Catatan Serial | “13 Reasons Why Season 1” Menyadarkan dan Menunjukkan Kesalahan secara Frontal

Estimasi waktu baca: 10 menit

Tulisan ini dibuat tepat satu bulan semenjak 13 Reasons Why untuk pertama kalinya dirilis oleh Netflix. Ada dua alasan mengapa saya mengambil jeda cukup lama hingga akhirnya menghasilkan catatan ini. Alasan pertama: memberikan ruang dan waktu yang cukup buat orang lain yang belum menontonnya–terutama karena ada dua tipe pengonsumsi yaitu yang binge-watching dan yang sekali waktu satu-dua episode (tidak sekaligus). Alasan kedua: bahasan sepenting gagasan 13 Reasons Why butuh situasi yang kondusif untuk membicarakannya, saya sengaja menunggu hingga hype-nya sedikit reda.

Dampak dari alasan kedua itu lumayan menarik. Saya bisa lebih dulu mengetahui resepsi singkat orang-orang pasca menamatkan musim pertama 13 Reasons Why dari timeline media sosial, saya bisa melihat perdebatan yang sudah saya prediksi bakal terjadi, hingga saya bisa mengetahui bagaimana respons masyarakat via mainstream media dan langkah-langkah “perlakuan” atas serial ini yang diambil. Berbagai dampak tersebut ikut saya singgung di sini.

Memulai catatan ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari premis yang ditawarkan. Serial terbaru Netflix adaptasi novel karya Jay Asher ini bermula ketika Clay memperoleh seboks kaset pita (berjumlah tujuh) yang ternyata berasal dari Hannah, seorang siswi SMA yang beberapa waktu sebelumnya memutuskan untuk bunuh diri. Kaset tersebut bukanlah mixtape, melainkan dua belas monolog dan satu rekaman monolog-dialog-situasional yang tiap side-nya (A/B) ditujukan spesifik pada satu orang. Tiap episode adalah napak tilas yang dilakukan oleh Clay dengan dikawal oleh playback rekaman suara Hannah. Di tiap episode pulalah Clay (dan penonton) mengetahui dosa-dosa apa yang telah diperbuat oleh tiap karakter yang pernah bersinggungan dengan Hannah hingga membuat Hannah nekat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Serial ini berkutat pada isu bullying, rape culture, slut shaming, depresi, serta adiksi. Bahasan yang sangat berat tersebut dikemas dengan ritme “pelan-pelan menghanyutkan”.

Penonton diajak untuk pelan-pelan merunut kejadian demi kejadian, tokoh demi tokoh; hingga akhirnya menjadi wajar ketika penonton merasa sangat punya kedekatan dengan karakter-karakternya. Kedekatan ini beraneka rupa, ada yang membuat kita menjadi sangat bersimpati dengan mereka, ada yang membuat kita sangat membencinya. Ada yang kita ikuti mentah-mentah sesuai perspektif ucapan dari kaset Hannah, ada yang kita pahami lebih lanjut lewat visualisasi pendukung kehidupan keseharian riil tiap “sasaran” kaset.

Mana yang paling benar? Tidak ada jawaban mutlak atas pertanyaan ini. Semuanya tergantung pada kepekaan penonton dalam hal mengamati dan memilah informasi yang disajikan. Kondisi inilah yang membuat 13 Reasons Why lumayan tricky.

Memahami Karakter, Tidak Sekadar Menontonnya: Hannah

Salah satu kalimat utama yang acap kali muncul ketika orang mengomentari serial ini: Hannah ini terlalu baperan. Sebenci-bencinya saya dengan terma baper, toh saya masih kesulitan mencari padanan kata yang sehina itu. Kalau komentar tersebut dilontarkan langsung oleh mereka (tatap muka) dan kebetulan saya ikut terlibat percakapan di dalamnya, saya akan langsung membantahnya. Sampai hari ini, saya masih memegang verdict bahwa penonton yang mengeluarkan komentar sementah itu berarti tidak benar-benar menonton 13 Reasons Why. Mengapa saya bersikukuh dengan sikap ini?

