Review Film | “Spider-Man: Homecoming (2017)” Vibran dan Segar

Estimasi waktu baca: 4 menit

Spider-Man: Homecoming adalah vibrasi masa muda. So young and so dumb.

Dan ketika saya bilang “so dumb”, ini tidak mengarah ke pemaknaan negatif–nyatanya Peter adalah bocah jenius. Asosiasinya lebih ke berbagai perilaku naif (campuran hasrat idealis dan kepolosan) pun ceroboh dari si manusia laba-laba yang sukses mengundang gelak tawa ketika disaksikan.

Selama ini ketika menyaksikan sajian audio-visual bernarasi superhero, yang sering terepresentasikan barulah sosok yang “agak tua” dan “tua”.

Di Homecoming, akhirnya kita punya karakter bocah berusia 15 tahun yang bertitel pahlawan super dan mampu membawa spirit optimisme young-adult ke audiens umum.

Film Spider-Man kali ini bukanlah origins story (cerita awal mula). Melainkan, kisahnya berfokus pada sosok Peter Parker pasca mengenal Iron-Man dan sebelumnya telah ikut meramaikan Captain America: Civil War (2016). Dia masih sangat muda (15 tahun), belum terlalu memahami tentang dirinya sendiri, pun masih disibukkan dengan ragam kegiatan anak sekolahan. Proses pendewasaan pola pikirnya pelan-pelan terbentuk ketika dia mulai sering berhadapan dengan para perusuh kota serta gejolak emosional internalnya.

Insting Peter yang masih prematur dan tidak selalu benar membuatnya harus belajar lebih keras tentang makna tanggung jawab, menghargai orang lain, dan meyakini diri sendiri.

Perjalanan saya menantikan Spider-Man: Homecoming cukup dilematis. Di satu sisi, ada kegembiraan begitu besar sebab film ini menyandang dua prolog prestisius: Tom Holland yang merupakan salah satu aktor muda favorit saya; dan teaser penampilan yang solid, segar, pun menjanjikan dari sosok Spider-Man sewaktu di Captain America: Civil War. Optimisme itu tumbuh subur. Sayangnya, di sekian kali kesempatan saya harus mengalami momen facepalm dan was-was ketika rangkaian poster (yang begitu meh juga meragukan) dan trailernya dirilis. Syukurlah, realitas hasil akhirnya sukses merontokkan keraguan yang ada.

Capaian terbaik dari reboot Spider-Man terbaru ini adalah bagaimana film ini berhasil menampilkan pengisahan yang begitu lugu sekaligus dewasa lewat situasi kacau yang mesti dihadapi.

Kalau kita menggunakan kacamata lugu seutuhnya, hal yang muncul di dunia ini seringkali adalah dikotomi baik-buruk. Argumen itu pelan-pelan luntur ketika pola pikir kita sedikit demi sedikit berkembang, disokong oleh semakin banyaknya pengalaman, resapnya pengetahuan, dan pergaulan baru yang diperoleh. Di titik ini, “baik-buruk” itu terlalu utopis. Kita tidak bisa lagi menuduh seseorang sebagai murni jahat maupun murni baik, karena ada area “abu-abu” (what if) di setiap kepribadian.

Spider-Man: Homecoming merupakan definisi abu-abu itu sendiri.
Motif-motif yang melatarbelakangi tindakan para karakter yang terlibat merupakan hasil pemaknaan dari kehidupan yang telah mereka jalani.

Fakta inilah yang membuat saya menyukai Homecoming. Spider-Man di sini adalah sosok idealis yang pelan-pelan mulai paham bahwa apa yang dipahaminya belum tentu berujung pada keputusan yang bijaksana. Dia tidak dipuja-puja (glamorized), mau menerima, dan belajar dari kesalahan yang diperbuat, meskipun untuk sampai di tahap refleksi tersebut dia harus berhadapan dengan kecamuk di pikiran serta ketakutan terbesarnya.

