Catatan Ajang Penghargaan | Tayang atau Belum Tayang? Mentahnya Kebijakan Nomine FFI 2016

Estimasi waktu baca: 3 menit

Setiap ajang penghargaan selalu tidak luput dari kritik yang bergaung di sekelilingnya. Festival Film Indonesia adalah salah satu yang jadi langganan kritik.

Dari pengamatan saya, kritik publik atas nomine yang dirilis oleh FFI 2016 kembali didominasi oleh pertanyaan, “Filmnya belum tayang kok sudah masuk daftar nomine?” Selain itu tetap ada beberapa pertanyaan tentang nama-nama yang gagal memperoleh rekognisi.

Sebelum masuk ke daftar, saya akan sedikit membagikan perspektif tentang polemik ini.

Untuk kritik “filmnya belum tayang”, sebenarnya ada beberapa aspek yang mesti dilihat. Belajar dari ajang penghargaan di Hollywood, terutama Oscars dan Golden Globes, sebenarnya secara “umum” nominenya juga sering asing ketika daftar dirilis.

Namun, kedua ajang penghargaan tersebut memasukkan judul film ke dalam daftar dengan pertimbangan filmnya telah melakukan screening untuk publik–meski belum wide release. Oleh karenanya, kita pun mengenal istilah limited release–yang berarti pemutaran pra-tanggal rilis resmi dengan jumlah layar terbatas di beberapa bioskop maupun di festival-festival film yang biasanya diselenggarakan di kota-kota besar di Amerika.

Baru setelahnya, juri dari masing-masing penyelenggaraan menentukan daftar nomine dilanjutkan dengan penentuan pemenang. Untuk Golden Globes juri berasal dari media massa yang masuk afiliasi, sedangkan Oscars terdiri dari berbagai profesi di bidang perfilman yang tergabung di AMPAS dengan jumlah anggota kurang lebih 6000 orang.

banner-festival-film-indonesia-ffi-2016-ngepopcom

Permasalahannya di Indonesia, aturannya cukup bias.
Menurut pengakuan Olga Lydia selaku ketua bidang penjurian FFI 2016, beberapa film “belum rilis” bisa masuk daftar nomine karena sudah lulus sensor dan/atau telah berkiprah di ajang internasional.

Hal inilah yang menimbulkan paradoks. Ketika di Hollywood syaratnya adalah sudah diputar di dalam negeri, ajang di Indonesia justru seolah-olah mengabaikan pemutaran domestik. Apalagi kalau yang diutamakan hanyalah “gerombolan kecil” Lembaga Sensor Film dan juri FFI. Eksklusif sekali ajang ini…

Bisa dipahami, memang banyak film indie asal Indonesia yang malah memperoleh penghargaan lebih di luar negeri di masa awal publikasi.

Namun yang perlu menjadi catatan ke depan, sudah selayaknya film-film yang masuk ke bursa kompetisi ajang penghargaan harus paling tidak turut serta dalam pemutaran publik terbatas. Bisa di festival-festival perfilman di daerah, maupun limited release di beberapa tempat. Toh, sudah ada banyak festival bergengsi di berbagai daerah di Indonesia.

Olga menambahkan, “kasihan” kalau film-film yang belum rilis itu diikutkan di periode selanjutnya. Kan, nanti jadinya sudah telat.

Sebenarnya, rentang periode yang dipilih oleh FFI ini juga cukup dilematis. Mengapa periodenya di rentang Oktober-September tahun selanjutnya? Bukankah lebih representatif kalau mengambil slot awal tahun?

Sebab di Indonesia ini ada dua waktu “prime-time” perilisan film: lebaran dan akhir tahun menjelang tahun baru.

Dengan periode seperti sekarang ini, film-film lebaran jelas sudah masuk radar. Namun, film-film akhir tahun mesti legowo karena jatahnya baru bisa diperoleh tahun depan itu pun persaingannya untung-untungan. Coba film-film akhir tahun diperlakukan serupa dengan film-film yang katanya “kasihan” itu. Nyatanya tidak.

Diskriminasi? Saya bilang sih iya.

Untuk sesi “nyesek”, nama-nama yang patut disayangkan karena luput dari pilihan juri antara lain Marissa Anita (Aktris, Istirahatlah Kata-Kata), Laudya Chintya Bella (Aktris, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara), Jenny Jusuf (Adaptasi Skenario, Wonderful Life), Istirahatlah Kata-Kata (Film Terbaik), Wonderful Life (Film Terbaik), Ngenest (Film Terbaik), dan Ada Cinta di SMA (Lagu Tema).

Bagaimanapun, ajang penghargaan memang memiliki kebijakan teknis masing-masing. Kalau tidak puas dengan salah satu atau berbagai ajang yang sudah ada karena dianggap kurang representatif, sangat mungkin acara tandingan bisa dibuat. Bahkan di Hollywood-pun ego inilah yang dijunjung.

Yang jelas, inti dari penyelenggaraan kegiatan heboh-hebohan semacam ini sejatinya adalah perayaan apresiasi.

Kalau tahun ini nampak belum mapan, tidak ada salahnya buat memupuk harapan semoga di tahun-tahun selanjutnya kegamangan serupa tidak terulang.

Selamat untuk para nomine di 21 kategori FFI 2016!

Klik di sini untuk melanjutkan membaca daftar nominasinya.

720-ffi-2016-daftar-nominasi

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 254 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required