Monday, August 2

Catatan Serial | “Narcos Season 2” Dramatis dan Bagaimana Potensi Musim Selanjutnya?

Ketika saya pertama kali menyaksikan Narcos, yang paling melekat di kepala adalah nama Escobar, Escobar, dan Escobar. Dia adalah sosok yang licin, selicin belut. Bahkan aparat Kolombia dibantu oleh intervensi federal Amerika via DEA saja tidak bisa dengan singkat menangkapnya.

Di musim pertama, Narcos adalah sajian kataklismik yang secara di luar dugaan sempat sampai membuat saya kewalahan. Terutama karena waktu itu saya belum banyak mengeksplor sejarah panjang seorang Escobar.

Musim pertama laksana neraka bagi siapa pun yang menontonnya. Kalau selama ini Game of Thrones disebut-sebut merupakan raja tega karena sering mematikan karakter fiksinya, Narcos adalah wujud sebenarnya dari raja tega itu di dunia nyata.

Ketika menonton Narcos, kita diwajibkan untuk siap apabila sewaktu-waktu di layar bakal nampak pembunuhan bar-bar. Sasaran pembunuhannya pun bisa sangat tidak terduga. Itulah yang menjadi senjata utama Narcos tahun lalu. Intens dan brutal dikemas secara kolaboratif hingga rasanya sulit untuk sekadar menarik napas panjang.

Dan lagi, di review pendek yang sudah saya tulis buat deskripsi daftar serial tv terbaik 2015, di situ juga sudah tertera bahwa Narcos sangat tahu bagaimana meramu sebuah pertunjukan yang padat. Saya mengumpamakan: kalau di serial lain suatu rangkaian kejadian bisa dipecah menjadi tiga episode, di Narcos nekat dijadikan satu episode. Terbayang, kan, betapa tingginya level intimidasi yang disuguhkan?

Itulah mengapa ketika season finale di musim perdana tandas, saya sungguh tidak sabar menunggu kelanjutan musim keduanya.

Petak umpet Escobar

Berbekal bayangan tensi setinggi musim perdana, saya dibuat sangat kegirangan ketika tahu bahwa musim kedua Narcos bakal dirilis 2 September 2016. Karena ini Netflix, tentu saja seluruh episode-nya akan dirilis secara bersamaan. Dan sesuai perkiraan, Narcos musim kedua ini saya habiskan dalam kurun waktu sehari saja.

Kalau diminta merangkum musim kedua dalam pernyataan pendek, Narcos Season 2 adalah sajian yang lambat nan dramatis.

Hal ini cukup membuat antusiasme saya sempat ciut. Komposisi 10 episode nampaknya terkesan dipanjang-panjangkan. Setelah merunut satu demi satu, sebenarnya Narcos Season 2 bisa dipadatkan menjadi delapan episode saja.

Ada beberapa faktor mengapa bisa begitu. Pertama, taktik Escobar di sini sudah tidak sekuat musim perdana. Kedua, ini adalah musim yang menjadi transisi dari rezim kekuasaan Escobar ke kartel narkoba lainnya. Ketiga, rentang waktu kejadian yang diadaptasi sangatlah pendek.

Coba amati episode sembilan sebagai contoh. Ini adalah episode yang paling melar dibandingkan lainnya. Di sini penonton akan dipertemukan dengan sosok ayah Escobar yang selama ini belum pernah ditampilkan. Pertemuan ini terjadi sesaat setelah rencana serangan besar Escobar gagal total. Dia harus mencari tempat persembunyian yang baru.

Di satu sisi, episode ini sesungguhnya sangat menarik. Di sini hubungan emosional Pablo Escobar kentara sekali. Penonton akan melihat perangai lain dari seorang Escobar. Dan di sini pulalah bridging menuju “final act”-nya terbangun di mana posisi kuasanya sudah pincang kala Los Pepes sukses membuat limbung, Velasco, Blackie, pun la Quica tertangkap, Lion jatuh, dan tinggal tersisa Limon sebagai orang kepercayaannya.

Hanya saja, ada terlalu banyak eksploitasi scene dramatis di sini. Di episode kesembilan, Narcos semacam kehilangan jati diri. Yang sayangnya, sepanjang musim kedua ini sebenarnya hal itu tersebar di banyak episode-nya—dengan kadar berbeda-beda.

