Wednesday, October 27

Review Film | “Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)” Beban Prekuel Terlalu Berat

Sekuel Guardians of the Galaxy memikul ekspektasi penonton yang tidak bisa dibilang ringan.

Apalagi installment pertamanya memang banyak disebut sebagai salah satu film terbaik MCU. Tidak hanya karena kisahnya yang segar, Vol. 1 menjadi pembuktian bahwa Marvel memang ulung dalam hal menerjemahkan kisah dengan protagonis model keroyokan ke layar lebar. Pada Vol. 2, meski tetap menjadi sajian yang menghibur, tetapi penyajiannya tergolong kewalahan.

Kali ini penonton diajak untuk mengikuti perjalanan Star-Lord dan geng Guardians of the Galaxy setelah menyandang gelar baru sebagai pahlawan. Mereka banyak menerima pekerjaan lepas untuk membasmi potensi kekacauan lintas galaksi. Reputasi mereka mendadak di ujung tanduk setelah Rocket (yang tidak mau disebut sebagai rakun) ketahuan mencuri beberapa baterai bertenaga super milik salah satu klien mereka. Terjadilah aksi kejar-kejaran yang selanjutnya turut melibatkan sosok ayah Star-Lord.

Pernah dengar istilah: film yang plotnya menuruti template—tinggal ganti konflik dan modifikasi keterlibatan karakter? Guardians of the Galaxy Vol.2 (selanjutnya di review ini akan saya sebut sebagai Vol. 2) adalah salah satunya.

Menyaksikan film ini serasa kita dilempar ke pengalaman menonton 2014 silam.

Durasi dibuka dengan flashback masa lalu di bumi (kini 1980), dilanjutkan dengan musik dan aksi komikal yang mengikuti credit pembuka, berikutnya diteruskan oleh kekacauan yang diakibatkan oleh kecerobohan, hingga penanganan krisis utama yang melibatkan kekuatan mahadahsyat.

Apakah penggunaan template berimplikasi buruk? Saya sendiri menganut faham bahwa bermain dengan template bukanlah suatu kemunduran.

Namun, tindakan ini mesti dibarengi dengan materi yang mumpuni. Tidak bisa kita menggunakan template tanpa adanya kebaruan yang ditawarkan. Kalau hal ini terjadi, di momen-momen awal, audiens mungkin masih bisa menikmati, tetapi tidak ada jaminan bahwa impresi itu tidak akan luntur ketika sebuah sajian kemudian menjadi repetitif.

Vol. 2 ini semacam menjadi ajang pamer dari MCU bahwa mereka memiliki peninggalan-peninggalan yang ikonik.

Kesannya, mumpung kekhasan ini tampak memliki pangsa pasar, eksploitasi habis-habisan saja sekalian. Di film ini, entitas yang dikeruk secara berlebihan adalah Groot, musik mixtape lama peninggalan mendiang ibu Peter, serta dialog receh (dan pointless).

Tidak bisa disangkal kalau salah satu keistimewaan Vol. 1 adalah kejelian MCU dalam memperkenalkan Groot.

Baik vokal Groot yang cuma bisa melafalkan “I’m Groot” (dengan berbagai pemaknaan), hingga sosok Baby Groot yang berhasil mengundang desah “awww” gemas dari audiens. Dengan porsi yang tepat, kemunculan Groot di Vol. 2 adalah scene stealer, sayangnya di sini kehadiran Groot sebegitu masifnya. Alih-alih menjadi karakter yang terkesan punya daya juang (dengan segala keluguan dan keterbatasannya), di sini Groot tidak lebih dari sekadar objek jualan.

Kondisi serupa dialami oleh mixtape-nya. Vol. 2 terlalu banyak menyisipkan lagu-lagu dengan penempatan yang tidak serapi Vol. 1.

