Review Film Indonesia | “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016)” Lebih Nostalgia Ketimbang Lucu

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1/doc. ngepop/tersapa

Meskipun Warkop DKI Reborn (yang seterusnya akan disebut Warkop Reborn) tidak istimewa, untung saja filmnya masih tergolong menyenangkan. Layaknya film Warkop terdahulu, Warkop kali ini yang mengambil anak judul Jangkrik Boss Part 1 kembali terjebak di juntaian humor dangkal. Tetap, di sela-sela ada beberapa selipan kritik sosial yang dilemparkan.

Kalau diminta untuk menuliskan rangkuman sederhana, film Warkop Reborn ini lumayan bikin bingung. Tidak ada fokus utama yang dituju, setiap permasalahan muncul dan tenggelam begitu saja. Tetapi paling tidak sebagai gambaran singkat, film ini berkisah tentang tiga Agen Chips, Dono, Kasino, dan Indro yang sedang menjalankan tugas. Di sepanjang sepak terjang, ada saja halangan yang mereka temui. Dan di Part 1 ini, ekonomilah yang menjadi biang keladinya.

Warkop Reborn memang memiliki banyak elemen nostalgia. Kedangkalan gagasannya nyaris sama. Formula pengisahannya serupa. Visualisasi hingga credit title-nya mirip. Muka karakternya laksana kembar. Bahkan seksis-nya plek.

Di bagian positif, keputusan untuk membuat Warkop Reborn sejalan dengan pakemnya adalah tindakan yang bijaksana.

Setidaknya template sudah ada, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah penyesuaian beberapa konten dengan relevansi zaman. Fase ini cukup bisa dilewati, meski tidak mulus-mulus amat.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1/doc. ngepop/tersapa

Ada beberapa catatan yang cukup mengusik saya ketika sedang berada di dalam atmosfer sinema. Pertama, Warkop Reborn saya anggap melakukan tindakan yang keliru dengan opening-nya. Terlepas dari alasan untuk memperlihatkan serta mempertahankan cirikhas franchise Warkop, opening di film ini justru tampil pointless dengan improvisasi naskah yang masih setengah-setengah.

Apalagi, saya menganut faham bahwa opening (apa pun mediumnya) adalah umpan di ujung kail. Inilah ujung tombak sebuah storytelling supaya membuat audiens tertarik dan tetap mau bersabar menikmatinya. Penempatan Berita dalam Dunia di awal membuat saya gedeg kepala. Perumpamaannya, kalau saja ini DVD dan bukan bioskop, sekian menit pertama akan saya percepat bahkan langsung skipped.

Kedua, anak judul Jangkrik Boss tidak bisa berbuat banyak. Frasa ini bukanlah pemegang kunci utama. Di mana kalau semisal anak judulnya diganti bahkan dihilangkan sekali pun, itu bukanlah perkara besar. Alih-alih menjadikan Jangkrik Boss sebagai benang merah yang bersifat integral, ini hanyalah umpatan (jangkrik!) yang kebetulan sering diulang oleh boss Chips–lalu dibeokan oleh trio Warkop.

Ketiga, Warkop Reborn masih sangat terasa seolah-olah memikul beban teramat berat. Perhatikan, ini bukan ke masalah departemen akting. Tora, Abimana, dan Vino benar-benar nampak riil di sini. Saya menyukai cara mereka dalam mendalami masing-masing tokoh. Beban di sini ditujukan pada rasa kurang percaya diri yang tersirat di film ketika porsi Indro senior di layar sangatlah mayor—beda kasus ketika dia memang dijadikan sumber rujukan utama. Dan lagi tentang penempatan mbak-mbak berkostum ketat khas Warkop. Kalau alasannya adalah untuk menghormati Warkop Origins, saya akan berkilah: dengan segala hormat, posisi Indro senior dan mbak-mbak itu malahan bisa lebih ngena kalau slotnya dibuat secukupnya. Tidak harus muncul di tiap babak, cukup beberapa saja tapi dengan tembakan yang tahu situasi.

Keempat, karena saking taatnya dengan koridor masa lalu, kedalaman plot jadi alpha dieksplorasi. Di sini saya tidak menyebut bahwa semestinya Warkop jadi berwujud film serius, lho, ya. HarusnyaWarkop Reborn tetap menjadi sebuah sajian komedi tapi yang nampol. Dengan modal karakter sekuat Dono, Kasino, dan Indro yang terkenal ceplas-ceplos, saya pikir mewujudkan sebuah sajian satire yang cerdas bukanlah perkara sulit.

Sampai di bagian ini semoga kita sepakat bahwa adanya inovasi yang berujung pada tingkat bobot naskah bukanlah sebuah dosa besar—semestinya Anggi Umbara tak perlu takut ekstrem.

Saya mengidamkan ke depan Warkop tetap mempunyai kekhasan secara karakter, tetapi secara intelektual berbagai perombakan bisa dilakukan sesuai dengan guliran waktu. Tindakan ini sangat penting ketika mempertimbangkan aspek “memotret era”.

Sebagai sebuah sajian hiburan, Warkop DKI Reborn tidak akan membuat pusing dan penat bagi penonton.

Meski plotnya lemah, tetapi pengemasannya tidak buruk, bahkan malah sangat baik. Artinya departemen akting, penyutradaraan, sinematografi, dan scorring mampu tampil menonjol. Coba amati banyak montase menarik yang disisipkan di sepanjang durasi, biasanya diposisikan ketika akan terjadi transisi. Dalam kondisi sadar, saya malah dibuat tertawa lebar ketika menyaksikan berbagai sisipan tersebut. Oh, behind the scene sebelum end credit pun tampil lebih lucu dibandingkan hampir mayoritas banyolan di filmnya—yang kebanyakan cuma berakhir di level tersenyum.

Dengan kondisi penuh nostalgia, sambutan penonton yang besar, dan pundi-pundi sponsor yang tampak raksasa (lihat saja peletakan iklan vulgarnya di awal pasca dibuka oleh animasi si Juki), menantikan Warkop DKI Reborn Part 2 menjadi lumayan mengasyikkan.

Warkop DKI Reborn Part 1 mendapatkan 7.5 dari 10 bintang.

Film Warkop DKI Reborn Part 1 (2016) telah ditonton pada 9 September 2016, review resmi ditulis di hari yang sama.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 700 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required