Review Film Indonesia | “Cek Toko Sebelah (2016)” Menjamu Kemapanan

Estimasi waktu baca: 3 menit

Sementera Ernest semakin layak digelari “pencipta” karakter sidekick yang handal–sejak dari Ngenest lewat Patrick (Morgan) dan sekarang Yohan (Dion)–fokus Cek Toko Sebelah justru terdistorsi oleh obsesi subplot keroyokannya.

Kali ini penonton diajak untuk mengikuti sepotong perjalanan Erwin dan kakaknya, Yohan. Mereka berdua adalah anak dari Koh Afuk, pemilik toko kelontong keturunan Cina. Karena si ayah semakin sering sakit-sakitan, toko ingin diwariskan ke salah satu anaknya. Erwin-lah yang ditunjuk, sedangkan dia sedang memiliki karier kantoran yang cemerlang. Yohan yang bekerja sebagai seorang fotografer tidak bisa berbuat banyak–padahal dia ingin mewarisi usaha keluarganya itu–dia semakin merasa kerdil di mata keluarga sejak sang ibu meninggal. Selanjutnya, keputusan dengan berbagai ekor dinamikanya harus berani diambil.

Banner cek toko sebelah 2016 ernest prakasa ngepopcom

Melalui pengisahan paralel, Ernest seakan bereksperimen di Cek Toko Sebelah (CTS).

Jelas ini pilihan yang riskan. Apalagi bayang-bayang terbesarnya adalah karya sebelumnya yang bisa dikatakan memiliki kualitas superior beralur seri teratur. Di awal saya optimis karena tahu orang-orang di balik mulusnya naskah Ngenest kembali di sini, terutama Jenny Jusuf sebagai konsultan naskah.

Pada satu bagian, CTS memang masih berhasil membawa napas segar nan menyenangkan, tetapi di bagian lain kegugupan sebab saking banyaknya variabel yang ingin dimasukkan ke dalam set cerita tidak bisa ditutup-tutupi.

Inilah yang disebut keroyokan. Kalau terma subplot nampak terlalu besar, sekarang sebut saja elemen-elemen yang mengelilingi perjalanan Erwin dan Yohan sebagai cameo, cameo cerita. CTS memiliki banyak sekali cameo yang ditebarkan dari awal hingga akhir. Dengan pengolahan yang matang, cameo ini tidak akan berdampak signifikan–ya hanya menjadi pencuri adegan secukupnya.

Sayangnya, di CTS para cameo ini memiliki daya tarik skala sedang sampai besar yang justru memecah urgensi drama utamanya.

Dampak lainnya, para cameo yang tampil kuat ini membuat CTS menyiratkan kesan bahwa film ini masih berhutang banyak pada penonton. Berhutang untuk memberikan penjelasan lebih tentang mereka–semacam spin-off–sebab penjabaran mereka di sini sudah di level serba nanggung–terlanjur dapat porsi lebih banyak yang padahal di awal cuma ditujukan sebagai penggembira.

Terlepas dari itu, CTS tetaplah karya seorang Ernest. Meski tidak tampil semenggigit Ngenest secara substansi sosial, film ini masih sangat efektif menjadi lumbung kotak tertawa. Tertawa yang tidak hanya terkikik maupun ditahan-tahan karena nanggung, melainkan sudah di level “nggak paham lagi”. Guyon yang disajikan mulai dari level keluarga, kantor, hingga celetukan-celetukan yang umum terdengar di tengah-tengah masyarakat–kepekaan terhadap aspek inilah yang masih membuat fragmen naskah CTS juara.

Pun berapa kali penonton di-troll oleh karakter-karakter yang ditampilkan. Ada satu momen ketika saya sempat terpikir, “Wah, akhirnya bisa lihat Astri Welas tampil tidak ugal-ugalan,” eh sekian detik kemudian belangnya langsung muncul tanpa babibu. Belum lagi tambahan senandung ikonik yang dia repetisi. Ada lagi romansa quirky antara dua orang pegawai beda toko. Interaksi keduanya membuat frasa “nggak paham lagi” menjadi semakin relevan. Masih banyak kepolosan nan komikal yang dijual di sepanjang durasi.

Namun, catatan saya juga ikut menyerempet aspek ini. Saya merasa CTS agak berlebihan mengekploitasi guyonan-guyonan trivial dan seksis generik.

Cukup disayangkan sebab tindakan ini kembali membuka jalur paralel baru yang seolah ingin dijangkau–dan bisa bikin plotnya kelabakan karena humornya yang hanya bersifat temporer.

Di departemen pemeranan, meski Ernest kambali menjadi pemeran utama, justru Dion Wiyoko-lah yang tampil lebih menonjol. Duet antara Dion dan Chew Kinwah adalah wujud chemistry yang dalam. Agak sedikit timpang dengan karakter Erwin yang justru gamang menentukan posisinya–padahal secara karakteristik keduanya sama-sama memiliki “jarak” dengan sang ayah. Sementara pemeran pendukung lain tampil prima di sini, terutama Adinia Wirasti sebagai Ayu untuk level emosional, dan para komika untuk level overdosis bumbu humor.

Meski nampak kewalahan, Cek Toko Sebelah tetap bisa tampil solid sebagai sebuah sajian paket lengkap kado akhir tahun–terkait dengan performa dan substansinya.

Gagasannya tentang keberagaman–lewat berbagai karakternya–berusaha untuk memperlihatkan sebuah proses pendewasaan masyarakat. Memperlihatkan bagaimana entitas masyarakat itu mengalami dinamika hidup yang kadangkala terlihat janggal, padahal itulah perubahan. Dan di skala yang lebih besar, CTS mencoba meredefinisi kemapanan, tidak hanya di ranah material tetapi juga emosional.

Cek Toko Sebelah memperoleh 8 dari 10 bintang.

Film Cek Toko Sebelah (2016) telah ditonton pada 28 Desember 2016, review resmi ditulis pada 29 Desember 2016.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 433 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required