Friday, July 23

Review Film Indonesia | “Ada Apa dengan Cinta? 2” Sekuel yang Bising

Judul: Ada Apa dengan Cinta? 2 | Cast: Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo | Sutradara: Riri Riza | Penulis Naskah: Mira Lesmana, Prima Rusdi | Produser: Mira Lesmana | Rilis: 28 April 2016 | Durasi: 123 menit

Ada Apa dengan Cinta? memang film yang rame. Trademark ini ingin dipertahankan di sekuelnya, sayang jatuhnya malah bising. Saya kurang bisa menikmati suguhan yang materi promosinya gila-gilaan ini. Bahkan untuk sekadar memberikan sensasi “campur aduk” seperti prekuelnya, Ada Apa dengan Cinta? 2 berjalan terseok-seok.

Film ini berkisah tentang Cinta dan Rangga yang sudah terpisah secara raga sekian purnama. Meskipun sempat berkunjung ke New York, toh jalan cinta keduanya harus kandas secara sepihak. Namun, bukan berarti keajaiban cinta itu hilang begitu saja. Secara tidak terduga, keduanya sama-sama memiliki urusan di Yogyakarta. Cinta dengan liburan se-geng-nya, Rangga dengan pencarian keluarganya. Apakah mereka bertemu? Jelas bertemu, dan di sinilah perjalanan yang ditunggu-tunggu oleh banyak penonton itu dimulai.

Setidaknya AADC 2 sukses dalam menjaring dua tipe audiens: 1) yang sudah berumur dan dulu sewaktu masih muda sukses dimabuk AADC; serta 2) yang masih muda dan penasaran ingin ikut merasakan romansa fenomenal itu. Karena nama besar AADC memiliki bekal nostalgia yang kuat, jadilah sekuelnya menjadi most wanted di berbagai layar pertunjukkan. Toh, sudah lama saya tidak melihat animo sebesar ini dari penonton Indonesia terhadap film produksi domestik. Bahagia? Jelas saya bahagia. Apalagi film ini dikomando oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, duo klop yang juga menelurkan film adaptasi novel Laskar Pelangi–film pertama yang saya tonton di bioskop, dan film urutan pertama di daftar box office Indonesia sampai review ini ditulis.

Faktor berikutnya, AADC 2 benar-benar setia menggunakan formula plot dari prekuelnya. Benar-benar mirip. Dari pembukanya yang rame, konflik yang labil, hingga eksploitasi kesalahpahaman yang berujung pada resolusi para pemainnya. Model macam inilah yang berhasil menjadikan AADC sebagai sebuah film yang meskipun sangat remaja, namun mampu menempelkan perasaan campur aduk–bahagia, sedih, kesal, uuuh, dan semacamnya–secara sukarela. Sayangnya, saya katakan AADC 2 ini mentah di naskah.

Kalau AADC adalah sajian klise yang nyenengin, AADC 2 menyeruak sebagai sajian klise yang bising. AADC sukses menangkap cirikhas generasi SMA awal 2000-an secara wajar, sedangkan AADC 2 juga menangkap cirikhas generasi 2010-an namun secara tidak lengkap. Keterwakilan ini tidak berhasil dimunculkan di hasil akhir filmnya.

Apalagi, Melly Goeslaw dan Anto Hoed ikut latah dengan secara berlebihan menyodorkan tracklist soundtrack di berbagai adegan. Kalau penempatannya bisa se-pas AADC tidak masalah, tetapi di sekuel ini semuanya terkesan asal tumpuk. Apalagi dengan langkah gegabah memberikan musik elektronik sebagai salah satu elemen scorring-nya–enggak AADC banget, meski mungkin saja ada bantahan bahwa bagian ini guna mengikuti era. Yang terjadi justru sepanjang menonton saya tidak bisa memperoleh sensasi romansa secara utuh, saya dibuat pusing, dan tidak diberikan jeda bahkan untuk sekadar hanyut di dalam pengisahan.Tapi, kesalahan terfatal adalah langkah menarasikan puisi di atas gambar, alih-alih menjadikannya bagian integral dalam realitas film.

Meski begitu, visual yang disuguhkan memang sangat indah. Banyak latar yang sukses dibidik dari sudut terbaiknya. Oh, dan tentu saja dampaknya sukses menjadikan tempat-tempat itu sebagai destinasi populer baru–terutama di kalangan anak muda. Catatan saya di bagian visual ini tergolong minor, hanya ada beberapa scene yang rendering-nya kurang halus dan shaky.

Visual yang mumpuni itu pun didukung oleh para pemainnya yang tetap mempertahankan cirikhasnya. Saya suka cara Mira dan Riri dalam membuat penonton sangat familiar dengan karakter-karakter utamanya. Terutama Milly yang sering bikin geregetan, Rangga yang formal, Cinta yang nyenengin tapi juga bikin gagal paham, Karmen yang garang dan sangat keren di sini, Maura yang kurang menonjol, pun Mamet yang tidak se-memorable prekuelnya–terlepas dari scene di akhir.

Pada akhirnya, AADC 2 memang mengajarkan pada kita semua bahwa sekuel itu tidak selamanya gampang dibikin. Terutama ketika sumber cerita utamanya sangatlah legend. Sebagai sebuah sajian visual, film ini berhasil. Namun secara kualitas yang ditawarkan, sungguh film ini kelabakan.

tersapa memberikan 7 dari 10 bintang.

(Film Ada Apa dengan Cinta? 2 sudah ditonton pada 16 Mei 2016, review resmi ditulis pada 17 Mei 2016)


Review ini sebelumnya telah tayang di tersapa.com sebelum dipindah ke ngepop.com, dan telah dibaca lebih dari 550 kali

(Visited 98 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *