Review Film | “Wonder Woman (2017)” Superior Tanpa Memojokkan

Estimasi waktu baca: 4 menit

Muncul wacana “Wonder Woman menyelamatkan DCEU”. Apa iya?

Bagi saya pribadi, Wonder Woman bukanlah penyelamat DCEU, melainkan penerus warisan blueprint DCEU yang kebetulan mampu menyambung lidah blueprint-nya kepada audiens yang dulu belum terjangkau. Sebagian kecil dari blueprint besar yang digarap oleh Zack Snyder itu kini berhasil ditranslasikan oleh Patty Jenkins dengan tetap memberikan sentuhan perspektifnya sebagai seorang perempuan sutradara.

Dampaknya, hadir sosok perempuan superhero berjuluk Wonder Woman yang tidak saja tampil mengesankan, tetapi juga berhasil menyublimkan aspirasi superior tentang penihilan dikotomi peran berdasarkan jenis kelamin.

Dalam Wonder Woman “origins” ini kita dipertemukan dengan putri kesayangan kaum Amazonian, Diana Prince. Mereka tinggal di sebuah pulau khusus perempuan yang diciptakan oleh Zeus menanggapi pemberontakan Ares. Lokasinya tersamar dari dunia luar. Sebagai sebuah kerajaan dan terbentuk karena misi khusus dari Zeus, penduduk di sini punya insting bertarung yang kuat. Diana yang ternyata diciptakan “berbeda”, sejak awal berusaha dihindarkan dari medan perang oleh sang ratu. Sayangnya, Diana tidak pernah mau patuh pada larangan tersebut. Suatu ketika nasib membawanya keluar dari pulau pasca bertemu dengan Trevor, seorang mata-mata masa Perang Dunia Pertama sekaligus pilot yang pesawatnya jatuh di perairan Amazon.

Membuat film heroik bersentralkan sosok perempuan tidak pernah mudah untuk dilakukan.

Bukan karena tidak mungkin terjadi, tetapi karena formulanya cukup pelik. Apalagi di dunia sinema yang selama ini sudah terlanjur kecanduan dengan standar male-gaze. Untuk memecah mata rantai itu, tentu saja salah satu langkah utama yang harus dilakukan adalah menyerahkan sebagian urusan vitalnya kepada sosok perempuan yang punya visi kuat.

Wonder Woman tidak hanya menyerahkan posisi strategis itu teruntuk satu orang, tetapi dua orang sekaligus: Patty Jenkins di posisi sutradara dan Gal Gadot di posisi protagonisnya.

Lebih beruntung lagi, film Wonder Woman kali ini berpatokan pada warisan yang tidak saklek. Seperti yang telah saya singgung di paragraf awal, Zack Snyder lewat blueprint besar DCEU-nya hanya memberikan brief cerita, yang kemudian cerita itu leluasa dikembangkan oleh penulis skenario Alan Heinberg dan tim (yang memang sudah familiar dengan sosok Wonder Woman di dunia komik). Penanganan naskah itu selanjutnya diserahkan ke tangan Patty untuk diarahkan di versi live-action. Kalau ditarik ke belakang, di 2003 dia pernah menangani film berjudul Monster yang juga meletakkan perempuan di luar konvensi normatif pada waktu itu.

Hasilnya mengesankan. Wonder Woman memberikan energi begitu kuat pada bab encouragement perempuan.

Lebih briliannya lagi, dorongan itu berhasil diberikan tanpa melakukan pengerdilan terhadap kaum laki-lakinya. Di sini, wacana yang dibawa adalah laki-laki dan perempuan sudah setara dari bawaan orok. Yang kemudian membuat status di struktur masyarakat tertentu berbeda adalah karena adanya upaya dominasi dan pemakluman. Coba tengok sekuens adegan sewaktu Diana tiba di London pasca berlayar bersama Trevor. Dia dihadirkan bukan sebagai perempuan yang mesti tahu diri akan jenis kelaminnya.

