Review Film | “Don’t Breathe (2016)” Memperbarui Horor Milenial

Don't Breathe/doc. ngepop/tersapa

Don’t Breathe patut dipuji karena berhasil menciptakan rasa mencekam yang sangat dekat dengan penonton.

Penonton dibuat tidak yakin apakah tiga karakter yang diperkenalkan lebih dulu bakal bisa benar-benar terbebas dari jerat, sampai di menit penghabisan. Horor itu terus mengintai penonton sejak durasi bergulir, membuat bertanya-tanya karena semakin—dan sangat—buramnya batasan baik-buruk.

Film ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang memiliki kebiasaan merampok rumah kosong. Selama ini, mereka seringkali tidak mengalami kesulitan dalam mengeksekusi aksinya. Terlebih karena mereka sangat rapi dalam melakukan tindakan pra-aksi. Mereka selalu melakukan pengamatan selama sekian waktu, bahkan mereka juga paham tindakan awal apa saja yang mesti dilakukan supaya perampokan mereka tidak berubah menjadi tindakan bodoh. Berselang pendek, secara di luar dugaan, kesialan tak terperi menghukum mereka ketika sedang menjalankan aksi di rumah seorang veteran yang juga tunanetra dan hanya tinggal bersama anjingnya.

Don't Breathe/doc. ngepop/tersapa

Untuk sebuah film yang bergenre horor-thriller, film ini mencerahkan khalayak tentang pemaknaan genre dengan sangat baik—untuk terma horor.

Selama ini, horor mengalami pembiasan absolut yaitu selalu diasosiasikan dengan hantu. Padahal, secara pengertian bahasa, horor adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri dan ketakutan yang amat sangat. Lebih bagusnya lagi, Don’t Breathe melakukannya secara halus, menampilkan karakter “horor”-nya seumpama hantu—bikin ngeri sendiri.

Di bagian lain, Don’t Breathe tak luput menimbulkan dilema tersendiri. Film ini kembali menambah daftar panjang judul film yang tidak mau terpaku pada pakem antagonis-protagonis. Dalam kehidupan ideal, jelas kita akan dibuat sepakat bahwa tindakan yang dilakukan oleh ketiga karakter awal, Rocky (Jane Levy), Alex (Dylan Minnette), Money (Daniel Zovatto), merupakan aksi kriminal, kejahatan. Implikasinya, mereka adalah penjahat. Tetapi di layar, kita justru semacam diguna-guna supaya mendukung tindakan mereka, pun seolah-oleh merekalah protagonisnya.

Berikutnya, si veteran digambarkan sebagai orang tua yang memiliki seekor anjing dan sesekali jalan-jalan bersama. Antagonis? Tidak, di awal si kakek ini juga diperkenalkan sebagai sosok protagonis, tidak berbahaya. Tidak mau berada di jalur mainstream, si penulis naskah Don’t Breathe (Fede Alvarez dan Rodo Sayagues) melakukan “treatment” yang saya bilang cukup rapi. Dia membalikkan semuanya pasca meninggalkan tiga puluh menit awal. Seluruh karakternya tiba-tiba menjadi antagonis secara bergantian. Satu hal lagi yang membuat Don’t Breathe cukup berhasil dalam departemen karakter: tidak ada yang sia-sia, semua mendapat porsi termasuk anjing piaraan si veteran.

Terlepas dari dua poin utama tersebut, sebenarnya agak susah merelasikan Don’t Breathe dengan interaksi sosial saat ini.

Bukan ke masalah tindakan kriminalnya. Kalau tentang kriminal, sampai kapan pun akan tetap relevan. Tetapi kepada inisiatif yang dipilih oleh karakternya—banyak tindakan bodoh di sini yang kontradiktif dengan fase pengenalan di muka. Saya paham seandainya semuanya berpegang pada insting ideal, film ini akan langsung berakhir bahkan sebelum mencapai sepertiga durasi.

Tetapi, lebih bikin gamang ketika dalam kondisi mencekam, dan memiliki kesempatan untuk kabur, para karakternya justru meluncurkan ucapan-ucapan pointless, melakukan tindakan-tindakan bodoh, yang pada akhirnya membuat mereka berada di posisi semakin terhimpit. Sekali lagi, dalam posisi mengikuti naluri normal, setiap tokoh bakal bubar jalan sendiri-sendiri. Mengingat tujuan utama mereka untuk mendapatkan barang jarahan belum tercapai dan situasi sudah di luar kendali.

Dengan berbagai pertimbangan, Don’t Breathe tetaplah menjadi sajian pemacu jantung yang bisa dikatakan sukses.

Setidaknya, kejanggalan yang terlanjur lepas tidak sampai belepotan. Fede Alvarez sebagai sutradara berhasil mengarahkan para pemainnya dengan apik. Terutama Stephen Lang, si tunanetra veteran, yang sangat mengintimidasi di sini. Lengkap dengan bidikan-bidikan gambar yang cepat pun on-point dari Pedro Luque dan scorring yang menyebalkan dari Roque Banos. Oh, film ini juga memberikan sedikit twist di nyaris akhir dan mengklarifikasi mengapa si veteran bisa menjadi muntab—tidak terlalu istimewa kalau kamu sudah sering menonton film bergenre misteri.

Don’t Breathe layak diberi 8 dari 10 bintang.

Film Don’t Breathe (2016) telah ditonton pada 9 September 2016, review resmi ditulis di hari yang sama.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 283 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required