Maksudnya, ketika dulu di musim perdana Narcos tampil sebagai sajian yang tidak simpatik, semestinya hal itulah yang dipertahankan. Justru karena gagasan “tidak simpatik” yang diambil, penonton malah bisa mengamati sisi simpatik mana yang bisa dicuplik dari sosok Escobar melalui berbagai tampilan tersirat.

Berbeda dengan yang sekarang, musim kedua sudah seperti meng-endorse seorang Pablo Escobar. Melalui alurnya yang berjalan lambat dan berhati-hati, sosok Escobar sudah sangat sah dan meyakinkan bagai seorang korban. Ke mana, sih, framing yang ingin dituju? Pertimbangannya, di sini narasi yang disuguhkan masih berasal dari mulut seorang agen DEA.

 

 

Mengapa narasi Murphy?

Rasanya janggal ketika narasi itu masih bersumber dari mulut orang yang sama dengan presedesor namun eksploitasi emosinya lebih banyak ke kontranya. Kecuali kalau misalnya sejak awal musim kedua serial ini sudah menyatakan bahwa framing yang dipakai berbeda. Saya katakan bahwa musim pertama Narcos jauh lebih baik dalam memetakan hal ini.

Beruntung, relasi antara Narcos dan mengapa narasi bersumber dari mulut Murphy si Agen DEA bisa terjawab di sini. Musim kedua menampakkan bahwa Murphy-lah sosok yang sampai akhir—kematian Escobar—lancar mengikuti perjalanan kasus ini.

Sosok lain seperti Peña dan berbagai aparat yang ditunjuk selalu menemui halangan untuk bisa sampai benar-benar menuntaskan—bermasalah hingga terbunuh. Tentu saja yang paling bikin nelangsa adalah sosok Peña. Dia adalah Agen DEA yang mengikuti proyek penangkapan Escobar di sejak awal. Sialnya menjelang penghujung dia harus ditarik kembali ke Amerika karena ketahuan melakukan tindakan konspirasi sepihak.

 

Potensi ke depan

Terlepas dari penyajian yang tensinya tidak setinggi musim perdana, Narcos Season 2 tetap menjadi suguhan yang keren. Paling tidak, musim ini memperkenalkan berbagai sekuens secara jujur. Kalau kamu pernah membaca sumber asli dari kejadian ini, Narcos sudah layaknya rekaulang adegannya. Banyak adegan yang sangat mirip dengan deskripsi asli. Meskipun tentu saja tetap ada beberapa karakter fiksi yang ditambahkan supaya semua rangkaian menjadi terkoneksi.

Sementara itu, pasca menandaskan musim kedua, saya cukup dibuat gamang. Selama ini Narcos itu ya Pablo Escobar. Sementara di sini sosok Escobar sudah turun tahta.

Namun, kalau menggunakan pembelaan terma “Narcos”, serial ini masih bisa berumur sangat panjang. Artinya berbagai kartel narkoba bisa dimasukkan di sini untuk menggantikan posisi front-runner antagonis. Hanya saja, pekerjaan rumah yang menanti adalah bisakah Narcos menyusun ulang formula yang akan dipakai setelahnya? Atau memilih menggunakan cara bertutur yang melanjutkan dua musim pertama ini? Kalau menggunakan cara yang kontinu, jelas interkoneksi menjadi catatan paling berat yang harus dimatangkan.

Season finale musim kedua sudah sedikit memperlihatkan ke mana kemungkinan arah selanjutnya dari Narcos. Di situ dinampakkan Peña yang sedang diforum. Dia sempat salah sangka akan dihukum oleh federal Amerika.

Masalahnya, pasca Escobar mati, narkoba di Amerika justru meningkat drastis, pemerintah Amerika sadar kalau ada pemain lain yang berkuasa. Peña lalu langsung ditanya apa yang dia ketahui tentang kartel Cali. Kemungkinan besar, sudut pandang Peña-lah yang bakal mengalun di musim berikutnya. That’s it.

Setidaknya saya melihat bahwa ke depan Narcos masih memiliki kisah yang menjanjikan. Pun Netflix sudah melansir bahwa mereka sudah meminta dua musim tambahan untuk Narcos—musim tiga dan musim empat. Tetapi rasa sangsi itu tetap saja ada. Setidaknya jangan muluk-muluk bakal kembali melihat kebringasan sebuah serial TV seintens Narcos Season 1.

Dengan berbagai verdict yang ada, Narcos Season 2 memperoleh 9 dari 10 bintang.


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 500 visitor.

Ralat formula skala 5: di gambar tertera "...)+2" yang benar adalah "...)+2,5"
(Visited 1,867 times, 5 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *