Review Film Indonesia | “Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)” Kerapian dalam Bertutur

Estimasi waktu baca: 2 menit

[Spoiler Alert]

Ayat-Ayat Cinta 2 masih mengangkat seputar Islam di masa kini dan hubungan romansa personal.

Bercerita tentang Fahri yang mencintai tetapi kehilangan Aisha. Beserta kebaikan-kebaikan pada sesama yang Ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari kesedihan. Manis, baik, lemah lembut, dan ramah, membuat banyak wanita jatuh cinta padanya. Dia masih Fahri yang sama dengan Fahri pada Ayat-Ayat Cinta (2008), hanya saja hatinya sudah dimiliki Aisha.

Saya cukup takjub dengan cara penuturan cerita film ini.

Tantangannya jelas pada penggunaan berbagai bahasa, setting waktu yang melompat-lompat, dan banyaknya tokoh di luar tokoh utama. Namun semuanya masuk dengan rapi dan baik. Tidak terasa ganjil, tidak menimbulkan keinginan untuk membuka hp dan menguap (karena bosan). Padahal durasi film ini mencapai dua jam.

Matangnya keseluruhan proses pembuatan film ini juga tampak pada trailer resminya. Tidak semua dialog dan visualnya diambil dari film yang ditayangkan. Masih ada beberapa masalah yang belum diceritakan, tapi trailer masih mampu memberi gambaran fokus dari Ayat-Ayat Cinta 2. Menurut saya, itu bagus. Tentu saja karena langsung saya bandingkan dengan film lain yang saya tonton hari itu, Susah Sinyal.

Rasa-rasanya Ayat-Ayat Cinta 2 ini terbagi menjadi dua babak.
Babak pertama tentang Fahri dan isu di lingkungannya.

Teroris, Islamophobia, toleransi antaragama, dan beberapa hal detail yang sering dipusingkan sesama penganut agama Islam. Dibahas tidak secara mendalam, akan tetapi cukup solutif dan membawa kedamaian. Ah. Tipikal Fahri. Berkat babak ini, penokohan Fahri semakin kuat. Secara tidak langsung juga membuat saya berilusi, “Lelaki muslim seharusnya begitu tuh.”

Ngomong-ngomong, gong-nya babak tersebut terhitung menyebalkan karena debatnya dimenangkan Fahri berkat Nenek Catarina. Bukan berkat kecerdasan Fahri, seperti harapan dan ekspektasi saya. Pilihan ini–menurut saya–membuat babak ini terasa kurang “nendang”.

Babak kedua, tentu saja tentang cinta.

Aisha yang masih hilang, Hulya yang cerdas (dan aktif menjaga hubungan dengan Fahri), dan Keira yang penuh amarah. Tidak membentuk cinta segi banyak kok. Babak ini justru diceritakan seperlunya. Tidak tumpang tindih. Tidak serumit kisah di Ayat-Ayat Cinta. Tidak menye dan merendahkan perempuan.

Meski permulaan dan pertengahan Ayat-Ayat Cinta 2 bisa dinikmati, sayangnya penutupnya mengagetkan. Banget.

Emang bisa ya, kayak gitu? Saya awam dengan ilmu kedokteran dan tidak yakin mau menilai seperti apa. Pastinya sebagai penonton, saya merasa perih dan nyeri.

Rating 8 dari 10 bintang

Nb: Oh soal Aisha. Saya ada pesan personal untuk pembuat film: itu seriusan solusi atas drama keberadaan Aisha mau dibuat seperti itu? Rawan dijadikan lelucon, hlo. Apa tidak ada solusi lainnya? Soalnya setahu saya, hubungan yang dekat mampu membuat clue sekecil “pandangan mata” sebagai cara untuk mengenali seseorang. Baiklah, saya akan mencoba berpikir positif: Fahri adalah lelaki yang selalu menjaga pandangan.

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 77 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required