Review Film | “Louder than Bombs (2016)” Hanya Butuh Bicara

Louder than Bombs layak memperoleh apresiasi karena berani memilih cara pengisahan yang kurang populer.

Pengisahannya paradoks–yang jelas tidak hanya berwujud letupan, tapi sampai ledakan. Apalagi di film ini, lingkupnya adalah keluarga, di mana letupan maupun ledakan bisa sama-sama mencapai titik kulminasi.

Film ini berkisah tentang sebuah keluarga yang tiap anggotanya memiliki perseden masing-masing. Kondisi mereka semakin mengkhawatirkan pasca sang ibu-istri meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tapi, terlepas dari penyebab meninggalnya, si ibu-istri ini pun berprofesi sebagai seorang fotografer yang berani beda.

Kalau kamu menyukai film yang susunannya serupa puzzle dengan rentang timeline cukup panjang, Louder than Bombs bisa mengatasi dahaga.

Melalui konflik yang berkisar di level keluarga, berbagai praduga di dalamnya menjadi cukup dekat dengan realitas kita. Menariknya lagi, setiap anggota keluarga yang menjadi sentral di sini, memiliki kecenderungan berbeda. Kelakuan itu berasal dari pengaruh lingkungan sekitarnya.

Kita akan diminta untuk berkaca sejenak, awas, bahwa lingkungan tumbuh kembang sangatlah krusial.

Lihat dua karakter anak yang penggambarannya bertolakbelakang. Si Conrad, sangat dekat dengan sang ibu, dia memahami betul bahwa apresiasi adalah kunci keberanian. Apresiasi adalah biang kejujuran–dan di film ini, esai yang ditulisnya sudah cukup menjadi gambaran gamblang. Berbeda dengan Jonah, dia tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang penuh kekhawatiran, takut mengambil tindakan, bahkan mau berbohong untuk menghindari pengampuan tanggung jawab.

Keduanya semacam memiliki kecemasan serupa pasca insiden yang menimpa ibu mereka. Conrad seolah membangun kastil perlindungan untuk kesendiriannya, menggunakan game sebagai pelarian dan menganggap hal itu sebagai realitasnya. Di bagian lain, bahkan dia menganggap bahwa dirinya memiliki kekuatan tak kasat mata–dan hal ini sempat membuat ayahnya khawatir, alih-alih si ibu dan Conrad adalah sosok yang masa bodo. Sedang Jonah belum sempat memperoleh kesempatan sebanyak Conrad buat mengenal ibu kandungnya lebih jauh. Sehingga secara psikologis, dia merasa inferior–linier dengan sang ayah yang lebih suka menghindar.

Penunjukan opsi terbuka di lingkungan terkecil ini sangat saya sukai. Mungkin untuk beberapa orang, film ini justru terkesan bertele-tele.

Dan memang Louder than Bombs adalah film yang di beberapa bagian tidak peduli apakah mereka dianggap menggurui atau tidak.

Bagi saya, hal tersebut kembali tidak terlalu menjadi masalah. Hanya saja, karena film ini cukup sepaneng dalam usahanya untuk menyusun puzzle sepresisi mungkin, dampaknya ada beberapa bagian yang terkesan lepas tangan–terutama menuju konklusinya, dan saya lumayan kurang puas di situ. Terlepas dari berbagai perspektif yang ditawarkan, Joachim Trier melalui Louder than Bombs kembali menambah koleksi film yang menggunakan formula (seolah) mencampurkan realitas dengan fiksi–melalui sisipan dokumenter komentar atas karya fotografi. Menarik.

Louder than Bombs memperoleh 8 dari 10 bintang.

Film Louder than Bombs (2016) telah ditonton pada 15 April 2016, review resminya ditulis pada 17 Juli 2016.


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 500 visitor.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 407 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required