Hannah adalah karakter yang sangat kompleks, layer yang membungkusnya terlalu banyak. Riskan rasanya kalau kita langsung membuat generalisasi tanpa melihat konteks. Dan perlu diingat, Hannah digambarkan bukanlah sebagai sosok gadis yang lemah, dia mandiri. Dia adaptif, dia inisiatif bekerja paruh waktu di bioskop (yang mempertemukannya dengan Clay) agar tidak memberatkan orang tuanya, dia pun berani mengambil sikap. Agak sulit membayangkan (di kondisi ideal) bahwa orang sepertinya akan memutuskan untuk nekat mengakhiri hidupnya.

Sayangnya, di balik tampilannya yang tampak kuat tersebut, dia masuk kategori orang yang memilih untuk menyimpan mayoritas masalah yang dihadapi seorang diri dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi. Fakta ini harus kita akui keberadaannya, sebab saya sendiri pun merasa termasuk yang seperti itu. Untuk orang yang seperti ini, cara untuk menangani beban diri adalah dengan mencari medium penyalur emosi yang sifatnya tidak langsung. Ada yang menyalurkannya ke gambar, ada yang menyalurkannya ke tulisan, ada pula yang menyalurkannya ke rekaman–dan bentuk verbal lainnya.

Terkadang, medium tersebut saja tidak cukup, sebenarnya mereka masih membutuhkan kehadiran orang lain yang mau mendengarkan sekaligus bisa dipercaya. Hanya saja, bukan perkara mudah untuk membuat orang tipe ini tiba-tiba nyerocos begitu saja. Hannah menumpuk berbagai kegelisahannya seorang diri, ketika dia bermaksud mengungkapkannya, yang terjadi adalah absennya orang-orang yang diharapkannya bisa menjadi penenang batin.

Tumpukan kerisauan yang awalnya tidak sebegitu banyak tiba-tiba menggunung dan sudah tampak mustahil diurai. Di penghujung harapan, gunungan itu longsor besar ketika Hannah sadar bahwa bukannya berkurang, dia justru memperoleh masalah-masalah baru yang tidak bisa dia tanggung lagi sementara orang lain yang dia kira bisa membantu malah tidak mau/tidak bisa memahami situasinya. Nasi sudah menjadi bubur.

Memahami Karakter, Tidak Sekadar Menontonnya: Clay dan Justin

Kalau ada dua orang yang tidak semestinya terlibat dalam pusaran kejadian buruk rupa ini, itu adalah Clay dan Justin. Di mata saya keduanya begitu innocent. Mereka kebetulan berada di situasi dan kondisi yang serba salah. Namun, penggambaran mereka berdua memang cukup bertolak belakang, dan inilah yang membuat transisi emosional mereka menjadi menarik.

Clay adalah sosok siswa straight-A. Dia tidak neko-neko. Dia tidak pernah bermaksud untuk merepotkan orang lain. Dia tidak pernah melakukan konfrontasi. Dia begitu disayang kedua orang tuanya. Dia membantu temannya yang kesulitan belajar tanpa pamrih. Dia begitu polos dan lovely sebagai seorang teman. Bahkan, hingga di episode terakhir pun saya masih tidak ikhlas kalau Clay ikut ditimpakan beban mental seberat ini.

Berbagai spekulasi tentang apa yang mungkin dilakukan oleh Clay ini sudah muncul sejak episode awal bergulir. Tentu, karena bersama dengan Hannah, Clay adalah protagonisnya. Maka tidak heran kalau kemudian salah satu episode paling ditunggu adalah ketika kasetnya sampai di bagian Clay. Tape ini baru hadir di episode sebelas. Di sini saya mengasumsikan kamu sudah menyelesaikan 13 Reasons Why sehingga saya akan menuliskan sedikit rangkuman esensial tentang keterlibatan Clay.

Di persepsi Hannah, Clay sebenarnya tidak layak berada di list ini, tetapi kalau mau menceritakan rangkaian kejadian secara utuh, dia harus dilibatkan. Clay adalah seorang yang canggung dengan ekspresi romansa. Dia tumpul ketika berhadapan dengan perkara cinta. Hannah melihat Clay sebagai sosok yang baik, teramat baik. Di suatu kesempatan, dia mengharapkan Clay bisa menjadi seseorang yang istimewa yang sekaligus bisa menyokong beban emosionalnya. Sayangnya, Clay bukanlah pejuang cinta yang agresif.

Ketika sekali waktu Hannah memotong momen saat mereka sedang berada di situasi intim, Clay tidak tahu harus bersikap bagaimana, dia kira dirinyalah yang berbuat salah. Clay langsung memutuskan untuk pergi–dengan maksud supaya memberi ruang pada Hannah. Langkah ini ternyata keliru di mata Hannah. Hannah sangat berharap supaya Clay waktu itu tidak se-clueless itu, dia menginginkan Clay bisa tiba-tiba mengungkapkan perasaannya. Kalau skenario itu terjadi, sangat mungkin Hannah masih hidup karena akhirnya dia bisa benar-benar punya orang yang mau hadir tanpa syarat.

Itulah satu-satunya “kesalahan”–walau Hannah tidak menyebutnya sebagai kesalahan–Clay yang akhirnya membuat namanya ikut masuk dalam daftar. Posisi Clay sebagai katalisator di sini tambah gamang karena kepribadiannya mirip dengan Hannah. Dia adalah orang yang suka memendam masalahnya sendiri karena tidak mau membuat orang lain cemas. Celakanya, Clay tidak bisa sefasih Hannah dalam hal menyembunyikan masalah. Ketika kondisinya semakin kacau–seiring kaset demi kaset yang telah didengarkan–orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya, dengan mudah mencium bau ketidakwajaran. Mereka cemas tapi juga tidak tahu menahu tentang sumber problemanya. Bagaimana perasaanmu menyaksikan sosok se-innocent Clay berada di situasi yang membuatnya jadi kebanjiran beban pikiran?

Simpati untuk Clay berbeda dengan simpati buat Justin. Penonton berkenalan dengan Justin melalui impresi awal yang kurang baik: douchebag, semena-mena, dan tidak bertanggungjawab. Persepsi terhadap karakternya baru berubah–secara ekstrem tapi begitu tulus–menjelang berakhirnya musim perdana. Justin nyatanya adalah orang yang baik bahkan loyal tetapi berada di inner-circle yang kurang tepat.

Ketidakadilan semesta ini disponsori oleh kondisi keluarganya yang destruktif dan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Kondisi yang membuat Justin seolah selalu merasa “berhutang budi” pada teman-teman setim basketnya yang selama ini begitu baik karena mau “menampungnya” bahkan membantu mem-backup berbagai kesulitan finansial.

Rantai setan ini membuat Justin tidak bisa berbuat banyak. Inner circle-nya turut sumbangsih dalam menciptakan persona Justin yang dilihat oleh orang di luar timnya. Hasilnya adalah justifikasi bahwa Justin memang seorang yang layak dijauhi, padahal kenyataan yang sebenarnya berkata lain. Coba amati ketika dia tengah berada di situasi keluarganya, dia seperti anak yang keberadaannya tidak dianggap. Si ibu sebenarnya masih menaruh perhatian dan perlindungan padanya, tetapi pacar dari ibunya memegang kontrol utama di situ. Dia sering menerima perlakuan kasar dari pacar ibunya.

Sosok sebenarnya dari seorang Justin sangat kentara ketika dia sedang berada di momen sendirian maupun bersama dengan orang terdekatnya–terutama sang pacar. Yang dia butuhkan semata-mata adalah kasih sayang dari orang lain serta tempat berlindung di mana dia bisa kembali merasa sebagai manusia yang berharga (shelter). Sungguh permintaan tak terucap yang begitu sederhana–tetapi sulit terpenuhi–dan hanya bisa kita pahami seutuhnya ketika sudah menyadari variabel-variabel lain yang terlibat di situ. Sama seperti Clay, maka di mata saya Justin adalah sosok yang begitu innocent.

Memotret Realitas Kekinian dengan Presisi

Sebelum membicarakan sub-bagian ini lebih jauh, hal mendasar yang mesti dipegang ketika menyaksikan 13 Reasons Why adalah gunakan konteks Amerika. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, keseharian yang ditampilkan adalah kondisi pergaulan para young-adult Amerika saat ini. Namun, meski konteks tempatnya spesifik, bukan berarti relasinya cuma berlaku di sana.

