Bagaimana The Academy Awards Memilih Pemenang Best Picture? Pelajari Sistem Pemilihan Best Picture Oscars! (Penjelasan Lengkap tentang Preferential Ballot)

Estimasi waktu baca: 4 menit

Tulisan ini sudah selesai ditulis sejak penyelenggaraan Oscars 2017 selesai tahun lalu. Namun, karena satu dan lain hal, saya menunda untuk mengunggahnya. Kini, pembahasan ini sudah bisa dibaca di Ngepopcom, di hari yang sama dengan perayaan The Academy Awards ke-90. Happy Oscars Day!


The Academy Awards atau Oscars menganut sistem preferential ballot. Sistem ini berbeda dengan sistem voting multi-pilihan yang umum kita tahu. Pada kasus Oscars, terutama dengan adanya lebih dari lima nomine Best Picture, pemilik jumlah suara terbanyak di perhitungan awal tidak bisa langsung menang. Kecuali, perolehannya langsung tembus 50% dari total kertas suara yang terpakai.

Gambarannya seperti ini: Oscars 2017 memiliki sembilan nomine Best Picture. Setelah daftar nomine terungkap, The Academy mempersilakan anggotanya yang berjumlah lebih dari 6000 orang untuk memilih dengan sistem urutan.

Seluruh anggota akan menuliskan judul film yang jadi preferensi utama, sampai preferensi terakhir (misalnya di penyelenggaraan 2017, berarti juri membuat urutan #1 hingga #9). Namun, bukan berarti urutan ini mutlak ditulis lengkap sembilan-sembilannya, bisa saja ada anggota yang cuma menulis satu. Akan tetapi, opsi ini nantinya punya konsekuensi lain.

Secara kasaran, katakanlah suatu film bisa menang kalau dipilih oleh minimal 3000-an anggota The Academy, alias memenuhi ambang minimal 50% (ini kalau kertas suara yang kembali berjumlah 6000 lembar).

Kertas voting kemudian diterima oleh PwC, lembaga akuntan yang sudah bekerja untuk 83 kali penyelenggaraan Oscars (terhitung sampai 2017), untuk direkap.

Tugas pertama, PwC mengurutkan kertas berdasarkan preferensi #1. Dari situ, akan terlihat film mana yang dapat votes terbanyak dan yang paling sedikit.

Sistem Preferential Ballot ini bakal mengeliminasi film yang dapat vote urutan #1 paling sedikit. Akan tetapi, kertas suara mereka tidak akan hangus begitu saja.

Misalnya, Lion-lah yang dapat suara paling sedikit di pengguguran tahap pertama, kertas suara yang menempatkan Lion di #1 ini akan didistribusikan lagi berdasarkan urutan berikutnya, yaitu preferensi vote #2.

Langkah eliminasi dan distribusi berdasarkan “prioritas” ini terus diulang sampai PwC menemukan satu judul film yang memperoleh suara lebih dari 50%.

Dengan sistem ini, apakah ada cara supaya film favorit kita menang?

Jawaban singkatnya: untuk film apa pun yang jadi nomine, formula pemenangannya tidak segampang itu diatur. Kecuali mayoritas juri punya preferensi “teratas” yang sama. Artinya, film favorit kita juga jadi yang difavoritkan oleh mayoritas anggota The Academy.

Untuk memperoleh rekognisi luas, suatu film kandidat bisa didorong dengan melakukan pemaksimalan kampanye: kenapa voters harus memilih film ini; baik melalui buzz media sosial, kemenangan di awards lain, iklan, pemberitaan, dan cara lainnya.

Kampanye tersebut bisa efektif, bisa juga tidak.

Untuk 2017, terbukti bahwa kampanye dengan membawa isu “film yang penting” efektif melesatkan Moonlight dan menggeser La La Land.

Namun perlu diingat, kampanye ini tidak boleh dilakukan secara privat (dari individu ke individu alias antaranggota The Academy), ini dilarang oleh The Academy dan bisa menggugurkan penominasiannya atau terkena sanksi khusus.

Di aspek lain, sulitnya melakukan konsolidasi calon pemenang ini juga bisa ditilik dari sisi voting-nya. Untuk voting, anggap saja ada anggota yang sengaja menaruh Moonlight di urutan pertama dan La La Land di urutan terakhir (supaya tidak jadi saingan berat); urutan pribadi bahwa La La Land ada di nomor buncit ini tidak akan terlalu berpengaruh. Kenapa?

Pertama, kertas voting disortir berdasarkan urutan teratas, alias berdasarkan daftar yang belum tereliminasi.

Kedua, kemungkinan besar kertas suara yang sudah tersortir akan terus berada di tumpukan Moonlight dan tidak akan berpindah, baik karena banyak dipilih (menempatkannya di urutan teratas) atau karena semakin tertimbun limpahan kertas voting dari juri lain yang meletakkan Moonlight di opsi #2 atau #3.

Jadi jelas di sini, sistem ini cukup rumit untuk diakali karena variabel yang terlibat terlalu banyak. Belum lagi jumlah voters-nya bisa dibilang masif dan mereka punya urutan preferensi sendiri-sendiri.

Dengan kondisi yang bisa sangat fluktuatif, sekaligus demi mencegah kemenangan yang “kurang layak”, itulah mengapa voters perlu memilih urutan dengan “selayak” mungkin.

Nah, di awal saya sempat menyebut: kenapa pemenangnya tidak langsung diberikan kepada pemilik suara terbanyak di hasil penyortiran tahap pertama?

Skenario ini bisa diterapkan kalau jumlah kontestannya hanya dua atau tiga, lima-lah paling banyak.

Karena dengan jumlah nomine yang semakin sedikit, kemungkinan sebuah film untuk membukukan perolehan suara di atas 50% semakin terbuka lebar.

Bayangkan jika jumlah nominenya delapan, sembilan, atau sepuluh?

Kalau perhitungan voting-nya cuma berdasarkan pilihan satu opsi dan bukannya urutan preferensi, bisa-bisa nanti film pemenang cuma didukung 15% sampai 20% suara. Tentu ini tidak adil, kurang proporsional, dan tidak representatif.

Dengan model Preferential Ballot, masalah tersebut bisa diatasi.

Perumpamaannya seperti Pemilu Presiden atau Pilkada DKI di Indonesia. Kalau jumlah kandidat lebih dari dua, ada potensi terjadi putaran kedua apabila di putaran pertama tidak ada kandidat yang menembus 50% perolehan suaranya.

Eliminasi dan distribusi ulang kertas suara preferential ballot ini gambarannya seperti itu. Bedanya, urutan prioritas untuk “pemilu” di putaran kedua dan seterusnya sudah juri tentukan sejak awal. Sehingga, voters The Academy tidak perlu lagi melaksanakan pemilihan ulang.

Itulah kisah perjalanan panjang sebuah sistem bernama preferential ballot yang digunakan di Oscars.

Sekarang, sudah paham, kan, kenapa Moonlight bisa menang?

Film ini mungkin tidak banyak diletakkan di pilihan #1, tapi sangat mungkin banyak ditaruh di urutan #2 atau #3 di kertas suara. Moonlight sangat mungkin diuntungkan karena langsung dapat limpahan suara dari mereka yang film #1-nya sudah tereliminasi lebih awal.

Author: aef anas

Kecanduan menulis, menonton, dan karya-karya Christopher Nolan.

Nomine “Kritik Film Terpilih” Piala Maya 2016.

(Visited 62 times, 1 visits today)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required