Begitu pula dengan Vulture yang di sini dijanjikan sebagai sosok villain utama. Setelah durasi bergulir dan semakin ke ujung, kita sebagai penonton bahkan wajar untuk dibuat bingung, mempertanyakan: apa iya Vulture layak disebut sebagai penjahat? Simpati padanya sudah ditanamkan kepada penonton sejak filmnya mulai.

Tom Holland adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah diambil oleh Marvel.

Dia sebagai Peter Parker sungguh identik dengan kelakuannya di keseharian–referensi: wawancara dan postingan di media sosial Tom. Dia yang apa adanya, dia yang ceroboh, bahkan dia yang begitu bocah. Keidentikan ini semakin kental ketika Homecoming memutuskan untuk membuka film dengan sekuens serupa vlog–kalau ada waktu silakan kamu buktikan sendiri dengan cek-ricek jejak digital Tom. Spider-Man kali ini sungguh adorable, dia memang terlahir untuk menjadi Peter Parker/Spider-Man.

Selain Tom, Michael Keaton adalah kunci keberhasilan selanjutnya. Dia menampilkan Vulture yang mampu mengundang simpati penonton. Gesture dan ekspresinya selalu layak puji. Ini adalah salah satu villain terbaik Spider-Man di layar lebar. Momen epic ketika dia dan Peter Parker berada di rangkaian scene interaksional (terkait Liz) sungguh priceless. Momen cringey semacam itu bisa gagal terwujud kalau aktor-aktornya kurang mumpuni–sebab memang sulit untuk diformulasikan.

Pemeran pendukung lain juga menampilkan performa berikut porsi yang pas (tidak menutupi si protagonis, kudos untuk enam penulis naskahnya): Robert Downey Jr sebagai Tony Stark sama sekali tidak mendominasi, justru menyokong penokohan Spider-Man; Marisa Tomei sebagai Bibi May yang begitu muda tampil komikal; Zendaya sebagai Michelle di sini tampil gembel tapi juga mengundang rasa tak sabar buat installment Spider-Man berikutnya; dan Jacob Batalon sebagai Ned, si asisten Spider-Man, tampil polos, menyenangkan, dan simpatik.

Jon Watts sebagai sutradara berhasil menunaikan tugasnya dengan baik.

Homecoming menjadi efektif karena guyonannya natural (bahkan tidak bisa begitu saja disebut sebagai guyonan, sebab mayoritas berwujud verbal polos dan kelakuan ceroboh), bukan berwujud tumpukan skits–fenomena yang belakangan jadi penyakit film-film Marvel. Tentu saja hal ini juga menjadi penanda baik bagi Sony, bahwa mereka tidak salah strategi telah meminjamkan Spider-Man kepada MCU.

Pujian juga harus saya berikan kepada departemen teknis, terutama costume design dan visual effect. Sedangkan, departemen yang saya harapkan bakal berhasil menyajikan kemegahan justru tersungkur: scoring. Sebagai sebuah karya audio, scoring Michael Giacchino di Homecoming sungguh menarik. Namun, ketika dikawinkan dengan aspek visual, hasil akhirnya tidak bisa lebur (terasa tenggelam) dan malah gampang terlupakan.

Spider-Man: Homecoming adalah film superhero yang sudah lama dinanti-nanti.

Bukan karena ini adalah reboot salah satu karakter komik paling populer, tetapi karena lewat film inilah akhirnya para penonton young-adult punya sosok superhero yang sepantaran. Sosok yang juga mengalami dilema, interaksi, dan keseharian serupa mereka yang berada di rentang usia tak terpaut jauh. Film ini menghadiahi penonton dengan karakter Spidey yang lebih vibran dan segar–dibandingkan dengan yang sejauh ini kita tahu.

Tentu saja Homecoming menjadi live-action Spider-Man terbaik versi saya sejauh ini–melampaui Spider-Man 2; dan sebelum mengambil sikap ini saya sampai menonton ulang film rilisan 2004 tersebut.

Spider-Man: Homecoming memperoleh 9 dari 10 bintang.

Film Spider-Man: Homecoming (2017) telah ditonton pada 5 Juli 2017, review resmi ditulis pada 5 dan 7 Juli 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 123 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required