sosok yang hancur atau rusak. Namun, Cassie mengingatkan kita bahwa trauma tidak selalu menghancurkan; kadang-kadang, trauma justru menguatkan.

“Promising Young Woman” adalah sebuah tantangan bagi penonton untuk mempertanyakan asumsi-asumsi mereka tentang wanita, trauma, dan keadilan.

Meskipun beberapa momennya mungkin membuat penonton merasa tidak nyaman, itu adalah tujuan utama dari film ini: untuk mengguncang, memprovokasi, dan memaksa kita untuk berpikir ulang.

Film ini bukanlah cerita balas dendam yang sederhana. Ini adalah cerminan dari masyarakat kita saat ini, dengan semua ketidaksempurnaan dan kontradiksinya. Dengan “Promising Young Woman,” Fennell mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, untuk membuat perubahan, kita harus siap untuk menghadapi kenyataan yang paling menyakitkan.

Discover more from Ngepop.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading