Saturday, October 16

Review Film | “Alice Through the Looking Glass (2016)” Sekuel Setengah Hati

Magis Alice in Wonderland tinggal ceceran di Alice Through the Looking Glass–yang kemudian di review ini disebut Alice 2. Alice 2 hanyalah parade visual yang miskin substansi dan urgensi. Bahkan karakter-karakter ikoniknya pun tampil limbung kurang tenaga.

Alice Through the Looking Glass berkisah tentang Alice (Mia Wasikowska) yang sekarang adalah seorang pelaut. Dia harus berhadapan dengan situasi sulit karena deraan finansial keluarganya. Dalam kondisi batin yang kurang nyaman, secara tidak terduga Alice kembali memasuki Wonderland karena mengikuti seekor kupu-kupu yang memasuki sebuah cermin. Di Wonderland pun Alice mendapati kenyataan bahwa sahabat lamanya, Hatter Tarrant Hightopp (Johny Depp), sedang gundah. Dia menyalahkan dirinya sendiri sebab telah berburuk sangka kepada orangtuanya yang menyebabkan mereka berada dalam kondisi bahaya.

 

Tim Burton yang sebelumnya menjadi sutradara Alice in Wonderland di sini hanya berperan sebagai produser. Kursi sutradara diduduki oleh James Bobin yang bertanggung jawab terhadap buruknya departemen pengarahan film ini. Serius, untuk banyak aspek di luar visual, Alice 2 adalah bencana–tak terkecuali penyutradaraan. Film ini kebingungan menentukan tujuan akhir yang dipengaruhi oleh inkonsistensi rute perjalanannya.

Dari sisi naskah, Alice 2 sangatlah mentah. Film ini tidak tahu apa yang harus diceritakan dan mengapa harus diceritakan. Ketika “what” dan “why” tidak memiliki definisi sejak awal, ketidakjelasan-demi ketidakjelasanlah yang akan menguasai. Pada akhirnya, langkah gegabah diambil, yaitu menggunakan formula penceritaan perjalanan waktu. Formula ini tidaklah salah kalau memang kerangkanya sudah matang, logikanya sudah jalan. Namun, dengan kondisi yang masih serba kebingungan, plot perjalanan waktu pasti malah menjadi bumerang. Terbukti di Alice 2, alih-alih sukses memberikan kesan “mind-blowing” dengan membawa kalimat sakti “masa lalu tidak bisa diubah”, justru plotnya menjadi meh dan keteteran.

Ditambah, gagasan terbesar yang coba dibawa, yaitu rasa percaya satu sama lain, gagal dieksplor karena bercabang di tengah durasi hingga akhir. Bahasan tentang pentingnya waktu dan berharganya keluarga saling tubruk. Langkah ini membuat dialog yang ada jadi nampak menggurui dan tidak jarang berujung pointless.

Dampaknya, karakter-karakternya tidak bisa tampil kuat dan meyakinkan. Bahkan untuk karakter semacam Time (Sacha Baron Cohen) dan Iracebeth (Helena Bonham Carter) yang tergolong aman saja, keduanya masih menampilkan performa tanpa karisma kuat–terutama Ratu Merah yang gagal melanjutkan atmosfer Alice in Wonderland. Karisma di sini bukan dalam bentuk idealis, perlu dicatat bahwa franchise Alice menjadi bernyawa karena para karakternya nampak janggal. Menonton Alice 2 semacam kita melihat berbagai karakter yang menggunakan kostum familiar, namun personanya sama sekali lain.

Alice Through the Looking Glass adalah film yang gamang. Menjadi patut dipertanyakan apakah film ini dibuat hanya demi memuaskan ego sukses finansial rumah produksi ataukah memang dibuat dengan hati–yang sayangnya tidak terasa di sini. Lagu apik Just Like Fire yang dibawakan oleh P!nk pun akhirnya tidak bisa berbuat banyak, mengingat kualitas film yang masih medioker. Mengecewakan.

tersapa memberikan 6 dari 10 bintang.

Film Alice Through the Looking Glass telah ditonton pada 1 Juni 2016, review resmi tersapa ditulis pada 18 Juni 2016.

 


Review ini sebelumnya tayang di laman tersapacom sebelum akhirnya merger ke ngepopcom dan telah dibaca lebih dari 3000 visitor.

(Visited 435 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *