Rating 9.5

#Review Film

Review Film | “Wonder Woman (2017)” Superior Tanpa Memojokkan

Muncul wacana “Wonder Woman menyelamatkan DCEU”. Apa iya? Bagi saya pribadi, Wonder Woman bukanlah penyelamat DCEU, melainkan penerus warisan blueprint DCEU yang kebetulan mampu menyambung lidah blueprint-nya kepada audiens yang dulu belum terjangkau. Sebagian kecil dari blueprint besar yang digarap oleh Zack Snyder itu kini berhasil ditranslasikan oleh Patty Jenkins dengan tetap memberikan sentuhan perspektifnya […]

#Review Film

Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi

Sebuah pemuncak fase dari franchise epos yang baik adalah yang mampu memberikan ruang memadai untuk jatah tribute sekaligus potensi regenerasi. Logan memenuhi syarat itu. Film ini pun berhasil mendobrak stigma “polosan” yang selama ini lekat diasosiasikan ke judul-judul layar lebar Marvel. Film ini bercerita tentang babak terakhir yang mesti dilalui oleh Logan atau yang selama […]

#Review Film

Review Film | “La La Land (2016)” Los Angeles dan Balon-Balon Asa

Berbekal tumpukan asa dan segepok attitude, La La Land punya paket lengkap untuk disebut sebagai film motivasi. Perpaduan apik antara jazz dan dunia seni itu sendiri. Mengawali perjalanan berdurasi dua jam lebih sedikit, penonton disambut oleh visual kemacetan di Los Angeles (LA). Di sini pulalah awal pertemuan Mia dan Sebastian terjadi, meski impresinya kurang mengenakkan. […]

#Review Film

Review Film | “Arrival (2016)” Klenik atau Ilmiah?

Kalau seumpama Arrival diadaptasi di Indonesia, kemungkinan besar terma “cenayang” atau “dukun” akan ikut nebeng di judulnya. Namun karena ini adalah buah karya Hollywood asal Amerika, pesan klenik pun harus dibalut sesains mungkin. Untuk melakukannya, tak tanggung-tanggung film ini menjadikan linguistik dan sains sebagai duta utama demi mengikis ego chauvinisme. Film ini berkisah tentang Louise, […]

#Review Film

Review Film | “Hacksaw Ridge (2016)” Perang Bukan tentang Kemenangan

Banyak film perang yang disebut-sebut dalam daftar terbaik tidak menggunakan perang sebagai ceruk eksploitasi, justru keteguhanlah yang pada akhirnya membuat penonton rela memujinya habis-habisan. Begitu pula dengan Hacksaw Ridge. Ini adalah film perang realistis terbaik, paling tidak semenjak warisan tak terbantahkan dari Saving Private Ryan. Hacksaw Ridge berkisah tentang kisah nyata seorang prajurit Amerika di […]

#Review Film

Review Film | “Captain America: Civil War (2016)” Mengagumi Russo Bersaudara, Spider-Man, dan Black Panther

Captain America: Winter Soldier dan Captain America: Civil War adalah dua film terbaik sepanjang Marvel Cinematic Universe (MCU) per 2016. MCU juga sangat diuntungkan karena telah lebih dulu mengenal Anthony Russo dan Joe Russo. Duo bersaudara brilian yang kembali didapuk sebagai sutradara setelah sebelumnya juga sempat mengomandoi Captain America: Winter Soldier. Kalau mau lebih jujur […]

#Review Film

Review Film | “Midnight Special (2016)” Sespesial Empati Tak Bersyarat

Midnight Special adalah empati tanpa syarat. Bahkan ketika kamu tidak sepenuhnya memahami setiap dialog yang dilontarkan, itu bukanlah perkara besar. Film ini bukan di tipe “membimbing penonton”, tetapi “berjalan bersama penonton”. Semua tidak kentara bakal berakhir seperti apa dan bagaimana. Tetapi ada satu keyakinan yang terus menyala terang di sepanjang durasi. Seterang pendar mata Alton. […]

#Review Film

Review Film | “Batman v Superman: Dawn of Justice” Blueprint DCEU di Jalan yang Tepat

Batman v Superman adalah kawah candradimuka dalam modifikasi makna. Bagi yang menyukainya, akan memujanya. Bagi yang tidak suka, bakal membencinya. Saya, tanpa malu, berada di golongan pertama. Mari kita pahami perspektif masing-masing sebelum saling lempar hujatan. (Break–sebelum menonton, beberapa menit pasca review pers mulai boleh dirilis) Baru juga 2016 jalan tiga bulan, namun gempuran rasa […]

#Review Film

Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial

Faktanya, film dengan tema sensitif hanya akan berhasil kalau dibuat langsung oleh orang dalam. Artinya, proses panjang yang dilalui haruslah disupervisi langsung oleh entah itu pelaku atau korbannya. Dan Ngenest mampu tampil seepik ini karena tangan Ernest berada langsung di belakang kemudi. Isu rasial bisa dimaklumi bahkan ditertawakan bersama sejak awal hingga pamungkas durasi. Inti […]