Review Film | “Critical Eleven (2017)” Dominasi Ale dan Anya

Estimasi waktu baca: 4 menit

Critical Eleven (2017) di Ngepop tersedia dalam dua review terpisah: dari sudut pandang yang sudah membaca novelnya dan dari sudut pandang yang belum membaca novelnya. Tulisan ini adalah versi pembaca novelnya.


Ada tiga hal yang menyelamatkan Critical Eleven sebagai sebuah film: chemistry tak terbantahkan antara Reza dan Adinia, tata visual yang mapan, dan pendekatan adaptasi novelnya ke film yang bijak.

Tanpa ketiganya, film ini bakal lebih terseok-seok dalam menangani elemen plot pun juntaian karakter-karakternya.

Critical Eleven berkisah tentang dua orang, Anya dan Ale, yang tidak sengaja dipertemukan oleh Yang Mahakuasa di sebuah penerbangan pesawat. Interaksi keduanya mendadak lumer setelah Anya mengalami “insiden kecil” gara-gara panik mencari salah satu barang bawaannya. Gestur dan bantuan dari Ale menghasilkan impresi menyenangkan yang kemudian berjasa membawa mereka ke pelaminan. Pasca berstatus suami istri, kehidupan keduanya tidak sesederhana kelihatannya, Anya keluar dari pekerjaannya, mereka pindah ke New York supaya lebih dekat dengan rig tempat kerja Ale. Segala romantisme yang hadir tampak manis pada awalnya, hingga sampailah kita pada tragedi berkaitan dengan buah hati mereka.

Sejak menamatkan novelnya (terima kasih Mbak Ika untuk kiriman bukunya), saya selalu berpegang pada verdict bahwa Critical Eleven bukanlah buku yang filmis.

Novelnya terlalu deskriptif dan perjalanan konfliknya terlalu abstrak–mayoritas berupa pergulatan batin di benak masing-masing karakter. Pada waktu itu, setelah tahu bahwa buku ini akan difilmkan, saya sama sekali tidak punya bayangan bakal gimana nanti filmnya kalau tetap setia dengan narasi aslinya. Ini termasuk kejadian langka di mana saya justru berharap sebuah film adaptasi berani ambil resiko menyusun ulang penuturannya.

Ketika sudah tayang, bukti menunjukkan bahwa pendekatan adaptasi yang dipakai Critical Eleven ke film tepat guna.

Film ini tidak berakhir sebagai sebuah usaha copy paste, sebab memang susah melakukannya, apalagi sumber aslinya begitu “teks”. Dalam istilah yang lebih teoritis, film Critical Eleven merupakan wujud adaptasi di level translasi.

Level translasi menekankan bahwa pemindahmediuman suatu karya ke wujud lain bukanlah tentang “presisi”, tetapi tentang mengutamakan “nyawa”.

Akibatnya, penyusunan ulang novel karya Ika Natassa ke bahasa skenario dilakukan dengan lebih linier oleh Jenny Jusuf. Pelurusan plot ini merupakan langkah cerdas. Saya begitu impressed dengan paruh pertama durasi, sebab di situ terjadi penyesuaian habis-habisan dari materi narasi bertutur. Ketika di bukunya bagian New York hanya berlaku sebagai filler, di filmnya kota sejuta harapan ini bertindak sebagai katalisator penyusun fondasi chemistry dua tokoh utamanya.

Kalau diumpamakan dalam sebuah tatakan, penyesuaian yang dilakukan mampu membentuk formasi yang selaras antara naskah, visual (komposisi dan tone warna), serta isian musik (latar maupun soundtrack) pendukung.

Sayangnya, kecantikan presentasi tersebut tidak bebas cela.

Di catatan atas novelnya, saya selalu vokal bilang bahwa alur terapuh justru terletak di bagian pemicu dan penanganan konflik utama. Kalau skenarionya mampu lebih jeli dalam memilih dan memilah urgensi bagian tersebut, film ini bisa tampil nendang. Sebaliknya, kalau malah terperosok jauh ke jurang eksploitasi kesedihan, ini bakal jadi petaka.

Naas film Critical Eleven berada di kategori kedua. Ketika saya membayangkan bahwa bagian “kesedihan” itu ada baiknya cuma diberi porsi sekira 30 menit saja, ternyata di sini alokasinya melar sampai satu jam.

Bukan apa-apa, tetapi langkah ini sangat berpotensi membuat fasenya terlalu mendayu-dayu dan berujung pada rasa lelah bagi penonton. Dari yang saya alami sendiri, ketika berada di paruh kedua ini saya beberapa kali melirik jam tangan karena merasa, “Kok ga selesai-selesai, ya?”

Selain itu, implikasi dari perombakan alur adalah tentang tantangan “meletakkan” kembali karakter-karakter pendukungnya.

Jelas Critical Eleven menjadi film yang Anya-Ale-sentris, keputusan ini menjadikan keduanya punya ruang yang begitu lapang untuk leluasa mengeksplor “superioritas” mereka di layar. Di kondisi ini, peran karakter pendukung jadi terlanjur sempit, kelihaian penempatan jadi taruhannya.

Sayangnya, film ini melakukan cukup banyak kesalahan di sini. Alih-alih memberikan “potensi bersinar” kepada Harris maupun saudaranya yang lain, film ini justru lebih berminat untuk menyorot Donny–karakter tambahan yang di mata saya sama sekali tidak signifikan keberadaannya. Kehadiran Donny malah membuat frame terasa semakin penuh, sebab Anya sendiri sebenarnya sudah punya dua perempuan sahabat yang chemistry-nya cukup bagus–amati adegan powerful waktu Anya tiba-tiba menangis di hadapan mereka.

Dan yang paling gegabah adalah tindakan film ini mengerdilkan Harris dan keponakan Ale.

Harris punya potensi kuat untuk menjadi sidekick yang bisa diandalkan dengan tindak-tanduk tengilnya–dan bisa memberi jaminan bagi universe film Critical Eleven ke depannya kalau ada. Begitu pun dengan keponakan Ale yang semestinya sangat bisa menyokong posisinya di mata Anya. Di bagian lain, porsi pas sanggup disodorkan untuk karakter ibu dan bapak dari Ale. Kehadiran mereka terbatas tetapi berbekas–meskipun di sini si bapak kurang intimidatif, kalau bisa tambah ditekankan, karaker ini bakal lebih memberikan kesan “ngena”.

Pada akhirnya, sebagai sebuah kemasan utuh Critical Eleven masih mampu tampil anggun.

Film ini memberikan keseimbangan lewat dua dominasi yang saling melingkupi: Anya mendominasi secara emosional, Ale mendominasi lewat kehadiran fisiknya. Meski demikian, saya tetap merasa bahwa semestinya eksekusinya bisa lebih bijak lagi–terkait dengan eksploitasi kesedihan terlalu berkepanjangan, penggunaan tone suara narasi yang di beberapa bagian tidak konsisten (terutama di awal) yang membuat terjadinya perubahan kesan persona karakternya, serta kesempatan “keluar” bagi karakter pendukung secara lebih “layak” yang cukup alpha diakomodir.

Critical Eleven memperoleh 7.5 dari 10 bintang.

Film Critical Eleven (2017) telah ditonton pada 10 Mei 2017, review resmi ditulis pada 17 MeI 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 439 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required