Review Film | “Fences (2016)” Teater di Layar Lebar

Estimasi waktu baca: 2 menit

Keajaiban Fences terletak di dua aspek utama: naskah dan pemeranan.

Denzel Washington dan Viola Davis adalah keajaiban sebab mereka bisa mengeksekusi dialog/monolog yang panjangnya begitu tidak manusiawi secara sangat lancar dan lebur. Inilah panggung teater ketika ditranslasikan ke layar lebar.

Film ini berkisah tentang pasangan suami-istri Maxson berseting di rutinitas keluarga kulit hitam di lingkungan kulit hitam yang tidak pernah luput dari salah dan nestapa selama 18 tahun pernikahan. Ya, sinopsis Fences versi saya cukup sesingkat ini.

Fences begitu apa adanya.

Bahkan ketika film ini baru mulai, ketika kita disambut oleh suara mesin kendaraan yang ternyata adalah truk pengangkut sampah dan di situ ada karakter Troy yang dibawakan oleh Denzel, kesan apa adanya sudah saya rasakan begitu kuat.

Menyaksikan film ini membuat saya senyum (bahagia hingga getir) sendiri.

Terlalu banyak kemiripan dengan realitas di dunia nyata. Penonton, siap atau pun tidak, langsung diajak untuk terjebak dalam lingkaran obrolan ngalor-ngidul (membicarakan apa saja). Momen ini begitu priceless ketika kita mulai paham dan sadar bahwa apa pun latar belakang ras, bangsa, dan semacamnya, konfrontasi verbal tidak kenal batasan.

Dan lebih dalam lagi, ucapan super panjang dalam naskah Fences adalah tentang begitu dinamisnya kehidupan ini.

Sesekali kita dilibatkan untuk mendengar tentang keluhan kehidupan, lalu beranjak ke nostalgia, serta pengalaman yang berada jauh di masa silam. Siapa pun manusianya, ketika membicarakan tentang berbagai rangkaian kehidupan pasti akan begitu lancar mengungkapkannya.

Lewat karakter Rose yang dimainkan dengan begitu apik oleh Viola Davis, penonton dipertemukan dengan sosok wanita dan ibu dan istri yang tegarnya luar biasa.

Kita disadarkan betapa sosok ini (dan manifestasinya di kehidupan nyata) mampu mengurusi begitu banyak perkara rumah tangga di tengah segala keterbatasan finansial serta psikis yang mendera. Dia membaktikan dirinya secara utuh, tidak parsial. Ketika dia masih saja mau peduli dengan orang lain yang telah menyakitinya dengan cuma bebekal nurani, “Aku tidak ingin melihat dirimu kacau balau (messed-up).” Bertolak belakang dengan sosok Troy (Denzel Washington) yang ketika di ranah privat justru menghindari interaksi, dia telah dikecewakan oleh aspirasi masa lalunya yang pupus.

Naskahnya yang sungguh padat berhasil didukung oleh sinematografi, penataan artistik, dan penyutradaraan yang begitu teater.

Menyaksikan Fences bisa dengan mudah membuat penonton berandai-andai “memindahkan” setiap scene ke atas panggung. Termasuk lewat elemen blocking, transisi, serta propertinya. Denzel Washington sungguh superior karena mampu menangani beban beratnya sebagai seorang sutradara dan sekaligus pemain utama.

Fences sangat bising dengan naskahnya yang wordy (cerewet). Durasinya pun panjang. Dan masih ditambah dengan aksen orang kulit hitam yang begitu intens. Lengkap sudah perjuangan penonton untuk meneguk intisari dari film ini.

Menikmati sajian “seunik” Fences tidaklah mudah, terutama untuk penonton yang tidak terbiasa dengan formulasi panggung.

Saya kira akan sangat banyak introvert yang bakal tersiksa ketika harus mengikuti film ini sejak awal hingga nyaris akhir. Sebab, akhirnya keheninganlah yang membuat film ini mencapai tujuannya.

Fences memperoleh 9 dari 10 bintang.

Film Fences (2016) telah ditonton pada 28 Desember 2016, review resmi ditulis pada 22 Februari 2017.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 318 times, 1 visits today)

Artikel lainnya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required