Wednesday, October 27

Akhir 2015, Era Awal Booming Streaming Musik

Sebagai sebuah band legendaris, The Beatles dikenal dengan keradikalannya dalam menggunakan teknologi perekaman. Bisa dikatakan merekalah yang pertama kali menggunakan efek studio yang dikenal sebagai tape-looped untuk menggandakan vokal. Namun sayangnya, beberapa tahun belakangan ini lagu-lagu mereka tidak terdengar eksistensinya dalam medium modern untuk menikmati musik, yaitu via website streaming. Sampai akhirnya pada penghujung Desember 2015, lagu-lagu The Beatles mulai akan disediakan di website-website dan aplikasi streaming musik.

Mulai 25 desember 2015 pukul 00:01 di seluruh dunia, seluruh katalog The Beatles akan tersedia pada sembilan situs streaming musik, termasuk Spotify, Amazon Prime, dan Google Play. Bahkan katalog The Beatles juga akan tersedia pada Aple Music—delapan tahun pasca kasus hukum yang panjang dan melelahkan antara Apple Music, perusahaan milik The Beatles, serta Apple yang memperebutkan logo buah apel yang digunakan dalam industri musik.

Grup musik populer yang paling digemari ini telah lama memiliki celah yang cukup mencolok antara mereka dengan situs streaming musik. Situs streaming musik menjadi semakin populer walaupun ada beberapa permasalahan terkait isu royalti dan sebagainya.

Tahun lalu, Taylor Swift menarik seluruh produk musiknya dari Spotify, walaupun katalog Taylor Swift masih tersedia di Aple Music. Juni Tahun ini, raksasa dan legenda musik asal Australia, AC/DC, akhirnya memutuskan untuk mengubah sikap setelah sebelumnya menolak memasukkan musik mereka ke situs streaming.

Menurut Gennaro Castaldo, juru bicara untuk BPI (British Phonographic Industry, semacam asosiasi industri musik se-Britania), Seperti dilansir oleh The Guardian mengatakan bahwa pengumuman pelepasan katalog The Beatles ke situs-situs streaming merupakan satu langkah industri streaming musik masuk ke arah mainstream. Castaldo juga memprediksi The Beatles akan banyak membantu menjaring pengguna situs streaming baru.

Nampaknya, ada permintaan yang sangat besar terhadap musik The Beatles di situs-situs steaming. Hampir 1,1 juta orang telah mengikuti akun resmi The Beatles di Spotify. Dan berkat segelintir lagu kompilasi, Band legendaris ini memiliki sekira 350 ribu pendengar dalam sebulan. Sementara itu, hak-hak atas katalog The Beatles yang beredar di situs-situs streaming akan dipegang oleh Universal Music Group, yang mengakuisisi label The Beatles, EMI, dan Sony/ATV Music publishing yang memiliki hak atas sebagian besar atas musik The Beatles.

streaming ngepopcom banner

Terlambat masuk atau wait and see?

Dunia bisnis rekaman semestinya memiliki reaksi yang seragam. Apa yang menahan mereka selama ini? Manajer Father John Misty, Terry McBridge, seperti dikutip oleh Rolling Stone mengatakan bahwa The Beatles kemungkinan telah kehilangan puluhan juta dolar karena telat terjun ke industri streaming. “Saya sangat yakin bahwa banyak orang, mungkin lebih tepatnya jutaan orang yang merupakan fans The Beatles yang tidak bisa mengakses lagu The Beatles di situs streaming, hal ini merupakan kesempatan besar yang terbuang sia-sia,” imbuhnya.

Beberapa tahun belakangan, industri rekaman mengalihkan energinya dengan berjualan menggunakan CD dan download digital. Menurut Recording Industry Association of America, pendapatan dari Spotify, Youtube, dan situs streaming lain melonjak tajam dari sekitar US$600 juta pada 2012 menjadi hampir US$1,1 milyar pada 2014. Namun, beberapa musisi seperti Thom Yorke dari Radiohead dan Joanna Newsom memprotes rendahnya pembayaran royalti yang mereka terima dari streaming. Bahkan selama dua tahun terakhir, Taylor Swift dan Adele menarik album terlaris mereka dari layanan streaming tersebut.

Lagu-lagu The Beatles pada awalnya juga absen dari situs musik pay-to-own milik Apple, iTunes. Namun akhirnya muncul lima tahun lalu setelah negosiasi yang panjang dan alot. Lagu solo dari mantan personel The Beatles sebenarnya juga sudah tersedia di berbagai situs streaming musik.

Mungkin The Beatles tidak mau merasa ditinggalkan. Seperti dilansir oleh Billboard 100, anggota The Beatles yang masih hidup dan ahli waris dari John Lennon dan George Harruson terpengaruh oleh keputusan yang diambil oleh Led Zeppelin dan AC/DC yang mengizinkan situs streaming memakai karya mereka.

The Beatles memilih waktu rilis karyanya dengan tepat kali ini. Grup musik legendaris ini sebelumnya disebut-sebut terlalu lama menjauhi penjualan dengan sistem download. Namun, kini The Beatles justru terjun ke industri streaming ketika masih dalam masa awal perkembangan.

Meluncurnya The Beatles ke industri streaming membuat Tidal, Rhapsody, Google Play Music dan sebagainya mendapatkan coverage media secara cuma-cuma dan masif. Hal ini bertepatan pula dengan Hari Raya Natal dan akhir tahun di mana banyak sekali gadget baru yang dibeli untuk hadiah atau karena ada promo diskon. Awal 2016 bisa menjadi masa di mana momentum benar-benar berada di pihak industri streaming.

Tentunya katalog lama memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan katalog baru. Menurut Nielsen Music, sekitar 70 persen dari musik rock yang dapat diakses melalui streaming adalah katalog lama. Musisi pendatang baru atau yang kariernya sedang melejit tentu tidak mempunyai katalog yang cukup populer untuk menghasilkan aliran royalti yang diinginkan. Label dengan musisi baru membutuhkan royalti secara cepat. Pembelian langsung tentu lebih cepat menghasilkan royalti dibanding streaming

Musisi muda yang sedang berkembang harus mencari cara untuk menggunakan industri streaming untuk perkembangan mereka. Terlepas dari besaran royalti yang dibayarkan, mereka harus mampu bekerja dalam tatanan baru ini. Taylor Swift dan Adele pantas untuk diapresiasi karena mampu menekan industri streaming dan mewakili musisi yang tidak mampu bersuara. Namun jumlah musisi yang mau menolak beberapa atau seluruh tawaran perjanjian industri streaming masih bisa dihitung jari.

Performa Industri Streaming

Industri streaming telah menggantikan unduhan digital sebagai harapan industri musik untuk selamat dari penjualan yang terus berkurang sejak 1999. Layanan streaming muncul sebagai sumber pendapatan utama bagi industri musik sejak 2011, di mana pada tahun itu pendapatan royalti dari streaming menyumbang pendapatan sebesar 10 persen.

Pada paruh pertama tahun 2015, pendapatan dari streaming online tumbuh menjadi 32 persen dari penjualan di Amerika Serikat. Menurut Recording Industry of America, pendapatan dari streaming mampu menambal penurunan pendapatan yang dialami penjualan CD dan single digital.

Walaupun beberapa musisi seperti Adele dan Taylor Swift telah menarik musik baru mereka dari situs streaming, popularitas layanan streaming tetap saja melejit. Sebab konsumen tertarik dengan kemudahan dan kecepatan akes terhadap jutaan lagu tanpa harus repot untuk memilikinya. Spotify misalnya, penggunanya bertambah dua kali lipat dari Mei 2014 ke Juni 2015, mencatatkan 75 juta pengguna di seluruh dunia. Walaupun diboikot oleh sejumlah musisi karena memiliki bagian yang tak berbayar, katalog The Beatles tetap akan tersedia di platform Spotify yang berbayar maupun yang gratis.

Nyatanya, industri streaming telah mampu menunjukkan bahwa mereka patut diperhitungkan. Konsumen akan merasakan perbedaannya, dan apabila semua berjalan sesuai rencana, mereka akan mau membayar. Sehingga tidak salah ketika 2015 berakhir, sebuah era baru telah tumbuh. Era streaming musik.

(Visited 363 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *