Review Film Indonesia | “Kartini (2017)” Menggambarkan R. A. Kartini dengan Sudut Pandang yang Masuk Akal

Estimasi waktu baca: 3 menit

Mungkin penggambaran paling masuk akal tentang kepribadian dan perjuangan R. A. Kartini itu ada di dalam film Kartini yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Film ini dimulai dari Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang dipaksa patuh pada batas antara bangsawan dan rakyat kecil. Aturan yang membuatnya berpisah dan memanggil ibunya dengan sebutan Nyi Ngasirah (Nova Eliza dan Christine Hakim). Kemudian lanjut dipingit untuk menjadi Raden Ayu, sebuah aturan yang mengharuskannya terus menerus berada di dalam rumah. Kurang apalagi? Tekanan batin yang dialami Kartini sudah cukup untuk membuatnya bertindak, kan?

Kartini mencari kebebasan dengan membaca buku-buku.

Dia lebih memilih membaca buku daripada belajar dandan seperti kakaknya, Soelastri (Adinia Wirasti). Dia pun mengajari Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa) untuk menjadi Raden Ayu yang berbeda. Kemudian mulai menulis artikel berisi pandangan kritis terhadap adat. Membuka iklan untuk mencari sahabat pena di Belanda. Plus ngide membuka pintu rumah untuk mengajar perempuan, anak-anak, dan orang miskin.

Di masa itu, perilaku Kartini tentu saja mendapatkan perlawanan dari lingkungannya.

Bahkan menjadi bahan gunjingan bupati (iya, bupati bergunjing). Soalnya Kartini melawan aturan dan batas di masa itu. Kata orang-orang di masa itu, “Kartini egois.” Tapi kalau kata penonton jaman sekarang, “Kartini hebat dan berani.”

Untuk melakukan semua itu di eranya, rasanya kurang masuk akal kalau penggambaran Kartini adalah seorang perempuan yang tetap sopan, santun, dan kalem di dalam pingitan. Setidaknya, dalam perilaku kesehariannya, Ia pasti akan sedikit badung. Bukan badung seperti mengonsumsi narkoba (itu kriminal, sih).

Bentuk badungnya Kartini itu sederhana, kok. Tipe-tipe badung yang membuat penonton kaget dan komentar, “Loh kok Kartini kayak gitu”. Seperti ketika Ia menunjukkan kesedihan dan kekesalannya saat jendela kamarnya ditutup paksa. Atau ketika Ia ketiduran saat diajari tips-tips perawatan diri. Atau sesederhana saat Ia bilang, “Emoh” ke kakaknya, R. M. Panji Sosrokartono (Reza Rahadian). Ngagetin, ya? Meskipun begitu, sejujurnya, saya menyukai sudut pandang yang digunakan Hanung untuk menggambarkan Kartini di dalam film ini.

Sebagai penonton, saya juga sempat kaget, atas treatment ini. Namun, daripada memprotes Hanung, saya memilih untuk berpikir dan mengevaluasi diri sendiri. Jangan-jangan selama ini saya ‘tidak memanusiakan’ sosok R. A. Kartini.

Di dalam pikiran, saya memaksa R. A. Kartini sebagai seseorang yang lembut, sopan, kalem, dan mematuhi aturan. Saya terlalu memujanya sebagai tokoh emansipasi wanita dan memerjuangkan persamaan hak bagi seluruh orang, tapi melupakan logika tentang ‘menjadi orang yang melawan aturan’.

Mendobrak batas, mencari kebebasan untuk belajar, dan haus ilmu pengetahuan tentu saja menjadikan R.A. Kartini sebagai pribadi yang selalu berpikir kembali (bukan hanya menerima apa pun yang terjadi pada dirinya) dan kritis.

Hanung (dan siapa pun yang terlibat dalam film Kartini) berhasil mengadopsi logika ini dan menggambarkannya dengan baik. Saya suka.

Meskipun, saya sendiri kembali agak kaget pada adegan Kartini hadir yang hidup di dalam imajinasi ketika Ia membaca buku dan menulis surat. Menurut saya, masih ada cara lain yang lebih baik untuk menggambarkan kebebasan yang didapatkan Kartini. Plus, ada font yang lebih baik untuk memberikan keterangan-keterangan tambahan di filmnya.

P.S. : Saya terharu (dan luluh) pada Raden Adipati Joyodiningrat saat Ia datang ke rumah dan menjawab semua syarat menikahi Kartini. “Saya ikhlas mengawal cita-citamu” adalah kata-kata terbaik untuk melamar perempuan cerdas dan bercita-cita tinggi.

Kartini memperoleh 8.5 dari 10 bintang

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 571 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required