Review Film Indonesia | “Love for Sale (2018)” Ternyata Cinta Ada di Luar Zona Nyaman

Estimasi waktu baca: 3 menit

Love for Sale bercerita tentang Richard, seorang laki-laki pemilik sebuah percetakan tua. ‘Sendirian’ dan pemarah. Kesehariannya itu-itu saja: bangun tidur sambil garuk-garuk badan, memberi makan Kelun–kura-kura kesayangannya–lalu mengontrol kerja karyawan seharian, kemudian malamnya ketiduran saat menonton TV. Terkadang Ia menghabiskan malam dengan teman-temannya, nonton bola di suatu kafe.

Rutinitas yang terasa sepi–sangat terasa sepi bahkan meski saya hanya duduk sebagai penonton–ini terusik ketika Ia ditantang teman-temannya untuk membawa pasangan ke resepsi pernikahan. Yang lainnya taruhan pakai uang, khusus untuk Richard disuruh bayar pakai harga diri. Begitulah jalan ceritanya sampai Ia menemukan Love Inc. dan tinggal bersama Arini selama 45 hari.

Ide cerita film ini asyik, banget. Kesendirian, teknologi, media sosial, hubungan antarmanusia, cinta, dan zona nyaman.

Komponen yang merupakan bagian dari keseharian yang biasa-biasa saja, bisa diramu menjadi cerita tentang Richard dan hidupnya yang berubah setelah ‘memesan’ Arini. Arini sendiri adalah sosok yang benar-benar menghipnotis sepanjang film.

Mungkin muncul pertanyaan, “Loh dia menghipnotis penonton pakai apa? Kecantikan?” Bukan, dia pakai cinta. Serius.

Arini cantik, tetapi sebenarnya beberanian Arini untuk memberi cinta (yang banyak sekali) adalah kunci utama film ini.

Mungkin karakter Arini yang loveable mengingatkan kita pada Ruby Sparks (2012). Lalu gaya berpakaian Richard juga membuat kita teringat pada Her (2013). Namun, Love for Sale (2018) tetap berbeda. Ia punya inti cerita sendiri: menerima dan memberi cinta itu soal menantang zona nyaman juga.

Tidak mengherankan film ini ditujukan untuk usia 21 ke atas. Selain adegan intimnya, batasan ini memang perlu berlaku untuk memahami arah Love for Sale. Alasan di balik karakter, perjalanan hubungan cinta, dan pengambilan keputusan Richard memang hanya bisa dipahami jika usia sudah cukup matang.

Perlu usia yang cukup untuk memahami sebuah kesepian.

Apalagi film ini membawa ide tentang ‘kesepian yang tidak terasa adalah kesepian yang paling menghancurkan’ dan ‘ada tipe kesepian yang tidak serta merta tuntas ketika menghabiskan waktu bersama teman’.

Oh, bahkan di akhir film ini, mulai terasa bahwa masalah utama yang diangkat film ini sebenarnya bukan ‘kesepian’, tetapi ‘keberanian mengambil resiko’. Bukankah perlu sebuah kedewasaan (yang secara instan diukur dengan usia) untuk memahaminya?

Love for Sale ini selain ide ceritanya mantap, visualnya juga. Sebelah mana sih visual yang mengecewakan penonton? Sepertinya tidak ada. Pengambilan gambar yang membawa kita merasakan emosi cerita dan penataan properti di lokasi yang terasa alami. Gantungan dinding, barang-barang di rumah, detail sampah kertas di percetakan, bentuk berantakan sebuah percetakan tua… astaga. Kalau itu semua merupakan hasil riset, saya perlu kasih applause tambahan karena risetnya jago banget.

Belum ditambah dengan pilihan pakaian untuk tokoh-tokohnya yang begitu tepat karena menyesuaikan karakter. Pas gitu. Bahkan pemilihan pakaian ini juga mengikuti pengembangan karakter seiring cerita berjalan. Poin ini bisa diperhatikan dari pakaian Richard. Konsistensi mereka dalam menghadirkan visual yang sedap ini membuat saya tidak mau memalingkan mata meski hanya untuk melihat jam di layar hp selama dua detik.

Love for Sale tidak memproduksi original soundtrack. Namun tidak masalah. Lagu yang dipilih untuk diputar sepanjang film benar-benar sudah cukup. Cukup untuk membuat saya senyum-senyum sendiri karena memahami kesepian Richard dan makna di baliknya.

Sayang, saya kurang nyaman dengan akhir film ini.

Meskipun saya paham alasan dibalik keputusan Richard, saya merasa ada ‘satu paragraf yang hilang’. Seandainya ada, mungkin jalan pikiran Richard–hingga bisa sampai pada kesimpulan di akhir film–bisa lebih mudah dipahami. Namun kalau memang sengaja dibuat seperti itu supaya penonton menduga-duga (karena film ini disasarkan untuk penonton yang sudah cukup dewasa), tidak masalah.

Kalau ada uang, saya ingin menikmati keseluruhan film ini sekali lagi.

Film ini mendapatkan 9/10.

Author: Hanifa Eka Ramadhyani

(Visited 217 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required