#SpectacularTen 10 Film Indonesia Terbaik 2017 (Bagian 2)

Estimasi waktu baca: 3 menit

Dari perkara cinta remaja, lalu disekap di situasi horor nan mencekam, selanjutnya digiring ke sitiran historikal; daftar film-film terbaik produksi Indonesia di 2017 lebih beragam dari tahun sebelumnya.

Seperti Spectacular Ten tahun lalu, daftar terbaik ini turut dipecah ke dalam dua postingan. Bagian pertama tersedia di tersapacom, sedangkan bagian kedua dapat dibaca di Ngepopcom. Yang sedang kamu baca ini adalah bagian kedua. Kalau kamu belum membaca bagian pertama, bisa klik DI SINI.

Tanpa perlu berlama-lama, berikut adalah lima besar Spectacular Ten kategori Film Indonesia hasil kerja sama tersapa dan Ngepop.

#5 Turah (2016) [Rilis Reguler 2017]

Menjadi Indonesia artinya mengharuskan kita untuk peka bahwa kondisi masyarakat di sini tidak semuanya berada di level yang sama. Melalui Turah, tangan kita ditarik paksa untuk melihat perspektif masyarakat dari pengelihatan wong cilik yang benar-benar cuilik. Baik lewat sulitnya memenuhi kebutuhan harian, hingga ketika protagonis kita harus dibenturkan dengan konflik yang melibatkan kuasa. Film ini berhasil mengkado kejujuran meski begitu menyakitkan untuk disimak. (8.5/10)

#4 Istirahatlah Kata-Kata (2016) [Rilis Reguler 2017]

Di kondisi masyarakat bernegara, momok terbesar bagi penguasa adalah serangan bersenjatakan kata-kata. Apalagi kalau ujaran itu berhasil menjadi panji-panji bagi kumpulan orang yang merasa senasib-sepenanggungan. Lepas dari hingar bingar popularitas, film ini menunjukkan kepada kita bagaimana kesederhanaan berpikir seorang Wiji, yang sekolah tingkat atas saja harus drop-out sebab masalah finansial. Film ini benar-benar tidak aneh-aneh. Dialah yang juga seorang manusia biasa. (8.5/10)

#3 Posesif (2017)

Domestic abuse bukanlah topik baru di kajian sosial maupun gelanggang sinema global. Meski begitu, penyadaran atas “kesalahan” perlakuan kasar ini sukar dilakukan, utamanya di Indonesia. Entah selama ini masyarakat kita menjadikannya sebagai suatu kenormalan, ataukah memang hal tersebut masih terkungkung di ranah tabu. Film Posesif menyadarkan kita akan hal ini. Alih-alih membidik generasi tua yang kiranya bakal sia-sia kalau “dikasih tahu”, muda-mudilah yang akhirnya dibidik. Mumpung belum telat, mumpung belum kolot. Film remaja yang begitu penting bagi semua kalangan. (8.8/10)

#2 Pengabdi Setan (2017)

Tidak hanya berhasil membuat standar film horor buatan Indonesia naik kelas, bahkan akselerasi; remake Pengabdi Setan garapan Joko Anwar sukses menjadi sajian yang koheren dan dan tidak repetitif.

Dengan modal tersebut, secara percaya diri saya bilang bahwa Pengabdi Setan (2017) adalah film horor yang bagus. Tidak hanya bagus, bahkan di skala nasional, kemunculannya berhasil menggeser Keramat (2009) yang selama ini saya anggap sebagai terbaik. Sekalipun batasan nasional-nya dihapus, ini tetaplah salah satu film horor terbaik (global) yang pernah dibuat. Pengabdi Setan adalah perayaan kualitas. (8.8/10)

#1 Nyai (2016) [Rilis Reguler 2017]

Mengapresiasi Nyai tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah: teater sendiri, film sendiri. Kita mesti sadar bahwa di sini keduanya adalah satu paket pertunjukan dengan kiblat improvisasi sejarah bermodel one-shot take. Dengan modal kesepahaman tersebut, Nyai adalah masterpiece dari seorang Garin Nugroho; sutradara yang idealismenya tidak pernah berhenti bikin geleng-geleng kepala. Berbekal perjalanan panjangnya di dunia perfilman sejauh ini, Nyai seolah menjadi titik kulminasinya. Sebuah karya yang tidak akan “jadi” kalau tidak digawangi oleh kematangan (baca: kegilaan) sineasnya. (9.2/10)

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 106 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required