Dia tetaplah perempuan yang membawa nilai-nilai Amazonian, bahwa superioritas itu muncul dari inisiatif, bukan berdasarkan genitalia yang melekat.
Dampak dari itu pula, Wonder Woman punya modal yang relevan kenapa dia layak dijadikan sebagai role-model universal, terutama bagi anak-anak perempuan mana pun.

Melalui pembukaanya yang menggemaskan sekaligus bikin merinding (ketika Diana kecil mengamati dan mengimitasi latihan perang), film ini ingin menyalurkan semangat dan kepercayaan diri kepada penontonnya (termasuk anak-anak) bahwa mereka sesungguhnya punya kekuatan lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Gal Gadot lewat performanya di sini semakin meneguhkan bahwa dia memang sudah ditakdirkan menjadi karakter Wonder Woman.

Ekspresi dan gesturnya sebagai sosok yang masih buta dengan dunia luar berhasil ditampilkan secara meyakinkan dan terkadang komikal–karena kepolosan karakternya, bukan karena dibuat-buat. Begitu pula dengan mimik keteguhan sekaligus penggambaran karakternya yang powerful.

Gal yang hampir selalu menjadi scene-stealer berhasil diimbangi dengan begitu subtil oleh Chris Pine sebagai Steve Trevor.

Karakternya tidak hanya berlaku sebagai side-kick, tetapi juga membangun fondasi kokoh antara keduanya yang berimplikasi pada: Wonder Woman mencapai level tertinggi karena kehadiran Trevor, dan lagi Wonder Woman limbung di level terendah pun karena Trevor. Inilah salah satu treatment kunci mengapa sebelumnya saya sebut bahwa film ini tidak melakukan dikotomi peran, mereka saling mempengaruhi–bukan saling dependen.

Selain dua karakter utama, para pemeran pendukung juga melaksanakan perannya dengan porsi yang pas. Sebut saja para Amazonian tangguh di paruh awal, sekretaris Trevor, teman-teman Trevor yang diajak ke medan perang, hingga si villain utama. Melalui teman-teman Trevor pula kita juga disadarkan betapa konektivitas DCEU itu begitu detail–foto yang juga sudah ditampilkan di BvS. Menikmati DCEU memang tidak bisa buru-buru.

Pasca menandaskan Wonder Woman, hadirnya perasaan “penuh harapan” tidaklah mengada-ada.

Ada spirit tak kasat mata yang seolah begitu saja memberikan energi supaya kita kembali percaya pada kemanusiaan–apalagi di tengah kondisi konflik dunia saat ini. Kita disadarkan bahwa perubahan itu memang harus berasal dari individu terlebih dahulu, baru setelahnya energi cinta (love) itulah yang ditularkan ke berbagai penjuru. Terdengar klise? Iya, tetapi yakinlah bahwa hal klise itu sampai sekarang masih begitu menantang untuk direalisasikan.

Film ini memang sangat ambisius, apalagi menampilkan origins yang range-nya bermula dari masa kecil sampai dewasa–bahkan sampai ke era sekarang. Terkadang di beberapa bagian terasa efek dan pengambilan visual serta kontinuitas penuturan yang agak janggal. Meski begitu, saya menganggapnya sebagai minor (yang memang wajar untuk terjadi pada tantangan pengisahan semacam ini), lagi pula Wonder Woman masih berhasil menyajikan transisi periode yang halus. Ditambah lagi pasca BvS dan kini Wonder Woman, kita semakin jelas melihat peta besar DCEU ke depannya, tetap dengan tone warna yang konsekuen.

Wonder Woman ini bikin saya makin tidak sabar untuk menantikan Justice League.

Nb. Saya semakin jatuh cinta dengan scoring-nya.

Wonder Woman memperoleh 9.5 dari 10 bintang.

Film Wonder Woman (2017) telah ditonton pada 31 Mei 2017, review resmi ditulis pada 31 Mei 2017 dan 1 Juni 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 154 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required