Isu penting tentang bullying, rape culture, adiksi, dan manifestasinya ini bersifat borderless, ini adalah isu global.

Karena ini adalah isu global, maka saya kira kita tidak membutuhkan pendapat yang mendiskreditkan keabsahannya. Hal pertama yang harus dilakukan dalam menghadapi “pengingat” semacam 13 Reasons Why adalah berhenti merasa menjadi yang paling benar.

Jelas ada orang yang akan berkomentar bahwa kondisi yang ditampilkan di sini berlebihan, tetapi ingat bahwa ada banyak orang lain yang menganggap bahwa apa yang diangkat di sini begitu riil dan menyakitkan. Perhatikan pula gap eranya, di mata kelompok A–yang anggap saja sudah jauh lebih tua dari rentang usia para karakter di sini–mungkin 13 Reasons Why tampak eksploitatif. Namun, coba kembalikan lagi apakah kelompok ini benar-benar bisa menyesap saripati 13 Reasons Why sesuai konteks young adult sekarang–atau jangan-jangan mereka masih menggunakan kacamata young-adult era mereka. Paham konteks sangat berarti.

Contoh paling mudah tentang konteks adalah berkaitan dengan tampilan fisik para tokoh siswa SMA di sini. Buat yang masih menggunakan kacamata eranya, pasti merasa bahwa ada ketidaksesuaian realitas sebab para siswanya banyak yang bertato dan apalagi ditunjukkan secara terang-terangan di sebuah institusi pendidikan. Realitas ini tambah memusingkan kalau ditarik ke kondisi Indonesia di mana tato masih saja diasosiasikan dengan preman dan orang-orang tak jelas masa depannya.

Faktanya adalah tato di kalangan remaja–khususnya Amerika dan Eropa, umumnya dunia–menjadi semakin wajar. 13 Reasons Why menampakkan dengan “raw” bagaimana kondisi remaja Amerika saat ini. Kalau kamu mengikuti perkembangan tren anak muda secara konsisten (baik lewat YouTube, tumblr, dan sebagainya)–meskipun umur terpaut jauh–memperoleh tato pertama di umur yang masih 15 tahun bahkan lebih muda semakin umum terjadi.

Satu detail kecil ini saya anggap menjadi perwakilan jaminan bahwa 13 Reasons Why memang berdedikasi untuk menampilkan realitas anak muda sekarang sejujur mungkin. Kejujuran representasi yang saat ini masih cukup tabu di sajian audio-visual yang berpusat di kehidupan remaja–di mana banyak tayangan yang melakukan modifikasi sana-sini demi kepentingan dramatisir dan eye-candy.

Di lain hal, muncul juga perdebatan yang menyebut bahwa 13 Reasons Why melakukan glorifikasi terhadap aksi bunuh diri.

Ini saya anggap sebagai sebuah simpulan dangkal nan bodoh. Produk ini (13 Reasons Why baik dalam bentuk buku maupun serial) hadir karena memang fakta ini benar-benar ada dan terus memakan korban tiap harinya. Harus ada langkah kongkrit untuk menampar masyarakat dan menyadarkan semua pihak tentang kondisi ini. Maka saya kira wajar ketika serial ini kemudian nekat menjadi sangat frontal bahkan di momen aksi tragis yang dilakukan oleh Hannah.

Kalau mau bermain perumpamaan, anggap “glorifikasi” yang dituduhkan adalah benar, apa iya serial ini menyiratkan demikian? Yang tertampil di layar justru sebaliknya. Sejak dari episode pertama hingga terakhir, bunuh diri hanya menghasilkan kesusahan-kesusahan lainnya. Efek domino yang ditampilkan menampakkan bahwa kalau Hannah tidak mengakhiri nyawanya, situasinya tidak akan sekacau ini.

Namun kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa tindakan Hannah ini adalah akumulasi tekanan mental yang diterimanya, yang dia sendiri sudah sangat sulit untuk menanganinya seorang diri. Mungkin akan ada lagi ungkapan lanjutan seperti: harusnya dia bisa lebih bijak dan mendekatkan diri kepada Tuhan dan semacamnya.

Dari penjelasan yang Hannah ungkapkan, dia sebenarnya sudah berusaha melakukan itu. Dia sadar betul bahwa dia butuh orang untuk curhat maupun orang yang mau menjadi penyokongnya.

Sayangnya, tindakan yang diupayakannya ini selalu terbentur sekat-sekat. Ada yang malah memanfaatkannya (taken for granted), ada yang tidak mau tahu, ada yang tidak tahu harus bersikap bagaimana, bahkan ada yang malah menjadikannya bahan lelucon.

Orang-orang yang “tidak hadir” sewaktu Hannah sangat membutuhkan kehadiran mereka ini selanjutnya baru tersadar setelah tragedi terjadi. Serial 13 Reasons Why berada di ceruk itu–bukan di glorifikasi bunuh diri, melainkan di upaya introspeksi semua pihak. Berhenti menyalahkan korban sebab kondisinya sudah terlanjur demikian.

Dan lagi, momen ketika Hannah mengakhiri nyawanya bukanlah momen yang membanggakan, sama sekali tidak.

Di mata saya ini adalah momen yang sangat menyakitkan dan tidak semestinya terjadi kalau setiap orang paham tentang implikasi tanggung jawab kehadirannya bagi orang lain. Saya ikut menangisi adegan ini sejadi-jadinya bukan karena saya membenarkan aksinya (apalagi menganggapnya heroik), melainkan saya membayangkan betapa banyak kesakitan yang harus ditanggung oleh Hannah seorang diri. Betapa remuknya perasaan orang tua dan orang-orang terdekatnya karena tidak lebih cepat menyadari “ketidakhadiran” mereka yang ternyata sangat berarti bagi orang lain.

Ya, 13 Reasons Why memang dipenuhi oleh fragmen-fragmen realitas yang sangat mungkin bisa menjadi trigger bagi penontonnya yang tidak siap maupun yang memang merasakan relasinya begitu dekat. Inilah yang kemudian membuat serial ini istimewa karena memungkinkan terjadinya ruang dialog dengan orang lain. Ruang dialog ini bisa terjadi dalam rupa pendampingan maupun upaya untuk menjadi lebih terbuka serta berusaha mengerti satu sama lain. Entah pendampingan itu dari teman, orang tua, maupun guru. Upaya yang semata-mata bertujuan preventif supaya tidak ada lagi korban yang jatuh karena ketidaktahuan “betapa berartinya kehadiran” mereka.

Jadilah ada untuk diri sendiri, jadilah ada untuk orang lain.

13 Reasons Why adalah serial pertama di 2017 yang saya ganjar rating 10 dari 10 bintang.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

Ralat formula skala 5: di gambar tertera "...)+2" yang benar adalah "...)+2,5"
(Visited 763 times, 4 visits today)

Comments

  • a thought by Muhammad Ardiansyah

    Bagus tulisannya..

    Btw, saya juga bingung kenapa banyak orang ngomong kalo serial ini justru menjadi inspirasi bunuh diri.. Padahal kita tahu sendiri, serial ini mencoba menjelaskan bahwa bunuh diri bukan solusi, banyak efek negatifnya bahkan kepada orang yang tidak terlibat secara langsung sekalipun..

    Reply

  • a thought by Catatan | “To the Bone”, “Atypical”, hingga “13 Reasons Why”: Puja Netflix dengan Segala Keberaniannya Melawan Tabu – Ngepop | your ultimate lunacy

    […] Kehadiran catatan berupa kompilasi bahasan ini sebenarnya memang disengaja. Terdapat benang merah yang terlalu kuat pun menarik untuk dirunut bersama ketimbang harus memecahnya ke dalam beberapa tulisan. Namun memang, sebelum ini saya sudah membuat tulisan terpisah berkaitan dengan 13 Reasons Why. Maka dari itu, anggap saja uraian 13 Reasons Why di sini sebagai suplemen atas tulisan terdahulu yang bisa dibaca di sini (KLIK). […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required