Review Film Indonesia | “Get Married (2007)” Aturan Main Menjadi Perempuan

Estimasi waktu baca: 2 menit

Kemarin saya menonton ulang Get Married (2007). Kebetulan filmnya sedang ditayangkan ulang di salah satu kanal TV. Saat masih SMP, saya sangat terhibur dengan film ini. Guyonannya segar dan konyol. Saya bahkan baru tahu bahwa Get Married merupakan film terlaris kedua pada tahun 2007.

Namun, saat saya sudah kuliah, pandangan saya terhadap Get Married berbeda.

Get Married menceritakan dinamika persahabatan dan pernikahan. Empat sekawan yang menganggur karena sama-sama kesulitan menggapai karier impian. Satu-satunya perempuan dalam gerombolan tersebut, Mae, dipaksa orangtuanya untuk segera menikah. Gegerlah kehidupan normal mereka yang sehari-hari berputar antara ngopi, merokok, main domino, dan nongkrong.

Film ini melibatkan sedikit unsur keluarga dan menyorotnya sebagai sumber kekacauan pertama.

Tentu saja saat orang tua Mae ingin menikahkan anaknya supaya Ia tidak menjadi tanggung jawab mereka lagi. Keinginan tersebut berbuah pada masalah lain–yang dituturkan secara komikal dalam film ini.

Oleh teman-temannya, Mae disarankan untuk ‘jual mahal’. Mae akan menilai setiap lelaki yang datang ke rumah dan memberi kode kepada teman-temannya melalui tempat jemuran. Di ujung kampung, teman-temannya siap mengintimidasi calon-calon suami Mae. Begitu terus.

Sampai suatu hari terjadi kesalahan saat menangkap kode. Tidak ada lagi laki-laki yang datang ke rumah, lalu Ibu Mae tiba-tiba masuk rumah sakit karena tertekan. Sebagai solusi atas masalah tersebut, teman-teman Mae ‘hompimpah’ untuk menentukan calon Mae diantara mereka bertiga.

Sebagai perempuan, saya kesal.

Entah sudah berapa kali saya justru tertawa sinis–bukan ngakak seperti sebelas tahun yang lalu. Mae justru menjadi objek yang seakan ‘dioper ke siapa pun yang mau’ di balik label pernikahan. Mae yang ‘jual mahal’ pada akhirnya harus menerima nasib ‘dijual murah’ oleh sahabatnya sendiri–melalui mekanisme murahan: hompimpah.

Dalam film ini, saya merasa didikte.

Seolah-olah perjuangan dalam kehidupan perempuan hanya ada pada saat Ia mengurus keluarga dan menikah. Bahkan saat berhadapan dengan pernikahan, perempuan harus mematuhi aturan masyarakat, “Kalau jual mahal nantinya tidak ada laki-laki yang mau.”

Pada akhir film, seolah-olah ditegaskan bahwa perempuan pasti bahagia dan merasa berkecukupan (tidak akan memiliki keinginan memperjuangkan hal lain-lain lagi) ketika sudah menikah.

Meski hati sudah panas, saya perlu mengingat bahwa film adalah potongan gambaran sosial budaya pada masa film tersebut dibuat.

Mungkin pada sebelas tahun yang lalu, posisi perempuan cenderung lemah. Masyarakat melihat perempuan seolah-olah tidak mengetahui keinginannya sendiri. Tidak pantas jual mahal dan mengenyam tingkat pendidikan tinggi karena ujung-ujungnya bakal mendekam di dalam rumah dan mengurus keluarga. Meskipun pada masa kini situasi sudah berubah, secara personal, saya berharap film ini tidak mempengaruhi pemikiran masyarakat luas dan menakut-nakuti perempuan di masa kini.

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 39 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required