Review Film | “X-Men: Apocalypse (2016)” Menjegal Peradaban

X-Men: Apocalypse adalah wujud penghormatan. Dalam jajaran franchise X-Men, ini adalah episode terbaiknya. Termatangnya. Teradilnya. Terkerennya.

Film ini berkisah tentang era 80-an di realitas para mutan dunia, terutama di lingkaran X-Men pasca kejadian Days of Future Past. Mystique dielu-elukan sebagai pahlawan, Magneto dicap sebagai penjahat kelas kakap, Xavier nyaman di lingkungan akademi mutannya. Tetapi, di X-Men semua hal selalu punya lebih dari satu kenyataan. Sayangnya, para karakter yang ada di dalamnya mayoritas hanya melihat dari satu sudut praduga. Semua kondisi tersebut menjadi di luar kendali ketika En Sabah Nur muncul sebagai prolog sekaligus benang merah konflik utama, kebangkitan kembali si Apocalypse yang mencekamkan seantero bumi–dibantu Four Horsemen-nya.

Saya sungguh tidak menyangka bahwa jajaran film superhero bisa sebegini masifnya merangsek di daftar terbaik 2016. Apalagi untuk X-Men: Apocalypse, ekspektasi yang saya pasang tidak terlalu tinggi, mengingat Days of Future Past sangatlah well-made–terbesit, “Masa, sih, X-Men bisa lebih gila lagi?”. Faktanya, saya juga masih konsekuen dengan judul di review BvS–tidak akan mempedulikan tabulasi kritikus–, cukup tahu bahwa impresi awal di laman para kritikus mayoritas tampil mendiskreditkan, namun saya menolak mengikuti konstruksi yang coba mereka bangun. Maka, ketika menonton X-Men: Apocalypse pun saya duduk dengan tanpa tekanan sama sekali. Hasilnya? Gila!

X-Men: Apocalypse bukanlah film sederhana. Meskipun ketika membicarakan tentang film superhero, masih banyak yang menganggapnya sebagai sajian hore-hore saja–tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Film ini tampil berani, sensitif, nostalgia, dan dewasa. Gagasan yang diangkat tidak terbatas pada segelintir mutan, namun juga modifikasi mitologi, kepercayaan serta ketuhanan, filsafat dunia, relasi, dan tentu saja politik. Penonton berkali-kali diajak untuk menggugat hal apa pun yang sudah mapan selama hidup ini. Melihat dengan sudut pandang “bagaimana kalau” secara meyakinkan. Akibatnya, ketika menyaksikan X-Men: Apocalypse penonton serasa dipingpong, berdiri di dua kaki, tidak bisa memilih mana yang lebih benar dan mana yang lebih salah.

Satu perkara sederhana: alasan membunuh. Di sudut pandang manusia biasa, membunuh itu kejam, pantangan. Di sudut pandang manusia yang berposisi, membunuh itu jadi salah satu opsi untuk tetap mempertahankan kepentingan dan kekuasaannya. Di sudut pandang manusia yang koyak emosi, membunuh itu adalah keniscayaan. Di sudut pandang Apocalypse, membunuh adalah proses melahirkan kembali peradaban yang lebih baik. Semua alasannya tampil sama-sama relevan di film ini, itulah mengapa pemakluman sungguh adalah hal yang wajar. Keberpihakan pun menjadi hal wajar pula karena bisa prinsipil.

Kalau selama ini masih ada sindiran bahwa X-Men itu terkesan hanya Wolverine dan Mystique, X-Men: Apocalypse adalah bantahan telaknya. Memang keduanya masih ambil jatah di sini, namun bukan berarti mereka merampok durasi. Wolverine bahkan hanya tampil seperlunya, sedangkan Mystique meskipun sangat sering terlihat, namun dia di sini hanya menjadi konektor bukan front runner. Para mutan mudalah yang menjadi bintang utama, bakal langsung mengingatkan kita pada First Class. Film ini akhirnya memberikan porsi lebih buat Storm supaya bisa mengisahkan asal-muasalnya–yang sudah saya nantikan sejak lama. Chemistry yang kuat antara Jean dan Cyclops–dan Nightcrawler–lengkap dengan kejutan luarbiasa dari mereka–Havok juga. Angel/Arch-angel serta Psylocke yang tampil sangat keren di sini–terutama kostumnya–meskipun hanya diberi durasi singkat. Xavier dan Magneto yang sungguh sentimental, benar-benar mampu mengoyak batin. Apocalypse yang sangat kuat dan terasa auranya. Dan tentu saja yang paling kurangajar mencuri pandangan adalah Quick Silver, karakter ini selalu bisa membuat hal yang sudah spesial menjadi tambah istimewa–di tiap scene kemunculan, terutama yang berhubungan dengan Magneto serta aksi penyelamatan slow-motion dengan latar lagu sangat pas. Merekalah yang bertanggungjawab penuh terhadap terjadinya berbagai hal eksplosif yang sukses menusuk mata.

Pada akhirnya, seperti yang sudah saya tulis di pembukaan, X-Men: Apocalypse adalah penghormatan. Bayangkan kamu menciptakan karakter, lalu karaktermu itu diperlakukan secara adil dalam bentuk adaptasi lain. Penghormatan semacam itulah yang menjadi ujung tombak film ini, menjadikan porsi antarkarakter tidak hanya terkesan asal ada. Amati dan jangan lewatkan opening-nya, opening yang ditampilkan adalah yang terbaik sepanjang franchise X-Men–untuk berbagai aspek. Terima kasih Bryan Singer dan seluruh kru, tanggung jawabmu sungguh luar biasa. Terima kasih para cast yang sudah saya puji pula di paragraf sebelum ini atas nama karakter masing-masing, nyawa karakter kalian sungguh mewujud. Terima kasih departemen visual dan suara: sinematografi, visual effect, costume design-hairstyling, dan scorring; kerja keras kalian sangat mengagumkan. Saya tidak akan malu menyebut bahwa X-Men: Apocalypse adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat.

tersapa memberikan 10 dari 10 bintang.

(Film X-Men: Apocalypse (2016) sudah ditonton pada 18 Mei 2016, review resminya ditulis di hari yang sama)


Review ini sebelumnya telah tayang di tersapa.com sebelum dipindah ke ngepop.com, dan telah dibaca lebih dari 700 kali

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 98 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required