Friday, June 14

Tag: ernest prakasa

Review Film Indonesia | “Susah Sinyal (2017)” Bom Tawa Itu Tidak Meledak Hebat
#Film, #Home, Rating 7

Review Film Indonesia | “Susah Sinyal (2017)” Bom Tawa Itu Tidak Meledak Hebat

Setelah Ngenest (2015) dan Cek Toko Sebelah (2017) membekas di ingatan, saya menunggu-nunggu film Ernest Prakasa yang selanjutnya. Apalagi setelah trailer awal Susah Sinyal muncul. * Susah Sinyal (2017) bercerita tentang dinamika hubungan seorang single-mother dan anaknya. Pekerjaan Ibu yang menyibukkan, anak yang tumbuh remaja, dan kepedihan karena kematian anggota keluarga adalah inti ceritanya. Secara personal, saya menyukai ide tentang penggunaan sudut pandang manusiawi untuk melihat sosok Ibu. Khususnya tentang Ibu yang berusaha memahami dan mendekati kehidupan anaknya dengan beradaptasi pada perbedaan zaman dan menyeimbangkan dengan dunianya sendiri. Mom, you have to watch this movie and start to love your daughters/sons the way they want your love. Sayangnya, inti cerita te...
Review Film Indonesia | “Cek Toko Sebelah (2016)” Menjamu Kemapanan
#Film, #Home, Rating 8

Review Film Indonesia | “Cek Toko Sebelah (2016)” Menjamu Kemapanan

Sementera Ernest semakin layak digelari "pencipta" karakter sidekick yang handal--sejak dari Ngenest lewat Patrick (Morgan) dan sekarang Yohan (Dion)--fokus Cek Toko Sebelah justru terdistorsi oleh obsesi subplot keroyokannya. Kali ini penonton diajak untuk mengikuti sepotong perjalanan Erwin dan kakaknya, Yohan. Mereka berdua adalah anak dari Koh Afuk, pemilik toko kelontong keturunan Cina. Karena si ayah semakin sering sakit-sakitan, toko ingin diwariskan ke salah satu anaknya. Erwin-lah yang ditunjuk, sedangkan dia sedang memiliki karier kantoran yang cemerlang. Yohan yang bekerja sebagai seorang fotografer tidak bisa berbuat banyak--padahal dia ingin mewarisi usaha keluarganya itu--dia semakin merasa kerdil di mata keluarga sejak sang ibu meninggal. Selanjutnya, keputusan dengan berba...
Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial
#Film, #Home, Rating 9.5

Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial

Faktanya, film dengan tema sensitif hanya akan berhasil kalau dibuat langsung oleh orang dalam. Artinya, proses panjang yang dilalui haruslah disupervisi langsung oleh entah itu pelaku atau korbannya. Dan Ngenest mampu tampil seepik ini karena tangan Ernest berada langsung di belakang kemudi. Isu rasial bisa dimaklumi bahkan ditertawakan bersama sejak awal hingga pamungkas durasi. Inti pertama: tagline Ngenest tidak bohong.   Film Ngenest diadaptasi dari novel trilogi Ngenest karya Ernest Prakasa. Pengisahan yang ada di dalamnya terinspirasi langsung oleh pengalaman hidupnya sebagai keturunan Cina. Cina mungkin tidak akan mendapat posisi sulit apabila berlatar Malaysia atau Singapura. Sayangnya di Indonesia, etnis Cina berada di posisi yang serba salah. Cuci otak orang Indo...