Review Film | “Pacific Rim: Uprising (2018)” Lubang Narasi Di Mana-Mana

Estimasi waktu baca: 3 menit

Pacific Rim Uprising bercerita pada masa sepuluh tahun setelah bridge ditutup. Manusia berusaha mengembalikan kehidupannya di antara tulang belulang Kaiju. Masalah muncul sebab Kaiju menemukan celah untuk kembali ke bumi.

Jika keputusan menonton diambil karena ingin melihat Jaeger yang tampak gagah, itu keputusan baik.

Memang teknologi Jaeger yang digambarkan dalam Pacific Rim Uprising masih sama seperti dulu, bahkan lebih ekspresif. Gerak Jaeger lebih lincah, senjata yang digunakan lebih masuk akal (bukan kepalan tangan dan tembakan saja), dan warnanya lebih menarik. Jadi ada kesan setiap Jaeger memiliki karakternya sendiri.

Namun jika datang untuk menikmati jalan cerita filmnya, sebaiknya tanggalkan ekspektasi tinggimu.

Mulai dari urgensi pembuatan sekuel film saja, rasanya tidak ada. Film pertama sudah bercerita sampai tuntas, kok. Mungkin karena absennya urgensi, Pacific Rim Uprising mencoba unggul dalam berbagai aspek cerita; tapi justru lemah dimana-mana.

Ada rasa simpati yang berusaha dibangun teruntuk dua tokoh utama. Kalau masih ingat, di Pacific Rim (2013) kita bersimpati pada Raleigh Becket dan Mako Mori. Raleigh Becket adalah mantan ranger yang pernah memecahkan rekor dan mengendarai Jaeger sendirian dari tengah laut sampai ke bibir pantai. Sementara Mako Mori adalah kadet paling cerdas dan gesit yang memiliki trauma diserang Kaiju pada masa kecil. Sampai di sini, kita sepakat bahwa Raleigh dan Mako sudah menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi pilot Jaeger meskipun masa lalunya seram, ya.

Nah, di film sekuelnya, formula yang sama juga masih digunakan.

Ada mantan pilot yang berusaha dipekerjakan kembali, kuda hitam yang masa lalunya diungkit melulu, kenangan traumatis yang muncul ketika jembatan syaraf terjalin, dan orang-orang pintar yang menjadi juru penyelesaian masalah (masih ada Dr. Newton Geiszler dan Dr. Hermann Gottlieb, wuhu!)

Dalam Pacific Rim Uprising, dua tokoh utama, Jake Pentecost dan Amara Namani sama-sama memiliki masa kelam.

Jake Pentecost kurang kasih sayang ayahnya dan pernah dikeluarkan saat menjadi kadet karena terlibat baku hantam dengan Nate Lambert. Sedangkan Amara Namani adalah remaja yang hidup seorang diri karena seluruh keluarganya tewas terinjak Kaiju. Untuk menjaga diri dari Kaiju, Ia merakit Jaeger-satu-pilot secara independen.

Lalu tiba-tiba, suatu hal terjadi. Amara Namani direkrut sebagai kadet–calon pilot. Sementara Jake Pentecost diminta masuk kembali ke Pan-Pacific Defense Corps (PPDC) sebagai ranger, menjadi pilot Jaeger, dan mengajar kadet.

Ya ampun. Jake tidak pernah menuntaskan pendidikannya, dan Amara justru memiliki kemampuan sebagai teknisi Jaeger yang handal. Lalu mengapa mereka direkrut menjadi pilot Jaeger? Apakah supaya terdengar keren?

Di luar itu, masih ada lubang-lubang yang tidak diceritakan sampai tuntas dalam Pacific Rim Uprising. Sisi baiknya, film ini durasinya tidak sepanjang filmnya yang pertama. Berkurang hampir 30 menit. Namun kalau jadinya serba kurang dan banyak yang belum tuntas diceritakan macam ini, lebih baik tidak perlu mengurangi durasi. Sayang, loh, ide tentang kemunculan Kaiju itu sudah keren. It’s okay, take your time to tell the story.

Nb: Karena tampaknya mau dibuat Pacific Rim 3, kalau bisa, strategi pertarungan untuk melawan Kaiju dibuat lebih cerdas, dong. Jangan cuma, “Serang dengan seluruh kemampuan kalian!” Meh.

Rate: 2/5

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 57 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required