Thursday, July 29

Rating 9.5

Review Film | “Wonder Woman (2017)” Superior Tanpa Memojokkan
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Wonder Woman (2017)” Superior Tanpa Memojokkan

Muncul wacana "Wonder Woman menyelamatkan DCEU". Apa iya? Bagi saya pribadi, Wonder Woman bukanlah penyelamat DCEU, melainkan penerus warisan blueprint DCEU yang kebetulan mampu menyambung lidah blueprint-nya kepada audiens yang dulu belum terjangkau. Sebagian kecil dari blueprint besar yang digarap oleh Zack Snyder itu kini berhasil ditranslasikan oleh Patty Jenkins dengan tetap memberikan sentuhan perspektifnya sebagai seorang perempuan sutradara. Dampaknya, hadir sosok perempuan superhero berjuluk Wonder Woman yang tidak saja tampil mengesankan, tetapi juga berhasil menyublimkan aspirasi superior tentang penihilan dikotomi peran berdasarkan jenis kelamin. Dalam Wonder Woman "origins" ini kita dipertemukan dengan putri kesayangan kaum Amazonian, Diana Prince. Mereka tinggal di sebuah ...
Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Logan (2017)” Tribute dan Prolog Regenerasi

Sebuah pemuncak fase dari franchise epos yang baik adalah yang mampu memberikan ruang memadai untuk jatah tribute sekaligus potensi regenerasi. Logan memenuhi syarat itu. Film ini pun berhasil mendobrak stigma "polosan" yang selama ini lekat diasosiasikan ke judul-judul layar lebar Marvel. Film ini bercerita tentang babak terakhir yang mesti dilalui oleh Logan atau yang selama ini kita kenal dengan sebutan Wolverine. Berseting di 2029, dengan alternate universe, roda kehidupan dunia ternyata tidak semuluk-muluk bayangan di masa lalu. Para mutan kembali diburu justru untuk menciptakan friksi-friksi baru yang lebih mengerikan. Melihat kondisi ini, Logan memilih undur diri dari perjuangan X-Men dan beralih profesi menjadi pengemudi limo untuk memenuhi kebutuhan hidup. Logan tidak sendiria...
Review Film | “La La Land (2016)” Los Angeles dan Balon-Balon Asa
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “La La Land (2016)” Los Angeles dan Balon-Balon Asa

Berbekal tumpukan asa dan segepok attitude, La La Land punya paket lengkap untuk disebut sebagai film motivasi. Perpaduan apik antara jazz dan dunia seni itu sendiri. Mengawali perjalanan berdurasi dua jam lebih sedikit, penonton disambut oleh visual kemacetan di Los Angeles (LA). Di sini pulalah awal pertemuan Mia dan Sebastian terjadi, meski impresinya kurang mengenakkan. Mia adalah seorang perempuan yang ingin mengejar mimpinya sebagai seorang aktris. Sedangkan Sebastian adalah seorang pianis jazz kaki lima yang beraspirasi memiliki kelab sendiri supaya bisa menghidupi musik yang dicintainya. Selanjutnya mereka berdua secara tidak terduga selalu kembali dipertemukan oleh semesta. Pertemuan-pertemuan yang efektif memompa stamina keyakinan diri untuk terus bekerja keras menebus cita-cita...
Review Film | “Arrival (2016)” Klenik atau Ilmiah?
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Arrival (2016)” Klenik atau Ilmiah?

Kalau seumpama Arrival diadaptasi di Indonesia, kemungkinan besar terma "cenayang" atau "dukun" akan ikut nebeng di judulnya. Namun karena ini adalah buah karya Hollywood asal Amerika, pesan klenik pun harus dibalut sesains mungkin. Untuk melakukannya, tak tanggung-tanggung film ini menjadikan linguistik dan sains sebagai duta utama demi mengikis ego chauvinisme. Film ini berkisah tentang Louise, seorang ahli bahasa yang kebetulan harus kembali berurusan membantu pemerintah. Kali ini tugasnya bukan lagi menerjemahkan "siasat" intelijen berbahasa asing, tetapi melakukan komunikasi dengan alien yang tiba-tiba mampir ke bumi--kehadiran mereka mengakibatkan gelombang kepanikan dan ketakutan di masyarakat. Mereka--alien itu--tidak cuma berada di satu tempat. Mereka menunggangi "kendaraan" be...
Review Film | “Hacksaw Ridge (2016)” Perang Bukan tentang Kemenangan
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Hacksaw Ridge (2016)” Perang Bukan tentang Kemenangan

Banyak film perang yang disebut-sebut dalam daftar terbaik tidak menggunakan perang sebagai ceruk eksploitasi, justru keteguhanlah yang pada akhirnya membuat penonton rela memujinya habis-habisan. Begitu pula dengan Hacksaw Ridge. Ini adalah film perang realistis terbaik, paling tidak semenjak warisan tak terbantahkan dari Saving Private Ryan. Hacksaw Ridge berkisah tentang kisah nyata seorang prajurit Amerika di masa Perang Dunia II bernama Desmond Doss. Ayahnya adalah mantan prajurit AS pada Perang Dunia I dengan daerah operasi di Perancis. Karena ingatan yang terlalu pahit tentang situasi perang--di mana tiga teman dekatnya tewas--dia menjadi sosok ayah dan suami yang temperamental. Suatu ketika, Doss menemui titik baliknya, titik ketika dia memutuskan bahwa seumur hidup dia tidak aka...
Review Film | “Captain America: Civil War (2016)” Mengagumi Russo Bersaudara, Spider-Man, dan Black Panther
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Captain America: Civil War (2016)” Mengagumi Russo Bersaudara, Spider-Man, dan Black Panther

Captain America: Winter Soldier dan Captain America: Civil War adalah dua film terbaik sepanjang Marvel Cinematic Universe (MCU) per 2016. MCU juga sangat diuntungkan karena telah lebih dulu mengenal Anthony Russo dan Joe Russo. Duo bersaudara brilian yang kembali didapuk sebagai sutradara setelah sebelumnya juga sempat mengomandoi Captain America: Winter Soldier. Kalau mau lebih jujur lagi, dua installment terakhir Captain America merupakan capaian tertinggi MCU selama hampir sedekade ini. Civil War berkisah tentang kegamangan Avengers pasca berbagai tindakan "heroik" mereka di berbagai kota yang meskipun berhasil menumpas musuh namun menyisakan banyak penderitaan, kerusakan, dan kehilangan. PBB menggalang dukungan dan berupaya mengendalikan Avengers lewat perjanjian yang disodorkan--...
Review Film | “Midnight Special (2016)” Sespesial Empati Tak Bersyarat
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Midnight Special (2016)” Sespesial Empati Tak Bersyarat

Midnight Special adalah empati tanpa syarat. Bahkan ketika kamu tidak sepenuhnya memahami setiap dialog yang dilontarkan, itu bukanlah perkara besar. Film ini bukan di tipe "membimbing penonton", tetapi "berjalan bersama penonton". Semua tidak kentara bakal berakhir seperti apa dan bagaimana. Tetapi ada satu keyakinan yang terus menyala terang di sepanjang durasi. Seterang pendar mata Alton. Midnight Special berkisah tentang seorang ayah yang memiliki anak berusia delapan tahun bernama Alton. Dia adalah anak yang spesial, memiliki kekuatan di luar jangkauan pikir manusia. Tetapi, keberadaannya tiba-tiba menimbulkan kekacauan. Banyak pihak yang mencoba mencari dan menelitinya. Tidak mau berakhir buruk, Alton dengan perlindungan orang-orang terdekatnya mencoba membuka mata dunia. ...
Review Film | “Batman v Superman: Dawn of Justice” Blueprint DCEU di Jalan yang Tepat
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film | “Batman v Superman: Dawn of Justice” Blueprint DCEU di Jalan yang Tepat

Batman v Superman adalah kawah candradimuka dalam modifikasi makna. Bagi yang menyukainya, akan memujanya. Bagi yang tidak suka, bakal membencinya. Saya, tanpa malu, berada di golongan pertama. Mari kita pahami perspektif masing-masing sebelum saling lempar hujatan. (Break--sebelum menonton, beberapa menit pasca review pers mulai boleh dirilis) Baru juga 2016 jalan tiga bulan, namun gempuran rasa sesak serupa sudah dua kali melanda batin saya: pertama, kans Spotlight yang di detik-detik terakhir didiskreditkan oleh mayoritas prediksi kritikus buat memenangkan Best Picture Oscars; kedua, review awal para kritikus luar yang mendiskreditkan Batman v Superman menjelang perilisannya. Saya kemudian otomatis langsung berspekulasi tentang anomali poin kedua ini. Mengingat, saya sebelumnya juga s...
Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial
#Home, Film, Rating 9.5

Review Film Indonesia | “Ngenest (2015)” Penerimaan Rasial

Faktanya, film dengan tema sensitif hanya akan berhasil kalau dibuat langsung oleh orang dalam. Artinya, proses panjang yang dilalui haruslah disupervisi langsung oleh entah itu pelaku atau korbannya. Dan Ngenest mampu tampil seepik ini karena tangan Ernest berada langsung di belakang kemudi. Isu rasial bisa dimaklumi bahkan ditertawakan bersama sejak awal hingga pamungkas durasi. Inti pertama: tagline Ngenest tidak bohong.   Film Ngenest diadaptasi dari novel trilogi Ngenest karya Ernest Prakasa. Pengisahan yang ada di dalamnya terinspirasi langsung oleh pengalaman hidupnya sebagai keturunan Cina. Cina mungkin tidak akan mendapat posisi sulit apabila berlatar Malaysia atau Singapura. Sayangnya di Indonesia, etnis Cina berada di posisi yang serba salah. Cuci otak orang Indo...