Review Film Indonesia | “Susah Sinyal (2017)” Bom Tawa Itu Tidak Meledak Hebat

Estimasi waktu baca: 2 menit
Setelah Ngenest (2015) dan Cek Toko Sebelah (2017) membekas di ingatan, saya menunggu-nunggu film Ernest Prakasa yang selanjutnya. Apalagi setelah trailer awal Susah Sinyal muncul. *

Susah Sinyal (2017) bercerita tentang dinamika hubungan seorang single-mother dan anaknya. Pekerjaan Ibu yang menyibukkan, anak yang tumbuh remaja, dan kepedihan karena kematian anggota keluarga adalah inti ceritanya.

Secara personal, saya menyukai ide tentang penggunaan sudut pandang manusiawi untuk melihat sosok Ibu.

Khususnya tentang Ibu yang berusaha memahami dan mendekati kehidupan anaknya dengan beradaptasi pada perbedaan zaman dan menyeimbangkan dengan dunianya sendiri.

Mom, you have to watch this movie and start to love your daughters/sons the way they want your love.

Sayangnya, inti cerita tersebut “kabur”.

Terhalang oleh cerita pendamping yang tidak tuntas dan kehadiran tokoh lain yang keberadaannya tidak berpengaruh. Yang paling terasa adalah dinamika Iwan dan Ibunya. Interaksi Iwan dan Ibunya lewat telepon itu memang lucu, tapi kalau tidak ada pun, tidak memengaruhi aspek lainnya. Jalan cerita akan baik-baik saja tanpa Ibunya Iwan. Sayang sekali Dayu Wijanto mendapat jatah tetapi tidak berperan banyak.

Oh ya menyoal lelucon di dalam Susah Sinyal. Berhasil menghibur dan menciptakan tawa, kok, tapi tidak semua “bom-bom” itu meledak.

Beberapa diantaranya digagalkan sendiri oleh trailer resmi. Kalimat, “Maap, maap. Aku tu lagi fokus mbenerin radio. Kalau jadi TV gimana?” itu tidak meledak hebat, hlo.

Jangan bilang itu kesalahan saya karena menonton trailer resminya terlalu sering. Saya itu antusias. Lagipula trailer itu muncul sendiri saat saya memutar video di Youtube dan berkunjung ke bioskop, loh.

Saya merasa beberapa ramuan lelucon untuk Susah Sinyal ini masih sama dengan Cek Toko Sebelah (2016). Kurang berubah banyak. Apalagi lelucon yang berpegangan kuat pada penyuntingan gambar. Tawa saat melihat Dodit yang berkata, “Ngga,” tidak sekuat dulu saat menonton Asri Welas berkata, “Boleh.” Syukurlah pada film ini, Asri Welas masih lucu, segar, dan memberi makna mendalam seperti film yang sebelumnya.

Meski dibuat oleh sutradara yang sama, sayang sekali Susah Sinyal (2017) belum mampu memberikan kesan sekuat Ngenest (2015) dan Cek Toko Sebelah (2016).

Rating: minus dua poin dari CTS (kalau CTS 9/10, maka Susah Sinyal adalah 7/10)

* = Ekspektasi saya menurun ketika trailer resminya muncul. Lagi lagi karena memasukkan terlalu banyak cuplikan, namun berantakan. Tahulah kalau jualan sekotak bakpia itu, nyicipnya cukup dengan potongan kecil/sebuah bakpia mini, bukan satu buah bakpia besar.

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 202 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by Review Film | “Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)” Kerapian dalam Bertutur • Ngepop | your ultimate lunacy

    […] Matangnya keseluruhan proses pembuatan film ini juga tampak pada trailer resminya. Tidak semua dialog dan visualnya diambil dari film yang ditayangan. Masih ada beberapa masalah yang belum diceritakan, tapi trailer masih mampu memberi gambaran fokus dari Ayat-Ayat Cinta 2. Menurut saya, itu bagus. Tentu saja karena langsung saya bandingkan dengan film lain yang saya tonton hari itu, Susah Sinyal. […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required