Sunday, October 17

Review Film | “Deadpool (2016)” Surga Guyon Receh

Tidak mudah memperkenalkan tokoh baru–apalagi dibuat sebagai sebuah karya standalone–menjadi langsung dicintai oleh publik.

Dalam kasus ini, Deadpool mematahkan banyak aspek pesimisme.

Kalimat pembuka di atas tentu saja mengesampingkan mereka yang telah membaca atau sampai sudah teradiksi dengan versi komiknya. Dalam banyak hal, perkenalan bisa jadi berjalan sangat mulus atau justru sebaliknya, awkward pun meh. Deadpool sanggup tampil fun dan brutal, meskipun miskin substansi.

Film pertama ini (karena saya yakin tidak akan flop, untung besar malahan) benar-benar menjadi sebuah ajang perkenalan seorang Deadpool. Dimulai dengan sebuah aksi rusuh di jalan raya, film ini kemudian segera masuk ke sela-sela masa lalu Deadpool. Mulai dari pekerjaan awal Wade (yang menjadi landasan mengapa dia condong ke antihero), hubungan dengan pacarnya (yang merupakan pemantik perseteruan), tempat tinggal pengasingannya (bersama seorang perempuan lansia yang buta), hingga proses Wade hingga berwujud Deadpool.

Bagi saya, tim marketing Deadpool patut dipuji habis-habisan. Mereka telah sukses mencitrakan Deadpool dengan sangat baik di dunia modern ini–baik lewat media sosial, trailer, billboard, maupun lewat poster resminya. Deadpool berhasil tampil meyakinkan karena kebetulan balutannya sesuai dengan kultur masyarakat sekarang. Dia digambarkan sebagai orang yang selengekan, urakan, pun romantis. Ceruk penonton mana yang belum diraihnya? Saya rasa semua orang berhasil dibius oleh asupan publikasi itu. Saya pikir tim publikasi Deadpool telah belajar banyak dari langkah serupa yang juga dilakukan oleh Ant-Man tahun lalu–meski beda PH pemilik lisensi, namun sama-sama Marvel. Tetapi, apakah kualitasnya sebanding?

Secara umum, Deadpool memang tidak berbohong. Dia menjadi karakter yang sekomikal promonya. Bahkan hal itu sudah nampak sejak durasi awal, ketika opening credit bergulir–salut buat tim visual effect. Penonton disuguhi aksi close-up, slow motion, lengkap dengan teks yang kocak. Sampai di bagian ini: impresif. Kemudian penonton dilempar ke scene taxi, lalu jalanan, menyaksikan pertemuan Deadpool dengan Ajax (Francis, villain utama di film ini), serta dua mutan akademi X-Men, Colossus dan Negasonic Teenage Warhead–mereka berdua benar-benar mencuri perhatian! Setiap karakter yang disodorkan berhasil dikenalkan dan dilekatkan di benak penonton dengan sangat baik.

Saya menyukai fase cepat yang dijalin untuk timeline linear-nya. Sesuka saya dengan timeline flashback-nya–yang meskipun terkesan sepotong-sepotong, namun porsinya pas. Durasi memang jadi tidak terasa sebab jajaran cast menunaikan tugas dengan sangat baik. Ryan Reynolds terbukti lebih cocok jadi Deadpool ketimbang Green Lantern. Sosok Ajax (Ad Skrein) sebagai villain tampil pas, ada alasan kuat mengapa karakter ini dikontrakan dengan Deadpool. Saya lega melihat langkah ini, sebab di film Marvel milik Fox sebelumnya, Fantastic Four, tim PH mereka terlihat kesulitan mendefinisikan terma villain–terlepas dari saga X-Men yang sudah mapan. Selain itu, sosok pacar Wade, induk semang yang buta, serta bartender teman lama Wade, memperoleh keleluasaan ruang durasi yang positif.

Namun, bukan berarti Deadpool tampil luar biasa.

Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa film ini murni fans service–penyenang penonton. Pengambilan keputusan ini ada sisi positif dan negatifnya. Secara positif, film ini berkali-kali sukses mengundang tawa karena tingkah laku dan dialognya yang sembrono.  Namun sisi minusnya, secara naskah, Deadpool ini layaknya stand-up komedi, meski naskahnya yang penuh guyon disusun dengan sungguh-sungguh, tapi pada akhirnya memang berakhir dangkal. Naskah Deadpool menangkap banyak bahan sindiran modern dan diaplikasikan dengan tepat. Bagi saya pribadi, “Terus apa? Saya sudah pernah dengar atau baca guyonan semacam itu juga. Cuman ini Deadpool berhasil merangkumnya di dalam plot. Sayangnya tidak ada kebaruan atau suatu kedalaman.”

Bahkan, karena kedangkalan naskah ini, secara kualitas penceritaan Deadpool tertinggal jauh dibanding saga X-Men–yang menjadi cinematic universe-nya. Entah sengaja atau tidak (mengingat track record penulis naskahnya, Rhett Reese dan Paul Wernick, cukup banyak menulis naskah komedi), tetapi sayang kalau pada kelanjutannya Deadpool hanya berada di jalur aman–orang X-Men saja berani keluar, kok. Bukan berarti guyonan receh tidak bisa berkelas, dengan treatment yang tepat, naskah semacam itu bisa menjadi sangat cerdas–tengok Birdman.

Pada akhirnya, ketika dimaksudkan sebagai sebuah film standalone pembuka, Deadpool adalah nampan berisi banyak permen Sugus: fancy, menyenangkan untuk dikonsumsi. Bungkusnya pun menarik–departemen make-up, visual effect, production design, dan costume design melaksanakan tugas dengan baik. Tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja, Deadpool ke depan sangat butuh perbaikan terutama di sisi naskah supaya tidak jatuh monoton. Dengan kehadiran Deadpool dan Tim Miller sebagai sutradara, masa depan Marvel di Fox terlihat sangat cerah, kok.

tersapa memberikan 8 dari 10 bintang.

(Film Deadpool (2016) telah ditonton pada 11 Februari 2016, review resmi tersapa ditulis pada 14 Februari 2016)


Review ini sebelumnya termuat di tersapacom dan telah dibaca lebih dari 900 kali.

(Visited 135 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *