Sunday, October 17

Review Film | “Suicide Squad (2016)” Kepalang Bingung

Kabar baiknya, Suicide Squad masih menarik kalau ditonton ulang–karena ganjil. Kabar buruknya, film ini tidak bisa mengelak bahwa naskahnya masih setengah matang. Dialog dan sekuens yang dilempar terlalu ala kadarnya dan malah menjurus ke, “Apa sih?”

Film ini berkisah tentang Amanda Waller, seorang petinggi badan intelijen Amerika, yang bermaksud membentuk pasukan khusus “Task Force X” pasca tewasnya Superman. Pasukan itu terdiri dari para penjahat “DC Comics” yang kebetulan berhasil ditangkap. Tugas mereka adalah menjalankan misi “bunuh diri” kalau sewaktu-waktu ada ancaman luarbiasa yang terjadi.

 

Di atas kertas, film ini memiliki semua syarat untuk menjadi sangat istimewa. Berbagai tokoh villain tiba-tiba harus menjalankan program “penyelamatan”. Ditambah, banyak di antaranya yang merupakan karakter ikonik. Jelas ini pekerjaan yang tidak mudah, cenderung berat. David Ayer yang rangkap jabatan sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pada akhirnya mengambil jalan yang seolah nampak aman: memperkenalkan tokohnya satu-satu.

Sayang, langkah ini terbilang ceroboh sampai akhirnya film ini bingung sendiri. Pertama, terjadi gap yang cukup besar secara transisi penceritaan. Kedua, hal ini menimbulkan kesan bahwa Suicide Squad pengin secara instan mendikte penonton. Jujur, saya merasa terganggu dengan model pengenalan karakter dengan pola semacam infografis banjir teks dan potongan-potongan cepat–meski impresi di awal hal ini terkesan unik. Sebagai sebuah sajian visual, semestinya film ini berani buat memperkuat penokohan karakter melalui “pertunjukan langsung”–bukannya rangkuman tulisan dan kolase montage. Hal itu akan sangat menguntungkan film terkait, sebab bisa lebih mengikat jalinan empati dengan penonton. Ketiga, film ini kebingungan tentang tokoh mana yang mau dijadikan front-runner biar sekuensnya jelas–kesannya malah jadi timpang.

Di awal, penonton sudah diperkenalkan pada dua karakter–yang memang porsinya terbanyak–Deadshot dan Harley Quinn. Lalu diikuti oleh Amanda Waller, Enchantress, dan Rick Flag yang bagi saya kurang brutal dan kurang “nyawa”. Faktanya, seperti yang sudah disinggung di paragraf pembuka, prolog yang ditawarkan sangatlah lemah–ditunjang oleh dialog pointless. Hal semacam inilah yang kemudian saya sebut sebagai kesalahan, naasnya berulang di banyak tempat. Rasanya kok “nggak DC banget”, cheesy. Mengingat sekuens dan dialog di Man of Steel maupun BvS mampu berada di level filosofis yang cukup lebur. Itulah mengapa naskah Suicide Squad saya katakan masih setengah matang.

Tetapi, karena film ini adalah karya audio visual pun merupakan kesatuan rangkaian DCEU, tidak semuanya lantas berakhir buruk. Secara tone, film ini masih menyandang cirikhas DC–meski kesan gelapnya kurang kental. Dalam artian, Suicide Squad mematahkan stigma bahwa DC Comic tidak bisa melucu. Film ini menunjukkan bahwa lucu itu perkara tahu diri. Kalau memang tokohnya lucu, bakal jadi lucu, kalau tidak lucu, tapi coba dibuat lucu, malah bisa terkesan dipaksakan.

Dan lagi di lain bagian, ketika menyaksikan mid-credit scene, saya berhasil dibuat cukup bersemangat. Suicide Squad adalah bridging yang bagus untuk premis si Batman–sebagai “bapak” Justice League kelak. Jangan lupakan pula, kalau Anda memperhatikan dengan cukup detail, film ini sarat muatan nostalgia bagi para pembaca komik DC. Berbagai momen dan properti khas komik dinampakkan–meski cuma sekilas, tapi banyak. Atas alasan inilah, secara personal saya cukup bisa memaklumi kesalahan yang dimiliki naskahnya.

Pada akhirnya, meski tetap menarik, Suicide Squad gagal menjadi sajian yang istimewa. Penonton awam sangat mungkin tertatih-tatih dalam mencerna urgensi tindakan masing-masing karakternya Bahkan, keistimewaan album original soundtrack-nya tidak bisa benar-benar menutupi presentasi film ini yang masih serba nanggung. Terlepas dari itu, Suicide Squad toh telah menunaikan tugas mulianya: menjadi penghubung vital buat rangkaian DCEU ke depannya.

tersapa memberikan 7 dari 10 bintang.

NB. Saya berencana membuat semacam artikel penjelas secara terpisah untuk Suicide Squad.

Film Suicide Squad (2016) telah ditonton pada 6 Agustus 2016, review resmi tersapa ditulis pada 9 Agustus 2016.

 


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 550 visitor.

(Visited 182 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *