Review Film | “Hacksaw Ridge (2016)” Perang Bukan tentang Kemenangan

Estimasi waktu baca: 3 menit

Banyak film perang yang disebut-sebut dalam daftar terbaik tidak menggunakan perang sebagai ceruk eksploitasi, justru keteguhanlah yang pada akhirnya membuat penonton rela memujinya habis-habisan. Begitu pula dengan Hacksaw Ridge.

Ini adalah film perang realistis terbaik, paling tidak semenjak warisan tak terbantahkan dari Saving Private Ryan.

Hacksaw Ridge berkisah tentang kisah nyata seorang prajurit Amerika di masa Perang Dunia II bernama Desmond Doss. Ayahnya adalah mantan prajurit AS pada Perang Dunia I dengan daerah operasi di Perancis. Karena ingatan yang terlalu pahit tentang situasi perang–di mana tiga teman dekatnya tewas–dia menjadi sosok ayah dan suami yang temperamental. Suatu ketika, Doss menemui titik baliknya, titik ketika dia memutuskan bahwa seumur hidup dia tidak akan membunuh orang. Keyakinannya itu memperoleh hujan celaan, terutama ketika dia bergabung menjadi prajurit perang. Munculnya banyak sinisme dari orang-orang itulah yang pada akhirnya mengubah banyak hal.

banner hacksaw ridge 2016 ngepopcom

Di awal, penonton akan dibimbing oleh narasi Doss. Dengarkan dengan seksama bahwa dia di situ tidak bermaksud melakukan penghakiman apa pun. Dia hanyalah orang yang percaya bahwa kebaikan akan berujung pada kebaikan lainnya. Suara lirih Doss yang diperankan oleh Andrew Garfield tersebut bahkan masih harus mengalami tumpang tindih dengan scoring dan sound mixing sangar yang saling memekakkan. Kalau kamu sudah sadar sejak awal, beginilah personifikasi dari sisa durasi selanjutnya.

Merinding rasanya melihat kebangkitan (ulang) seorang Andrew Garfield.

Selama ini karier terbaiknya adalah menjadi pemeran pendukung di The Social Network (2010), lalu diikuti oleh kecemerlangannya di 99 Homes (2015). Di antara itu, sekaligus sebelum-sebelumnya, Garfield seringkali memperoleh karakter yang tidak memberikan kesempatan baginya buat melakukan eksplorasi memadai. Saya masih ingat betul bagaimana Peter Parker membuat kapasitasnya semacam dikurung oleh pakem yang sebenarnya lumer tetapi masih berada di bawah bayang-bayang yang lebih besar, mindset orang-orang. Jadinya, dia tampil di level sekadar aman.

Di lain hal, saya selalu percaya bahwa Andrew Garfield itu sebrilian Joseph Gordon-Levitt. Dia akan mampu menyuguhkan performa yang “mengerikan”–saking bold-nya–ketika disodori slot menantang. Di penanganannya, Desmond Doss tidak hanya tampil sebagai prajurit yang menyelamatkan banyak nyawa kawannya, tetapi juga karakter yang mampu menembus ke level-level apresiasi personal nan simpatik. Trauma yang dia rasakan nampak relevan. Ujungnya, ketika saya kemudian tidak sengaja mbrebes mili, ini bukan karena kasihan atau mengasihani. Melainkan “ngeri” menyaksikan keteguhan seorang Doss itu sendiri.

Di aspek lain, Hacksaw Ridge mengembalikan kepercayaan publik bahwa Mel Gibson adalah pencerita yang mumpuni.

Dia sudah cukup lama dianggap “tertidur” dan semacam terjerembab di limbo. Melalui film ini, Gibson sukses menyodorkan medan peperangan secara realistis. Dia nampak tidak ingin muluk-muluk dalam memberi bungkus. Jelas ini adalah film Amerika, jelas pula bahwa Amerika-lah yang akan berada di posisi superior, tetapi Hacksaw Ridge tidak mutlak egois–sebab bukan ego kebrutalan yang menjadi fokusnya.

Gibson mampu meramu porsi yang meskipun tidak adil kalau dibilang setara, tetapi masih gentle dalam memberikan kredit kepada pihak-pihak seberang pada tragedi Okinawa Mei 1945.

Sari patinya, ini bukan lagi masalah pihak A menang perang melawan pihak B, tetapi tentang kecakapan menjelaskan bahwa di atas semuanya, kemanusiaan adalah segalanya.

Akhirnya saya merasakan sensasi serupa ketika menonton Mad Max: Fury Road tahun lalu, sensasi yang sejauh ini (sampai Oktober 2016) belum muncul kembali–dan terpatahkan oleh Hacksaw Ridge–: film ini harus masuk nominasi Best Picture di awards season kali ini. Sangat mengesankan. Menjadi bonus yang menggembirakan apabila Andrew Garfield, Mel Gibson, serta departemen sound-nya turut memperoleh rekognisi selayaknya.

Jangan bayangkan Hacksaw Ridge bakal penuh tensi dari awal hingga akhir.

Masih ada cukup porsi bridging yang ditampilkan yang memberikan kesempatan buat penonton untuk mengenal sedikit lebih jelas si tokoh utama dan orang-orang terdekatnya. Amati bagaimana janggalnya bumbu romansa yang dialami oleh Doss. Namun kalau saya boleh jujur, memang film ini agak terseok-seok pula di sekuens penjelas ini. Rasanya masih ada sekat-sekat transparan yang membuat jembatannya nampak rapuh.

Saran saja, tertawalah sepuasnya di beberapa momen menggelikan, sebab selebihnya, kamu tidak akan punya waktu bahkan untuk sekadar menyeringai.

Hanya akan ada tekanan di dada yang terus melesak membabi-buta. Lebih-lebih provokasi semakin dibakar oleh visual kurang ajar serta rentetan dentuman. Hingga akhirnya kamu nekat berburuk sangka, “Apa manusia macam Doss benar-benar nyata?” Di detik-detik itulah pikiran kembali tergulung ke belakang, mengingat masa lalunya di paruh awal durasi, menyadari bahwa dia (masih) manusia.

“One more, let me help one more.”

Hacksaw Ridge layak diganjar 9.5 dari 10 bintang.

Film Hacksaw Ridge (2016) telah ditonton pada 8 November 2016, review resmi ditulis di hari yang sama.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 356 times, 1 visits today)

Comments

  • a thought by #SpectacularTen 10 Film Terbaik 2016 (Bagian 2) – Ngepop | your ultimate lunacy

    […] 05. Hacksaw Ridge (baca review) […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required