Review Film Indonesia | “Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016)” Kesadaran Kita Sebagai Indonesia

Estimasi waktu baca: 2 menit

Ada terlalu banyak kebetulan di film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara.

Sedikit kebetulan itu menyenangkan, sedang kebanyakan justru bikin komplikasi. Prolog jadi goyah. Meski begitu, setelah mencoba mengendapkan sekian waktu, saya disadarkan bahwa pilihan-pilihan itu memang disengaja.

Penonton diajak mengikuti Aisyah, perempuan berjilbab yang menunggu panggilan kerja sebagai guru dari sebuah yayasan. Dia berada di posisi belum pasti tentang kapan jadwal pengangkatannya. Sampai selisih waktu singkat, datang telepon yang mengatakan dia bisa segera menjadi guru kalau mau ditempatkan di Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara sebab ada kandidat yang mengundurkan diri. Tanpa punya tendensi macam-macam di awal, dia menerimanya–keputusan mendadak yang justru membuat kaget orang-orang terdekat. Sampai di tempat, Aisyah sadar bahwa ada sangat banyak tantangan yang bakal menghampirinya hari demi hari ke depan.

banner-aisyah-biarkan-kami-bersaudara

Film ini mengalami beberapa kali kesalahan logika.

Dan itulah mengapa saya di awal menyinggung kata “kebetulan” dengan penekanan. Karena terlalu banyak “kebetulan” yang coba disisipkan, naskahnya pun kewalahan. Timeline di layar agak susah kalau coba disesuaikan dengan pola berpikir realistis. Pada bagian ini, ingat bahwa bahasan kita masih di perkara logika belum substansi.

Ambil contoh yang paling kentara: penempatan Natal dan Idul Fitri yang tidak terpaut jauh jarak perayaannya.

Kalau saja Aisyah tidak mematok kisah ini terjadi di tahun kapan, ujaran saya ini otomatis gugur.

Sayangnya, departemen production design kedodoran lewat dimasukkannya elemen-elemen penunjuk “kekinian” semacam smartphone, motor, mobil, dan sebagainya. Kalau saya tidak salah perkiraan, dengan seting waktu yang dipertunjukkan semestinya film ini berada jauh sebelum smartphone populer, atau malah terletak di masa depan sekalian.

Baru ketika beralih ke substansi, kita mesti memuji bagaimana Jujur Prananto “sengaja” meluberkan berbagai realita.

Dengan posisi Indonesia seperti sekarang ini (2016), berbagai fragmennya adalah wujud kegelisahan yang bisa dialami dan diamini oleh semua orang.

Coba tengok, baru juga di awal, kita sudah disambut dengan peringatan 100 hari meninggal. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana etnisitas sebenarnya bukanlah masalah besar. Aisyah yang perempuan, muslimah, dan Sunda tinggal bersama masyarakat adat yang berbeda agama, penduduk asli NTT, malahan Aisyah dilindungi-diayomi langsung oleh tetuanya. Banyak sekali penyajian semacam ini. Dan secara jujur, relasi dengan kondisi sekarang di mana banyak bermunculan orang bersumbu pendek, kehangatan dalam film Aisyah sukses membuat haru dan merinding. Sentimen buruk lahir karena salah paham, salah informasi (seperti yang dialami Lordis Defam diperankan Dionisius Rivaldo Moruk), dan minimnya kesadaran bersosial.

Layaknya karakter Aisyah, ini bukanlah film yang sempurna. Kalau sempurna, pasti film ini bisa menaruh product placement dengan lebih baik, bisa membangun jembatan plot yang utuh, bisa memberikan konklusi yang tidak se-lite ini. Namun, Aisyah melalui akting natural Laudya Cynthia Bella adalah sosok yang mau menjalani dan hidup menerima sekaligus belajar dari keadaan sekitar. Di beberapa bagian, melakukan kesalahan itu wajar.

Secara holistik kita seperti tidak sedang menonton film, melainkan melihat manusia-manusia nyata beserta kemungkinan-kemungkinan riil di sekelilingnya.

Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara memperoleh 7.8 dari 10 bintang.

Film ini telah ditonton pada 30 Oktober 2016, review resmi ditulis pada 30 Oktober, 26 Desember, dan 31 Desember 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 276 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required