Review Film | “Me Before You (2016)” Daur Ulang Rasa

Siapa yang tidak penasaran kalau ada film drama romansa yang produsernya adalah keroyokan Warner Bros., New Line, dan MGM?

Me Before You adalah salah satu output-nya. Secara sederhana, sebelum melongok ke isi, film ini sudah mampu membuat penonton minder duluan. Nyatanya, meski film ini merupakan manifestasi daur ulang rasa dari banyak sumber terdahulu, Me Before You masih mampu menjadi presentasi yang charming.

Film ini berkisah tentang William Traynor, anak konglomerat yang sudah mapan dan kehidupannya hampir saja menjadi dambaan banyak orang. Naas, terjadi kecelakaan lalu lintas yang menjadikan Will cacat fisik seumur hidup. Selama sekian waktu, dia hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda canggih dan jarang keluar dari sekat kamar yang tidak kalah canggihnya. Sampai suatu hari, muncul Louisa Clark yang sangat membutuhkan uang. Dia melamar pekerjaan sebagai perawat Will. Timeline mulai meluncur bebas, meskipun di paruh awal dan akhir berbagai masalah sempat membuat nyalinya goyah.

 

Entah sudah berapa kali saya menonton film yang prolognya menampilkan karakter tertabrak kendaraan–apalagi belum lama ini saya juga habis menandaskan Demolition. Ada cukup kegetiran ketika saya mendapati opening semacam ini kembali digunakan–dan tanpa modifikasi berarti. Namun setelahnya, kegetiran itu bisa pelan-pelan dinetralisir oleh transisi berfase cepat yang digunakan oleh Me Before You. Alih-alih terkesan mengeksploitasi “drama”, film ini memutuskan untuk menyajikan storyline berbasis fragmen.

Pascanya, saya kembali dihadapkan pada kenyataan tak asing: formula plot selanjutnya yang dipilih mengingatkan pada The Intouchables (2011).

Perlu digarisbawahi, meski nampak sederhana, formula semacam ini cukup sulit untuk diduplikasi kalau pilihan cast-nya meleset. Sebab, chemisty adalah satu-satunya juru selamat–dengan bantuan sutradara Thea Sharrock, baru disusul oleh dialog model apa adanya. Untunglah, si penulis naskah adalah orang yang sama dengan yang menulis novelnya–Jojo Moyes. Dia tahu betul momen mana saja yang bisa ikut mengkonstruksi jejaring yang ada. Sam Claflin dan Emilia Clarke sungguh terbantu sehingga mampu tampil prima.

Jangan bayangkan bahwa Me Before You adalah film yang menawarkan kejutan.

Setidaknya, ketika kamu sudah cukup banyak mengasup karya bergenre drama romansa, tiap jejak langkah dari film ini sudah terbaca jelas sejak awal mula. Untung saja, film ini cukup tahu diri. Dalam artian, ketika naskahnya berpotensi terjebak dalam persaingan ketat dengan banyak film pendahulu segenre, film ini memutuskan untuk memberi dorongan maksimal pada departemen lain. Meski begitu, film ini tetap percaya diri. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Moyes tahu bagaimana membuat regularitas menjadi lebih bermakna. Dia tidak malu-malu untuk menaburkan detail-detail kecil dan bahasan sensitif di berbagai adegan–dan lumayan berhasil.

Sejak awal Me Before You sudah unggul secara artistik.

Dan sampai akhir, visual cantik itulah yang menjadi tiang-tiang penyokong setianya. Yang mampu membuat penonton untuk tetap duduk dan tetap ikut hanyut dalam pusaran balada dua tokoh utama. Lebih menarik lagi, seluruh durasi disiram logat British kental. Pun, meski sempat smar-samar, di penghujung kisah, film ini cukup berhasil menerjemahkan judulnya.

P.s. Playlist soundtrack dan penempatannya ngena…

Me Before You memperoleh 8.5 dari 10 bintang

Film Me Before You (2016) telah ditonton pada 30 Juni 2016, review resmi ditulis pada 16 Juli 2016.


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 800 visitor.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 151 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required