Review Film | “King Jack (2015)” Memandu Proses Pendewasaan

Judul: King Jack | Cast: Charlie Plummer, Christian Madsen, Daniel Flaherty, Cory Nichols, Yainis Ynoa | Sutradara & Penulis Naskah: Felix Thompson | Produser: Gabrielle Nadig, Dominic Buchanan | Rilis: Festival 2015, Universal 2016 | Durasi: 81 menit


King Jack adalah panduan untuk mengenal fragmen paling fragile dalam perjalanan hidup seorang remaja. Memang tokoh utamanya berlatar lingkungan Amerika, bukan berarti relevansinya di region lain nihil. Justru film ini membuat penonton universal paham bahwa proses pendewasaan setiap individu adalah krusial dan wajib didukung, bukan dilarang.

Film ini berkisah tentang Jack, remaja yang tinggal bersama seorang kakak laki-laki serta ibunya. Keseharian Jack layaknya ABG lain, dipenuhi perseteruan, adu pendapat, ego, dan jatuh cinta. Bahkan di perkara cinta, Jack sampai dibuat buta mata. Dia rela melakukan apa saja demi gadis incarannya. Sayang, langkahnya tidak baik-baik saja–cinta dan di luar cinta. Muncul sandungan demi sandungan yang mesti dilalui guna menuntaskan panggung pendewasaan pola pikir bagi dirinya.

Di pandangan sederhana saya, sebenarnya bermunculan cukup banyak ketidaksetujuan ketika menyaksikan King Jack. Ketidaksetujuan itu tidak ada kaitannya dengan latar tempat–kalau hanya itu saya sudah bisa menyesuaikan sejak awal–, lebih ke pilihan tindakan karakter yang hanya berjangka pendek. Serta-merta, saya tidak seberani Jack di usia itu. Saya bukan orang yang mau berkonfrontasi langsung secara fisik, Jack pun sebenarnya begitu–lebih suka menghindar. Namun, di situasi tertentu Jack bisa sangat-sangat berani. Berani yang tidak hanya berhenti di pertikaian fisik atau pun kenekatan. Namun juga dari ujaran jujur hingga mental. Kamu pasti akan paham dengan bagian ini pasca menonton filmnya.

Jack memberi harapan bagi setiap remaja yang saat ini masih berjuang buat berani melewati fasenya.

Bahwa tidak ada aturan baku yang berlaku universal tentang melewati sesi awal pencarian pengakuan ini. Dan tidak ada paksaan pula bahwa setiap orang harus melaluinya dengan sempurna–tidak wajib jadi jagoan, tidak salah menjadi penakut di beberapa hal. Bahkan indikatornya saja sangat intrapersonal–hanya diri sendiri yang tahu ingin menjadi sejauh apa. Di King Jack, penonton dipandu untuk memaklumi hal ini via pilihan sikap tiap tokohnya.

Dari Jack yang menjadi anomali, penuh tanda tanya iya dan tidak. Si Ibu yang emosinya suportif, paham betul bagaimana untuk bersikap sewajarnya. Sang Kakak yang sebenarnya tingkat kedewasaannya masih ngambang namun harus berlagak bisa–tapi di urusan lain dia benar-benar pahlawan. Sepupunya yang menjadi variabel utama dalam perjalanan ini, yang paling bisa mengambil simpati. Para cewek di sekeliling Jack yang kesemuanya dilematis. Pun gerombolan pem-bully Jack yang bikin pikiran saya terus bekerja keras–karena sampai hari ini saya masih tidak paham kenapa ada orang yang memilih bermental seperti itu.

Elemen-elemen penting yang berperan menjadikan sebuah film menjadi istimewa sudah digenggam King Jack. Untunglah para penggawa teknisnya paham bagaimana harus memperlakukan material semacam ini. Melalui eksekusi visual yang kalem–filter gambarnya sungguh mengejawantahkan nuansa coming age; dialog yang tidak neko-neko bahkan cenderung polos; hingga fase pendeknya yang terkontrol; film ini sukses memunculkan kesan “encourage” di benak saya. Ini penting, sebab saat ini justru ketakutan lebih dicintai oleh generasi millennials.

Boleh saja ada penonton yang merasa tidak puas bahkan tidak suka dengan King Jack. Saya bisa paham ketika ada yang mengeluarkan komentar bahwa film ini biasa saja–karena memang bukan jenis film bernapas ekstravaganza, dan memang plotnya sederhana. Tapi, saya sangat yakin–dan percayalah–bahwa semakin banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak penonton ketika dulu tengah melalui fase remaja, relevansi emosional dari film King Jack bakal menjadi semakin kentara.

tersapa memberikan 8.5 dari 10 bintang.

Film King Jack telah ditonton pada 3 Mei 2016, review resmi ditulis pada 7 Mei 2016.


Review ini sebelumnya telah tayang di tersapa.com sebelum dipindah ke ngepop.com, dan telah dibaca lebih dari 450 kali

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 142 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required