Tuesday, October 26

Review Film | “13 Hours (2016)” Garapan Terbaik Michael Bay

Judul: 13 Hours – The Secret Soldiers of Benghazi | Cast: John Krasinski, Pablo Schreiber, James Badge Dale | Sutradara: Michael Bay | Penulis Naskah: Chuck Hogan | Rilis: Januari 2016 (US) | Durasi: 144 menit

Di suatu kondisi tertentu, pihak yang seharusnya selalu ada pun bisa tiba-tiba ditelan kedok rencana. Membuat banyak keputusan menjadi berada di level “antara”. 13 Hours menunjukkan bahwa nyatanya nyawa kalah penting dibanding jasa.

Film ini berkisah tentang para “pejuang” Amerika pada 2012 yang masih harus beroperasi di Benghazi, Libya karena perintah negara. Sebenarnya, mereka tidak harus berada di sana. Toh, negara-negara lain juga sudah menarik para perwakilan diplomatiknya. Namun, bukan Amerika namanya kalau tidak mau ikut campur di banyak perkara. Akibatnya, mereka harus berduel dengan kondisi tak tentu yang ada, terutama dengan para radikalis ISIS.

Tidak ada harapan tinggi di awal ketika saya mulai menonton 13 Hours ini. Apalagi dengan durasinya yang nyaris dua setengah jam. Pun, kalau ternyata film ini masih menggunakan ego politik Amerika, hasilnya tidak akan terlampau beda dibanding kebanyakan film perang yang sudah mereka produksi. Beranjak dari sini pula, 13 Hours sangat bisa tersungkur apabila paradigma politik yang menjadi juru selamatnya. Fakta membuktikan, film ini digarap dengan bijak, bukan kaca mata politik yang dipakai.

 

Tentu keraguan dan keraguan juga bakal dengan mudah merangkul penonton ketika tahu bahwa Michael Bay berada di belakang kemudi utama. Tetapi, untuk film ini, saya berani bilang bahwa inilah sesuatu yang sudah dinanti-nanti banyak kalangan sejak lama. Pasca sekumpulan karya medioker secara kualitas yang dihasilkannya, 13 Hours semacam alter ego yang berontak dari citra Bay. Saya pun kaget dengan output ini.

Film ini dibuka dengan cara tipikal. Seorang Amerika yang diutus ke daerah perang dan dijemput di bandara oleh agen lain. Di perjalanan, mereka harus berhadapan dengan situasi yang tiba-tiba chaos. Pengenalan tempat dan karakter ini terus berjalan hingga nyaris sejam pertama–termasuk keseharian di lingkungan konflik. Di bagian ini, saya mencatat bahwa ada cukup banyak scene yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Lengkap dengan dialog-dialog yang justru sering ngambang.

Dan lagi, untuk sebuah film yang berangkat dari material non-fiksi, 13 Hours di beberapa bagian agak mbeleber. Terkadang mereka kebingungan menentukan sudut pandang yang semestinya terus dipegang sepanjang durasi. Hal ini bisa dilihat jelas ketika gambar menampilkan para American dan ISIS di satu waktu. Nampaknya film ini berusaha untuk menampilkan dua sisi sekaligus, dari dua pasang mata yang berbeda. Jelas pembangunan emosinya juga ikut terkena sulam tambal sekian kali karena kelengahan tersebut. Sebenarnya teknik penceritaan semacam ini tidak masalah apabila memang dari awal demikianlah yang dipegang, sayangnya tidak. Sejak awal, film ini hanya ingin menunjukkan bahwa perang itu sangatlah buruk sampai-sampai mereka harus terjebak di situ, mereka di sini adalah para American. Dan kalau 13 Hours tidak disibukkan dengan dualisme sudut pandang di beberapa bagian, pesan yang dibawa ini sungguh bisa lebih kuat dan emosional.

Di lain hal, 13 Hours berhasil memberikan kesan intens dan mengerikan lewat berbagai momen heningnya sejak awal. Dibanding ketika mereka saling cekcok, curhat, bahkan baku tembak, saya lebih dibuat was-was ketika yang tampil di layar hanyalah sinematografi gambar dramatis, scorring nanggung, tanpa dialog. Rasanya ingin langsung melewatinya. Di banyak bagian, para pemainnya berhasil menunjukkan performa prima. Dan kesuksesan tugas para cast itu sangat terbantu oleh scorring, sound editing, serta efek visual yang mumpuni. Agaknya hal ini sudah integral juga, mengingat 13 Hours adalah film bikinan Michael Bay. Oh, tapi di beberapa bagian efek visual, terutama yang menggunakan elemen cahaya pendar, penggarapanya masih prematur. Untungnya pemotongan cepat khas Bay cukup menyelamatkan.

Film 13 Hours adalah karya terbaik Michael Bay sejak milenium baru. Dia tidak hanya menawarkan visual sebagai satu-satunya jualannya, namun satu paket lengkap. Paket yang juga berisi gagasan berani bahwa pihak sekuat apa pun tidak selamanya mampu. Film ini menunjukkan pada penonton bahwa dalam kondisi krisis semacam itu, pemerintah Amerika Serikat malah terlihat lepas tangan, tidak memberikan perlindungan yang selayaknya. Hal ini kembali dipertegas oleh 13 Hours sebelum credit bergulir. Di sana kata “resign” menjadi highlight, dan itu sudah cukup menggambarkan bahwa terlalu banyak kecewa yang dirasakan; seolah berkata, “Amerika tidak sehebat pencitraannya, kok.” Di lain bagian, film ini juga berhasil membidik sudut-sudut sosial di sekitar Benghazi. Menarik melihat keadaan lokal ketika konflik terlalu berkepanjangan, kondisi itu akhirnya dianggap layaknya lalu lalang transportasi saja.

tersapa memberikan 8.5 dari 10 bintang.

Film 13 Hours (2016) telah ditonton ulang pada 29 Mei 2016, review resmi tersapa ditulis pada 29 Mei dan 31 Mei 2016.


Review ini sebelumnya telah tayang di tersapa.com sebelum dipindah ke ngepop.com, dan telah dibaca lebih dari 600 kali

(Visited 889 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *