Review Film | “Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)” Hampa di Tengah Gempita

Mereka yang tidak menghargai film Billy Lynn’s Long Halftime Walk adalah mereka yang belum bisa mengapresiasi hidup secara utuh.

Mereka yang masih dan rela pikirannya terjebak di dalam bola kaca berisi kebahagiaan selebrasi domestik instan. Ketika mereka masih ngotot bahwa “pahlawan” seharusnya menjadi apresiasi sepanjang masa (lifetime), tetapi justru melakukan pembiaran dan menganggap layaknya angin lalu ketika faktanya para pahlawan ini masih ditampilkan sekadar sebagai pelengkap komoditas pertunjukan. Tidak lebih. 

Kegetiran ini benar-benar nyata adanya. Ang Lee memahami betul esensi tamparannya, itulah mengapa film ini bisa terlahir dan sangat dia. Itulah mengapa film ini diberikan perlakuan spesial. Walaupun kalau ditarik di akhir, film ini memiliki fase yang sangat lambat dan sederhana.

Kita akan mengikuti kisah seorang Billy Lynn, prajurit Amerika Serikat yang dikirim ke Irak pada 2004. Dia masih terlalu muda ketika memutuskan untuk bergabung. Motivasinya pun sederhana, dia tidak mau mengecewakan saudara perempuannya yang habis mengalami kecelakaan parah. Di suatu waktu, komandannya tertembak oleh militan Irak. Billy menerobos dan mencoba melindunginya dengan melakukan kontak senjata jarak dekat. Berkat tindakan heroiknya yang tertangkap kamera ini, Billy diganjar penghargaan oleh pemerintah. Pun dia dan timnya (Bravo) diminta hadir di panggung Halftime pertandingan American Football. Namun, kenyataan tidak setulus bayangannya.

1000px-banner-billy-lynns-long-halftime-walk-ngepopcom-2016

Saya jengah membaca ulasan yang terus-terusan menyalahkan eksperimen teknologi 120fps yang digunakan oleh film ini dan langsung seenaknya mematok penilaian general pun terkesan mengabaikan substansi.

Ang Lee menyebut, penonton yang tidak menyukai film ini versi 120fps sebab mata mereka belum siap–dengan visual hiper-realistis. Pertimbangan lain, penilaian timpang itu semakin tidak relevan karena jumlah bioskop yang “kompatibel” sangatlah sedikit–di Amerika hanya dua bioskop. Itulah mengapa di versi teatrikal umum, film ini ditayangkan dengan framerate layaknya film-film lainnya.

Dengan kondisi semacam ini, semestinya mereka yang beruntung mengalami 120fps harus menjadikan pengalaman itu sebagai suplemen review, bukan review utama. Berkaca pada audiens global yang lebih banyak  menyaksikan versi standar. Ketika sampai di versi standar ini, penilaiannya pun bisa lebih adil: penilaian visual sekaligus tetap menitikberatkan pada perkara substansi.

Poin berikutnya, setali seperti kontroversi teknologi yang dipakai, saya kira ada sebagian kalangan publik yang bakal kembali mencari-cari kesalahan dari film ini–sama tidak siapnya mereka dengan substansi yang ditawarkan.

Gagasan yang Ang bawa di sini memang sangat blak-blakan, dan sangat mungkin akan menciptakan kecamuk di kepala sebagian orang sebab tidak sesuai dengan konstruksi yang diyakininya selama ini.

Konstruksi tentang kondisi ideal para pahlawan, kotornya bisnis pertunjukan, hingga nampak permukaan dari berbagai hal yang selama ini terlihat baik-baik saja.

Film ini tidak membawa penonton dengan nuansa kesedihan. Sebaliknya, penonton akan diajak untuk bertemu dengan orang-orang yang seolah-olah tidak jauh berbeda dengan kita kebanyakan.

Meskipun mereka prajurit, mereka tetaplah manusia yang sangat suka iseng dan berkelakar. Bahkan di beberapa momen, penggambaran diri mereka semacam meruntuhkan imej prajurit yang selama ini kita tahu–termasuk di pembuka durasi. Inilah titik di mana saya juga sempat dibuat heran–kok sebercanda ini–dan akhirnya tersadar bahwa di kelanjutannya, film ini akan sangat memanusiakan mereka.

Bayangkan kamu adalah penggemar pertandingan olahraga yang selama ini hanya tahu sisi bahagianya saja. Selama ini penonton hanya disuguhi apa yang disorot oleh kamera tanpa tahu betapa kotornya praktik belakang layar. Long Halftime Walk membidik itu, Billy dan tim Bravo membawa semangat yang membuncah ketika dibilang bakal menjadi bagian di dalam pertunjukan megah itu bersama Destiny’s Child. Namun semakin berjalan, justru semakin banyak kehampaan yang terasa di tengah gempita lautan manusia lain.

Publik tidak peduli dengan mereka. Seheroik apa pun tindakan yang Billy dan teman-temannya lakukan.

Sekali pun ada, kepedulian itu hanya akan berlangsung singkat lalu terlupakan. Publik menjuluki orang-orang ini sebagai pahlawan, sedangkan mereka sendiri mesti bergulat dengan batin akan ingatan kejadian-kejadian mengerikan.

Pantaskah julukan pahlawan disematkan ketika mereka sendiri menganggap bahwa di kondisi sebenarnya (ketika di medan perang) itu adalah momen terburuk dalam hidupnya? Apalagi trauma pasca perang hanya merekalah yang menanggung, sementara orang lain hanya tahu sebatas selebrasinya–parahnya anggota keluarga juga ikut terjebak di stigma yang sama. Saya sukses dibuat ikut terpuruk ketika disadarkan dengan fakta ini melalui kegamangan seorang Billy.

Joe Alwyn sebagai Billy sangat luar biasa di sini, gesturnya natural–dia adalah aktor British pendatang baru yang bakal jadi aset besar Hollywood ke depan. Apalagi ketika berduet dengan Kristen Stewart–yang meskipun jatahnya sangat sedikit, tetapi sudah cukup menghidupkan kadar emosi. Beruntung detail visual film ini memang mumpuni, yang didominasi oleh bidikan close-up dan beberapa kali pop-up animasi–yang sempat membuat saya gamang karena kurang rapi meski penggambarannya sesuai.

Kembali ke gagasan, dan itulah mengapa, saya juga jadi sadar, masuk akal ketika banyak veteran (di bidang apa pun) yang dilupakan.

Sebab mereka diperlakukan cuma sebagai komoditas yang bisa dieksploitasi demi keuntungan di momen-momen tertentu saja.

Tanpa memiliki nilai tawar lebih di mata bisnis dan popularitas, mereka sampai kapan pun tetap berada di posisi lemah dan terlupakan. Lihat sosok Billy, di momen tertentu dia nampak sangat disanjung, tetapi sekian waktu kemudian dirinya seumpama meme “wasted” di kehidupan nyata–sedihnya, tidak banyak yang awas tentang tragedi semacam ini.

Billy Lynn’s Long Halftime Walk adalah bahan introspeksi universal. Kita disadarkan bahwa ada yang benar-benar salah di masyarakat yang terlalu mengidolakan “kebanggaan” ini.

Namun, tahu saja tidak cukup, perlu ada tindakan lanjutan yang harus berani dilakukan misalnya menentang sistem penyokongnya ketika dimungkinkan.

Tindakan yang dilakukan oleh Ang Lee dengan mengangkat kisah ini ke layar lebar kembali membuktikan bahwa dirinya adalah panutan, dia selalu mampu mencipta karya yang nampak tersegmen namun relevansinya selalu border less. Contoh lainnya, usaha Vin Diesel sebagai komandan yang religius di sini juga menjadi salah satu langkah sang karakter untuk mendobrak kesewenang-wenangan yang ada.

Di konteks Amerika sendiri, pasti akan ada banyak “aktor bisnis-politik kotor” yang merasa dipecundangi oleh film ini. Perang adalah rekayasa cuci tangan mereka untuk mencapai tujuan yang lain. Perang bukan lagi tindakan patriotik, justru malah cenderung bodoh. Billy menunjukkan bahwa masyarakat Amerika selama ini tidak sadar telah dininabobokkan dengan buaian fasilitas yang ada. Dan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk ke jebakan perang, medan perang justru menjadi rumah sebenarnya. Yang tidak diselimuti oleh kepalsuan. Yang bahkan “lawan perangnya” lebih menghormati mereka dibanding orang-orang dari negara asal para prajurit.

Perlu diingat, ini malahan film anti-perang.

Billy Lynn’s Long Halftime Walk memperoleh 8.5 dari 10 bintang.

Film Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016) telah ditonton pada 13 November 2016, review resmi ditulis pada 15 November 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 236 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required