Ketika di prekuelnya dulu lagu-lagu yang disisipkan terasa menjadi bagian integral dari filmnya (kontekstual), di sini malah sebaliknya. Tracks yang ada terkesan hanya sebagai filler yang (mayoritas) dipaksakan. Bahkan, karena terlena capaian di film sebelumnya di mana penyematan lagu yang ada dianggap sebagai tindakan jenius, di film ini naskahnya nekat merogoh lebih jauh dengan memasukkan dialog tipe kontemplasi nan filosofis tentang lagunya—yang justru terkesan diada-adakan pun terdengar janggal.

Terkait dengan dialog lelucon yang dilemparkan, Vol. 2 seperti latah dengan kesuksesan dialog receh lagi dangkal pun pointless yang akhir-akhir ini semakin ngetren di film-film Marvel.

Influencer utamanya jelas Deadpool (masih sama-sama Marvel meski bukan MCU). Akan tetapi perlu diiingat bahwa kemunculan Deadpool silam tergolong inovatif—kerecehan yang digelontorkan tidak tanggung-tanggung sekaligus dia berani bermain di level breaking the fourth wall.

Popularitas dialog remeh-temeh semacam ini lalu dilirik oleh Doctor Strange dan Guardians of the Galaxy Vol. 2. Beruntung Doctor Strange tidak berusaha terlalu keras untuk membuat lelucon ini bertebaran di mana-mana. Keputusannya menahan diri ini membuat punchlines-nya mayoritas cukup berhasil. Sedangkan, Vol. 2 berulah sebaliknya. Sekuel Guardians of the Galaxy ini berusaha luar biasa untuk memasukkan banyak dialog receh dan tidak penting yang selanjutnya malah memperlebar bias fokus plotnya. Di banyak adegan semacam ini, saya bahkan sampai berguman pelan, “Apaan sih, omongannya nggak penting banget.”

Dominasi “pengalih perhatian” ini membuat Vol. 2 sangat kentara kebingungannya, terutama tentang “sebenarnya mau memusatkan perhatian ke siapa”.

Ketika di Vol. 1 formula naskah progresifnya berjalan dengan percaya diri dan jelas—dengan pusat informasi ada di Star-Lord dan karakter pendukung lain memperoleh porsi yang layak—di Vol. 2 ini terjadi tumpang tindih tentang siapa pusat informasinya. James Gunn sebagai penulis naskah (dan sutradara) terlalu asyik memberikan info tambahan di banyak karakter (dengan tipe monolog curhat dan bikin tsunami informasi) sehingga menyebabkan karakter lain jadi kurang signifikan kehadirannya. Saya kasihan menyaksikan Ayesha, Taserface, Mantis, Nebula, bahkan Ego si ayah Peter; mereka lebih mirip pajangan alih-alih sebagai lawan main yang punya kedalaman emosional.

Terlepas dari berbagai aspek yang merisaukan saya pasca menandaskan Guardians of the Galaxy Vol. 2, film ini tetaplah menjadi sajian yang menyenangkan.

Setidaknya, di sini kita bisa mengetahui lebih jauh tentang orang tua Star-Lord (termasuk Star-Lord itu sebenarnya keturunan “apa”), kita masih memperoleh kado visual yang memanjakan mata, kehadiran Yondu yang esensial, serta bonus lima post-credit scenes. Oh, dan lagi di Vol. 2 ini akhirnya terdapat benang merah tipis yang nantinya akan memudahkan Guardians of the Galaxy dalam melakukan singgungan realitas dengan MCU lainnya—sebab di Vol 1 hanya ada Thanos, itu pun hanya berupa fragmen terpisah belum berupa benang merah shared-universe.

Vol. 2 menjadi pelajaran berharga bagi Marvel supaya kelak lebih berhati-hati dalam menangani film keroyokannya yang lain.

Guardians of the Galaxy Vol. 2 memperoleh 8 dari 10 bintang.

Film Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017) telah ditonton pada 26 April 2017, review resmi ditulis di hari yang sama.

 

(Visited 353 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *