Review Film Indonesia | “My Stupid Boss (2016)” Humornya Monoton

Sutradara: Upi Avianto | Penulis Naskah: Upi Avianto | Produser: Frederica | Pemain: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad

Saya membeli tiket film My Stupid Boss pada 19 Mei 2016 untuk pemutaran 11.00, dan tidak sengaja premiere. Padahal niat menonton film ini hanyalah untuk menekan prasangka buruk (dari saya sendiri) tentang film tersebut.

Pertama, Reza Rahadian ikut ambil peran. Saya yakin Ia akan berakting dengan bagus dan meyakinkan, tapi saya pikir Ia bukanlah aktor yang tepat dipandang sebagai bos menyebalkan. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan bayangan Reza-yang-asli dari tampang bos itu, meskipun make-upnya cukup meyakinkan.

Kedua, Reza dipasangkan dengan Bunga Citra Lestari. Saya melihat chemistry sebagai pasutri antara Reza dan BCL sudah terbangun kuat dalam film Habibie & Ainun. Dan sepertinya banyak juga penonton yang berpikir demikian.

 

Memposisikan keduanya sebagai bos dan karyawan dalam sebuah film sepertinya terlalu berani karena bermain-main dengan persepsi penonton.

Untungnya poster yang kurang sedap dipandang itu dibantu dengan trailer yang menyenangkan. Prasangka buruk dari saya sudah hampir mati dibunuh trailer My Stupid Boss. Trailer My Stupid Boss menjanjikan sebuah film komedi dengan tone gambar yang menarik.

Setelah film selesai diputar, saya memberi applause kepada tokoh empat karyawan yang diperankan oleh Bront Palarae, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain, dan Chew Kinwah. Tanpa mereka, saya tidak bisa memaafkan Reza dan BCL yang terlihat memaksakan interaksi-penuh-kebencian-dari-karyawan-ke-bosnya. Empat aktor ini membuat cerita lebih mudah dinikmati dan lelucon lebih mengejutkan. Mereka muncul dengan pembangunan karakter yang kuat. Apalagi Chew Kinwah yang tampil dengan ekspresi datar dan Bront Palarae dengan permainan naik turun suara yang khas. Top.

Sebagai sebuah film komedi, My Stupid Boss cukup membuat tertawa dan bahagia, meskipun kurang mengejutkan. Penggunaan lelucon yang sama dan monoton, membuat lelucon kehilangan kekuatannya, seperti kumis lele dan bom molotov yang terlalu sering diucapkan Diana (Bunga Citra Lestari). Mungkin juga karena terlalu banyak lelucon yang tersingkap dalam trailer film, beberapa di antaranya jadi tertebak dan kehilangan beberapa persen tingkat kelucuannya. Sayang sekali. Padahal ini film komedi. Memang sudah saatnya kita semua belajar dan mengingat bahwa trailer bukanlah spoiler.

Lelucon itu bagai nadi sebuah film komedi. Meski begitu, tetap tak layak jika jalan cerita diabaikan. Sayangnya jalan cerita My Stupid Boss agak mengecewakan. Rasanya seperti jalan di tempat, lalu tiba-tiba sudah selesai. Saya melihat film ini diakhiri dengan terburu-buru dan agak maksa. Setelah diajak tertawa dalam waktu yang cukup lama, lalu tiba-tiba film ini selesai. Dan endingnya kurang memuaskan dan masuk akal. Apa iya bos yang pelit, licik, dan banyak hutang itu akan membantu pembangunan panti asuhan? Duit dari mana?

Padahal secara visual, film ini sangat menyenangkan. Tone gambarnya unik dan pemilihan warnanya menarik. My Stupid Boss berani keluar dari warna-warna film Indonesia lain. Film ini bermain dengan warna kontras tinggi, baik untuk setting tempat dan kostum pemain. Keberaniannya perlu dipuji karena tone gambar ini menjadi sisi unik My Stupid Boss, meskipun tone ini sepertinya hanya pas digunakan ketika setting cerita di dalam ruangan. Tone ini tidak muncul maksimal ketika setting cerita di jalanan, hutan, dan rumah panti asuhan. Saya sendiri maklum karena warna detail-detail di luar ruangan tidak benar-benar bisa dikendalikan pembuat film.

Saya memang cerewet kalau soal detail film. Padahal orang-orang yang duduk di sekitar saya ngakak-ngakak aja. Beberapa di antaranya ngakak sampai kehabisan napas. Sepertinya, meskipun saya memberi banyak catatan merah untuk film My Stupid Boss, film ini sebenarnya asik-asik aja untuk dinikmati.

tersapa memberi 6,5 dari 10 bintang.


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 1200 visitor.

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 328 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required